SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
19. Sesuatu mengejar Ares


__ADS_3

"Dad... Kenapa kakek buyut tiba tiba begini. Padahal tadi pagi aku masih melihat nya sehat. Apa sudah terjadi sesuatu.?" Tanya Ares pada Marcho.


Marcho menatap lurus kearah Ares. Ia mengangguk pelan, tetapi ragu untuk mengatakan pada Ares.


"Nanti saja dirumah." Jawab Marcho yang membuat Ares semakin penasaran.


"Mungkin pagi ini bibi Lyo takan kembali kerumah sakit. Dia terlihat sangat terpukul dengan kepergian kakek buyut."


Ares memperhatikan Lyodra dan Juliana dan Eleanor berjalan bertiga mengiringi peti Ferdinand. Lyodra dan Juliana tak berhenti menangis.


Ares melihat Rubi dan Danny dipemakaman. Mereka menghampiri nya.


"Kami turut berduka atas kepergian kakek buyut mu Ares." Kata Danny menepuk pundak Ares beberapa kali.


"Terimakasih kalian sudah datang." Sambut Ares.


Rubi langsung menggandeng tangannya. Memberikan kekuatan pada Kekasihnya.


Pemakaman telah selesai. Tapi Lyodra dan Juliana masih setia berdiri disana.


Tamu yang menghadiri pemakaman telah meninggalkan tempat itu.


Dari kejauahan Ares seperti mendengar suara auman srigala. Bulu kuduk nya berdiri. Suara yang begitu menyayat hati. Sekelompok srigala ikut menyaksikan pemakaman Ferdinand.


Entah bayangan atau nyata, secara samar ia melihat seekor srigala yang berbulu kemerahan berlari kencang kearah pemakaman Ferdinand.


"Kalian semua awas....!!" Teriak Ares.


Ia bahkan menarik tangan Rubi untuk berlari. Lyodra dan yang lain bingung melihat Ares yang seperti sedang dikejar sesuatu.


Bahkan Rubi berteriak minta dilepaskan. Setelah tangan mereka berhasil lepas. Rubi berdiri melihat tingkah Ares.


"Eleanor... Ada apa dengan Ares?" Tanya Steven mendekati istrinya.


"Apa yang telah ia lihat?" sambung Marcho.


"Ada sesuatu yang mengejarnya... "Juliana terlihat tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum Mommy?" Tanya Lyodra merasa aneh menatap Juliana.

__ADS_1


"Kau akan tau nanti." Jawab Juliana lagi.


Ares berputar putar berlari diarea pemakaman. Ia bahkan terjatuh berulang kali.


"Admiral... Berhenti berlari! Dan Pejamkan matamu."


Terdengar suara dari hatinya sendiri. Ia merasa bingung. Namun tetap mendengarkan suara itu. Seketika Ares berhenti, mengembangkan tangannya, dan memejamkan kedua matanya.


Sesuatu terasa merasuki tubuhnya. Ia berteriak sangat keras. Da setelah bayangan itu tak nampak lagi. Ares terjatuh, dan langsung disambut oleh Danny.


"Ares! Bangunlah... Apa yang terjadi padamu.?"


Saat Ares tiba tiba berdiri Danny dengan cepat mengejarnya. Ia sudah memprediksi jika Ares akan terjatuh lagi.


Seluruh keluarga saat ini mendekati Ares yang nampak Pingsan. Mereka membawa kembali kerumah.


"Ferdinand memang telah tiada, tapi srigala nya tidak. Dia telah menyatu dengan Ares." Gumam Juliana.


"Ternyata ini arti mimpi ayah, dia sempat cerita padaku. Sesuatu dalam dirinya yang takan pernah mati. Walaupun jasadnya telah menyatu dengan tanah." Tambah Steven.


Mereka tiba dikediaman Tores. Danny dan Marcho membawa Ares kekamarnya. Setelah membersihkan tubuh dan pakaian Ares. Marcho menunggui putranya dikamar.


"Terimakasih kalian sudah menolong Ares." Basa basi Eleanor.


Danny dan Rubi menyahuti dengan anggukan kecil dengan senyumannya. Mereka tak terlalu mengenal wanita cantik yang menyapa nya.


"Sayang.... Apa Ares masih belum sadar?"


Tanya Eleanor yang melihat Marcho turun dari kamar Ares. Ia kemudian duduk disofa dekat Danny.


"Dia masih belum sadar bu... Aku sangat penasaran, apa yang ia lihat."


Marcho menyesap teh yang diletakan Eleanor.


Ibu? Jadi... Wanita cantik ini Grandma nya Ares. Luar biasa. Mereka terlihat sebaya disini.


Batin Rubi.


"Dimana ayah? Aku harus memeriksa sesuatu dengan nya..."

__ADS_1


Marcho mencari keberadaan Steven. Ia sangat penasaran dengan perkataan Steven saat dipemakaman tadi. Mengenai perkataan kakeknya.


"Ayah mu masih dikamar. Ia masih terguncang pasca kepergian Ferdinand." Jawab Eleanor yang juga duduk disisi putranya.


"Sekarang kakek sudah menemani istriku. Loli tak kesepian sekarang."


Marcho menerawang melihat kelangit langit rumah. Ia tak kuasa membendung air matanya. Tanpa sengaja butiran bening itu jatuh kebawah.


Dengan senyuman ia menyeka dengan tangan. Ia kembali termenung menatap jauh kedepan. Dan sekarang putranya, entah apa yang telah terjadi. Ia tak paham.


"Kalian sama seperti kami...."


Ucapan Juliana yang tiba tiba datang lansung mengarah pada Rubi dan Danny. Mereka terlihat bingung.


"Siapa namamu sayang?" Tanya Eleanor melihat sosok Rubi.


"Aku Gemma nya Ares... Panggil juga begitu. Karna Ares memanggil Grandma dengan Gemma. Hingga ia terbiasa hingga dewasa."


Tambah Eleanor menjelaskan siapa dirinya pada kedua tamu mereka. Danny ikut tersenyum mendengar perkenalan Eleanor.


"Aku Rubi Gemma... Rubi Blossom. Dan ini kembaran ku Danny Samuel Blossom." Kata Rubi malu malu.


"Rubi kekasih Ares bu..."


Tambah Marcho dengan tersenyum menggoda wanita muda didepannya. Rubi memerah dan ia tersipu malu.


"Rubi... Kau sama seperti ku..." Kata Juliana yang masih ingin melanjutkan perkataannya tadi.


"Dan Danny ia sama seperti kalian..." Lanjut Juliana lagi.


"Apa maksud anda Nyonya??"


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2