
"Tapi... polisi akan mencarinya... percayalah.."
"Aku juga polisi..."Marchi tak mengacuhkan perkataan Steven. Ia tetap berjalan melajukan mobilnya.
"Marc...."
Steven berteriak memanggil Marcho. Mobil Marcho sudah melaju kencang keluar gerbang rumahnya.
"Sudahlah Stev... biarkan saja. Nanti ia akan kembali juga." Ferdinand menghampiri putranya.
"Aku curiga jika Marcho sudah mengetahui keberadaan Loli ayah. Apa sebaiknya kita mengikutinya." Steven menatap Ferdinand menunggu jawaban ayahnya.
"Ayo.. tapi beritahu dulu yang lain."
Mereka mencari Eleanor dan Juliana menceritakan semua tingkah Marcho. Bergegas mereka mengikuti Marcho dengan melacak Marcho menggunakan gps mobilnya.
Marcho berhenti tepat didepan gubuk tempat Maku menyekap Loli. Ia berlari kedalam mencari keberadaan Loli. Tapi tak satu pun orang ia jumpai disana.
Menjelma sebagai srigala Marcho pikir akan membahayakan Loli. Ia geram tak menemukan seorang pun disana.
Aah... apa seseorang telah mempermainkan ku? Kurang ajar...
__ADS_1
Marcho mengumpat dalam hatinya. Tak lama ia melihat banyak phyton yang berukuran besar mengepungnya mencoba mendekati Marcho. Dengan sigap ia menghalau puluhan ular itu dengan berwujud srigala tentulah akan sangat membantu.
"Hentikan!!"
Maku keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan kearah Marcho dengan setengah badannya berupa ular. Berukuran sangat besar.
"Ahahahhaa... selamat datang dipertempuran sesungguhnya tuan srigala. Terimakasih telah memenuhi undanganku." sambutan Maku saat melihat kehadiran Marcho.
"Cukup basa basi mu Maku... dimana istriku?"
Marcho melolong panjang membuat bulu kuduk berdiri. Gelap sudah hampir menutupi seluruh hutan. Bulu Marcho semakin keliatan memerah dan mengkilap.
"Sabar saudara ku... nyonya srigalamu aman disuatu tempat. Jika saja kau hanya membunuh ayah ku... aku takan membalasnya. Karna kematiannya membuat ku naik tahta. Tapi.. kau telah membunuh kekasih hatiku yang sedang mengandung anak kami."
"Andai saja kekasih mu tak. Berniat ingin menerkam istriku yang juga sedang hamil... aku takan melenyapkannya. Kau harus tau yang sebenarnya Maku..."
Maku terdiam mendengar penjelasan Marcho. Memang wajar mereka saling melindungi kekasih mereka. Tapi kenyataan ini tak bisa diterima Maku. Ia tak percaya jika Ishi ingin memakan seorang manusia.
"Omong kosong kau... kita lihat saja siapa yang pantas hidup dari pertempuran ini."
Maku maju beberapa langkah. Ia mengibaskan ekornya kearah Marcho. Dengan cepat Marcho menangkap ekor itu dengan taringnya yang tajam.
__ADS_1
"Maku dengarkan aku baik baik. Jika kau ingin tetap memilih untuk bertarung itu akan sia sia.. karna kekasihmu takan hidup lagi. Kau hanya mendekati kematianmu."
Maku terdiam mendengar ucapan Marcho yang sudah melepaskan gigitannya. Memang benar semua yang dikatakan Marcho. Tapi sebagai seorang pria pantang baginya untuk menarik kembali sumpah yang telah ia ucapkan. Maka Maku tetap meneruskan pembalasannya untuk membunuh Marcho dan istrinya.
"Jangan sombong kau Marcho...!"
Maku tiba tiba menyerang Marcho tubuhnya telah sempurna menjelma menjadi ular phyton yang sangat besar. Ia mengejar Marcho berusaha untuk melilit tubuh srigala itu.
Ferdinand dan yang lain tepat waktu sampai disana. Ia melihat tubuh Marcho terlilit ular yang sangat besar. Mustahil jika Marcho bisa melepaskan diri.
Dengan cepat Steven dan Ferdinand berubah menjadi srigala. Mereka mencoba menggigit tubuh ular Maku agar bisa melepaskan lilitannya pada Marcho yang sudah terbaring ditanah.
Matanya terpejam, Ferdinand cemas melihat Marcho. Dengan cepat Ferdinand menerkam kepala phyton itu. Steven mencoba menerkam bagian tengah tubuh ular itu.
Lilitan Maku sedikit berkurang. Marcho berdiri dengan cepat. Membakar bagian tubuh ular yang bertumpuk disampingnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung