
"Sayaang... aku akan menyelesaikan ini. Cukup bermain mainnya."
Marcho mengangkat tubuh Loli keatas ranjang. Ia mencumbui istrinya.
"Apa sebaiknya kita mandi dulu sayang... aroma obat ini sangat tak enak.."
Marcho mengernyitkan dahinya bicara pada Loli setelah mengecup leher Loli yang penuh teroles dengan obat Juliana.
"Langsung pada intinya saja Marc... aku sudah tak tahan lagi.."
"Tanpa cumbuan?"
"Jangan banyak bertanya sayang.."
Marcho terkekeh dengan tingkah konyol istrinya yang sejak tadi bicara terus terang pada Marcho. Ia pun menjadi malu sendiri.
Marcho menancapkan senjatanya kebagian Loli. Dan memompa nya secara lembut. Ia merasakan denyutan irama pada senjatanya.
"Marc... lebih cepat..."
Loli akan mendapatkan pelepasan nya. Marcho mempercepat temponya. Kini ia pun mendekati akhir babak permainan mereka. Dan sesuatu yang panas terasa tumpah secara bersamaan.
Marcho menatap Loli yang nampak puas. Ia segera berdiri dan berjalan kekamar mandi.
Apakah benar itu tadi istriku? Ia bahkan lebih mendesak dariku. Heheh.. tingkah wanita hamil memang aneh...
Marcho menggelengkan kepalanya dan berjalan kearah kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang aku juga mau membersihkan tubuhku."
Loli membuka pintu kamar mandi dari dalam, terlihat ia sedang memakai shampoo dikepalanya.
Mereka membersihkan diri masing masing. Tanpa berhasrat ingin mengulangi permainan singkat mereka.
"Sayang... maafkan aku."
Loli menoleh pada Marcho yang sedang berpakaian. Ia melanjutkan mengeringkan rambutnya.
"Maaf untuk apa?"
"Sesi percintaan kita dengan durasi yang sangat singkat. Aku tau kau belum terpuaskan."
Loli menatap Marcho yang sudah selesai berpakaian. Ia mendekati suami nya mengalungkan kedua tangannya keleher Marcho.
Marcho memeluk pinggang Loli. Ia mengecup bibir manis Loli. Dan mengecup keningnya.
"Tapi sayang..."
"Marc... sudahlah... aku menyukai nya. Jangan bahas ini lagi. Ayo keluar.. aku rindu berbincang dengan mereka semua."
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
"Ayah.. kita harus membalas kematian adikku. Jangan biarkan mereka hidup tenang"
Disebuah gubuk yang jauh ditengah hutan seorang pria paruh baya mengisap sebuah cerutu. Ia merenung mendengarkan ucapan seorang pemuda yang memanggilnya ayah.
__ADS_1
"Kau lihat sendiri Maku.. beberapa orang diantara kita mati terbakar secara mengganaskan."
Pemuda yang dipanggil Maku oleh kepala suku Mayana yang bernama Maroyu itu. Keliatan berdesis kesal akan tingkah ayahnya.
"Tapi ayah... Ishi mati ditangan mereka. Bukankah dia darah daging mu?"
"Kematian seorang Ishi akan membunuh seluruh kamu Mayana. Kau tau Maku? Aku tak ingin mengorbankan lebih banyak orang lagi. Perlu kau ingat.. adik nyo Ishi takan kembali lagi, bahkan kau menghabisi seluruh keluarga Srigala itu."
Maroyu beranjak meninggalkan tahtanya. Ia berjalan masuk kesebuah gubuk diduga itu adalah ruangan pribadinya.
Sialan... dasar lelaki tua keparat tak berguna. Seharus nya kau yang harus mati ayah. Buka Ishi. Jika kau mampu merelakan kepergian adikku yang sedang mengandung benih ku. Berbeda dengan ku, aku akan menghabisi seluruh keluarga itu. aku belum puas sebelum melihat mereka semua mati. Ini sumpah ku Ishi....
Maku mengumpulkan orang orang kepercayaan nya. Yang mau berperang bersama untuk membalaskan kematian anggota keluarga mereka yang dibakar oleh Eleanor dan Ishi yang dibunuh Marcho.
Dia menyuruh dua orang diantaranya mencari tau keberadaan keluarga srigala itu. Dan secepatnya menyerang mereka tanpa ampun.
Dia tak mencerna ucapan ayah nya Maroyu. Puluhan ular phyton besar tak sanggup melawan beberapa orang saja. Maroyu ingin Maku paham jika tetap ingin menyerang keluarga itu, kaum merrka bisa punah.
Karna salah satu dari bangsa srigala mempunyai kekuatan semburan api yang mematikan. Dan dia Eleanor, hasil perkawinan antara Srigala dan manusia sakti.
Maku mendekati kematiannya. Ia hanya sakit hati dan ingin membalaskan segala rasa sakit karna kehilangan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung