
Lyodra sedang duduk disamping Ferdinand. Melihat Loli berjalan menghampiri mereka, semua mata berbinar senang melihat kemajuan Loli.
"Sayang.. Kenapa keluar. Lebih baik kau beristirahat saja dikamar."
"Aku sudah membaik bu... aku rindu berbincang dengan kalian semua."
Loli tersenyum melihat anggota keluarganya duduk bersama kediaman nya dan Marcho.
"Hmm sayang, besok kami akan tinggal dirumah Ferdinand. Karna kau telah sembuh. Kita akan mempersiapkan pernikahan Juliana dan Ferdinand."
Eleanor membelai rambut Loli yang duduk disampingnya. Kecemasan Eleanor pudar melihat kondisi Loli yang audah segar kembali.
"Aku akan tinggal dirumah kakek. Disini sepi sekali saat Marc bekerja ibu. Apakah boleh?"
"Tentu saja sayang... ada banyak kamar disana. Besok kita akan kesana...
Apakah kau sudah bertemu dengan Lyodra? Dia saudara ayah mertua mu."
Ferdinand memperkenalkan Lyodra yang dari ditatap Loli. Wanita itu tersenyum melihat ternyata Marcho mempunyai seorang bibi yang cantik.
"Bukankah ia dokter yang kita temui beberapa waktu yang lalu?"
Loli mengingat pertemuannya yang tak sengaja menabrak Lyodra saat dirumah sakit.
"Hai Loli... aku senang berjumpa dengan mu. Semoga kedepannya kau benar benar pulih. Tidak sakit lagi."
Lyodra menyapa dengan sebuah senyuman manis dibibirnya.
"Semoga saja... senang berkenalan dengan mu Lyodra."
"Sebaiknya kita tidur... aku benar benar lelah..."
Steven berdiri dan memberi kode pada Eleanor agar mengikutinya.
__ADS_1
"Ya sebaiknya kita tidur.."
Mereka masuk kekamar masing masing. Berbeda dengan Eleanor yang duduk bersama Juliana.
"Lian... tadi aku melihat ada yang mengintai rumah ini. Apakah itu orang orang Mayana?"
"Besok pagi sekali kita akan meninggalkan tempat ini. Rumah ini begitu dekat dengan bukit itu."
Eleanor menghela nafasnya dan melepaskanya kasar. Ia berharap semoga setelah ini tak ada lagi masalah dikeluarga mereka.
"Ada apa Eli? Kau keliatan cemas." Juliana menangkap kegusaran Eleanor.
"Aku mencemaskan Loli dan kehamilan nya. Dan tentang suku Mayana itu."
Juliana berdiri didepan jendela yang masih belum tertutup kain. Ia menangkap gelagat aneh dari seseorang.
Perlahan ia mematikan lampu. Memberi kode hening pada Eleanor.
"Ada apa?" Eleanor berbisik hampir tak terdengar.
"Waspada Lian..."
Juliana mengangguk. Ia memperhatikan dua orang yang mulai mendekati rumah itu setelah lampu dipadamkan Juliana. Mereka mengira jika penghuni didalam nya sudah tidur.
Apa yang mereka intai? Mungkin kah mereka utusan suku Mayana? Aku takan tinggal diam
Eleanor berjalan kedepan pintu. Ia membuka pintu. Bersikap seolah olah tak melihat dua orang itu. Juliana terkejut ketika melihat Eleanor sengaja keluar rumah memancing keduanya.
"Lian... ayo keluar.. didalam sangat panas."
Mendengar namanya dipanggil Juliana perlahan berjalan keluar. Ia mengikuti permainan Eleanor.
"Sebentar.. pemanas ruangan ini disetel terlalu tinggi. Aku temani kau duduk ditaman."
__ADS_1
Ia sedikit berteriak agar kedua pengintai itu termakan umpan mereka.
Kedua wanita itu berjalan kearah bangku ditaman samping rumah Marcho.
"Semoga saja... tak ada yang terbangun dengan teriakan ku tadi."
Juliana terkekeh geli sendiri. Ia merasa sedang bermain petak umpet di tengah malam gelap.
Baru saja mereka bersantai duduk disebuah kursi. Kedua orang Mayana menyerang mereka dari belakang Eleanor.
Juliana melihat itu langsung menarik Eleanor untuk menghindar. Sehingga senjata mereka tak mengenai sasaran.
"Siapa kalian?"
"Kami utusan Maku, putra mahkota suku Mayana."
"Ada apa kalian datang mengintai kediaman kami?"
"Kami hanya menyampaikan pesan. Jika petinggi Mayana, Mayoru mengundang kalian untuk membahas tentang hukuman yang akan diberikan kepada pembunuh putri Ishi."
Wanita itu saling memandang. Melihat kedua pengintai tadi bicara baik baik dan tak lagi menyerangnya. Ia merasa jika hal ini bisa dibicarakan. Diselesaikan secara kekeluargaan.
"Baiklah... dimana kami bisa menemui petinggi kalian."
"Besok pukul dua siang kami akan datang menjemput kalian. Bersiap siap lah."
Kedua pengintai itu pergi melangkah masuk kedalam hutan yang gulita.
"Kita harus membicarakan hal ini..."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung