SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
2. Sedikit Celah


__ADS_3

Udara musim salju mulai terasa beberapa hari ini. Tak luput dikediaman Tores. Suasana pagi yang bagi keluarga lain telah terjadi kehebohan. Namun berbeda disini, karna hanya beberapa orang yang tinggal dirumah ini.


"Sayang... Bibi sudah buatkan sarapan untuk mu.." Lyodra menyapa Ares saat turun dari kamar nya dilantai 2.


"Ya .. aku akan makan apapun yang bibi masak..." Ares memberikan kecupan selamat pagi dipipi Lyodra.


"Dimana Grandma dan Grandpa..? Apa mereka tidak ikut sarapan?" Ares melihat kearah kamar Eleanor dan Steven.


"Pagi ini.. hanya kita berdua... Mereka pergi ke gunung Rosten. Melihat keadaan Marcho. Mungkin akan menginap Disana."


Jelas Lyodra yang sedang melumuri roti gandum dengan selai kacang favorit Ares.


"Hanya kita berdua... Aku dan bibi..


Selalu begitu .."


Ares tersenyum kecut memalingkan wajahnya. Ia merasa kesepian. Dan keluarga ini tak lagi hangat semenjak kepergian Loli Ohara.


"Apa kau marah?" Lyodra meletakan potongan Roti kepiring Ares.


"Hanya kecewa... Kehangatan keluarga ku pergi bersama Mommy..."


Ia tetap menelan sarapan paginya. Lyodra menatap sendu pada wajah Ares yang sebenarnya adalah cucu baginya.


"Ares... Disini masih ada aku bibi mu. Kau jangan berkata seperti itu.. pahami lah keadaan keluarga kita sayang .. beri mereka waktu.. semua pasti akan kembali seperti semula..."


Lyodra mencoba memberikan sedikit pengertian untuk Ares agar ia sedikit merasa tenang.


"Kau benar bibi... Aku harus bisa memahami.. lantas... Siapa yang akan memahami ku?"


Ares berkaca kaca memandang Lyodra. Wanita yang masih cantik itu tak bisa lagi berkata kata.

__ADS_1


Ia berdiri lalu membawa Area kepelukan nya. Air mata nya juga ikut menetes. Mengingat kesedihan yang begitu lama ditinggalkan Loli semenjak kepergiannya.


"Bibi.. carikan aku calon istri..."


Lyodra terkejut saat mendengar ucapan Ares yang tiba tiba. Ia melihat wajah Ares dan mengecup keningnya. Lalu berjalan kembali keseberang meja untuk duduk menyantap sarapannya.


"Untuk apa?" Tanya Lyodra heran.


"Untuk ku jadikan istri... Ia bernama Rubi."


Jelas Ares yang sudah putus asa mencari keberadaan Rubi selama beberapa tahun ini.


"Rubi? Hmmmm" Lyodra nampak berpikir sejenak.


"Ya... Apa bibi mengenalnya?" Ares sangat antusias.


"Mungkin... Tapi aku tak yakin jika Rubi mu adalah Rubi yang sama dengan Rubi yang ku kenal."


"Dimana bibi mengenalnya?" Ares menatap Lyodra serius menunggu jawabannya.


"Ditempat ku bekerja."


Hmmm .. jadi ia bekerja dirumah sakit. Baiklah... Aku akan mengunjungi nya disana.


"Kenapa?" Tanya Lyodra lagi melihat Ares yang tersenyum senyum sendiri.


Baru saja pemuda itu terlihat sedih, tapi sekarang ekspresinya langsung berubah terlihat lebih bersemangat.


"Datang lah... Jika kau sempat sayang.."


Lyodra mengerti dengan arti senyuman Ares. Dan ia membuka jalan untuk melihat sendiri Rubi yang dimaksud Ares.

__ADS_1


"Sejak kapan ia bekerja disana ?" Ares semakin penasaran.


"Sudah dua tahun yang lalu... Mungkin lebih."


Lyodra membereskan alat sarapan pagi mereka. Kemudian ia meninggalkan Ares yang masih terlihat sumringah duduk didepan meja makan.


"Apa kau tak bekerja hari ini?"


Ares terkejut saat Lyodra memegang pundak nya. Ia langsung berdiri dan memeluk Lyodra.


"Kau memang yang terbaik.


Bibi terima kasih...


Aku akan mampir ketempat mu... Segera."


Ares berjalan menaiki tangga dengan setengah berlari mengambil jas dan tas kerjanya.


"Apa bibi mau aku antar?" Basa basi Ares.


"Tentu saja .. bukankah kau tau mobil ku sudah tiga hari tak bersamaku?" Lyodra mencubit pipi Ares gemas.


"Maafkan aku .. sayangku... Aku sangat lupa."


Ares merangkul pundak Lyodra sambil terkekeh, lalu berjalan keluar menuju mobilnya.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2