
Seperti biasanya ia pulang lebih awal untuk menjemput bibinya Lyodra. Dan alasan itu ia jadikan momen untuk bisa bertemu dengan Rubi lagi.
"Bibi .. apakah kau masih lama?"
Ares mendesak bibinya agar memanggil Rubi memberikan pekerjaan atau apa itu. Agar ia bisa bertemu lagi dengan Rubi.
"Ares .. pekerjaan ku masih banyak" jawab Lyodra dengan berkas ditangannya.
"Baiklah... Aku akan berusaha sendiri." Tegas Ares penuh semangat.
"Memang seharusnya .." imbuh Lyodra santai.
"Aku takan menyerah..." Ares memperlihatkan semangatnya.
"Ruangannya 3 ruang dari sini"..
Namun Lyodra masih memberikan petunjuk keberadaan Rubi padanya. Ares langsung berjalan keluar setelah memberikan kecupan hangat pada kening Lyodra.
Ia berjalan keluar dengan senyuman tampan itu. Ia menghitung ruangan Rubi. Dan berdiri didepan pintu ruangan Rubi.
Bersamaan saat Ares mengetuk pintu, Rubi membuka pintunya. Pandangan mereka bertemu.
"Dokter Rubi..." Sapa Ares dengan mata yang berbinar bahagia.
"Tuan Ares... Ada yang bisa saya bantu?"
Tanya Rubi berjalan keluar dan menutup pintu ruangannya.
"Ya..."
__ADS_1
Ares berjalan disamping Rubi. Nampaknya ia sedang buru buru. Ares takan melewatkan kesempatan ini.
"Ada apa?"
Tanya Rubi penasaran, karna Ares terlihat sehat sehat saja. Ia masih berjalan menuju ruangan operasi.
"Kau akan operasi kali ini?"
Tanya Ares yang merasa telah mengganggu jam kerja Rubi. Tapi ia berusaha untuk secepat mungkin mengutarakan maksudnya.
"Benar... Ada yang bisa saya bantu Tuan Ares?"
Rubi kembali mengulangi pertanyaan nya, ia berhenti tepat didepan pintu ruangan operasi. Ia menatap pria tampan didepannya yang selalu memberikan senyuman.
"Dokter Rubi... Maaf aku telah mengganggu mu. Tapi .. aku ingin mengenal mu lebih jauh lagi. Jadi... Selesaikanlah pekerjaanmu.. aku akan menunggu"
Ares melihat Rubi yang sedikit gugup. Tapi ia menutupi rasa gugupnya dengan senyuman cantiknya. Dan itu semakin mempesona bagi Ares.
"Hhmmmm ... Baiklah... Saya akan masuk sekarang"
Rubi meninggalkan Ares dengan senyuman yang semakin membuatnya tergila gila. Dia menatap hingga pintu tertutup rapat.
Ares menghela nafasnya dan memegang dadanya yang masih berdetak kencang. Ia berjalan pelan kearah Lyodra.
Ya Tuhan .. itu sangat indah..
Bahkan dia tidak marah atau curiga. Dan wajah tersipu itu ... Hmmm... Aku akan mendapatkan hatimu Rubi.
Disisi lain, Rubi masih berdiri didepan pintu, ia seakan terpaku dengan memegang dadanya dan menghela nafas berulang kali, untuk menetralisir kan dirinya.
__ADS_1
Ia pun tak sabar untuk segera menyelesaikan operasi ini dengan sebaik baiknya. Agar bisa mendengar langsung dari bibir Ares.
Memang sebelumnya Lyodra sempat bercerita bahwa Ares telah lama mencarinya, ia sangat mendambakan sosok Rubi untuk jadi istrinya.
Wajah cantik Rubi memerah seperti kepiting rebus. Ia tak tau harus berkata apa pada Lyodra setelah mendengar ucapan dokter seniornya.
Jadi apa dia akan langsung melamar ku?
Bagaimana dengan... Juan? Dia pasti akan sangat murka jika mengetahui ini.
Dan aku harus memiliki pasangan yang sama seperti kami... Namun semua bisa berubah jika aku jatuh cinta pada Ares...
Rubi kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda untuk nya menerima kenyataan.
Lyodra terkejut melihat Ares datang lagi, namun wajahnya sedikit berbeda, ada aura kebahagian dimatanya.
"Sayang... Apa kau langsung mengajaknya menikah?" Tanya Lyodra penasaran.
"Bibi... Aku bahkan belum melamarnya. Karna dia sedang ada jadwal operasi dijam ini." Jelas Ares.
"Oow.. benarkah? Maaf sayang bibi mu lupa tentang jadwal operasi Rubi." Kilah Lyodra.
"Tak apa bibi.. aku sudah memberikan sesuatu yang sudah membuatnya tersipu. Kuharap pekerjaan nya baik dalam langkah operasi."
Ares terkekeh saat membayangkan Rubi yang tersipu malu dengan wajah memerah. Ia oun menundukan pandangannya. Dan melirik Ares dari sudut matanya.
.
.
__ADS_1
.