
"Marcho Tores... apa benar ini dirimu kawan? Aku tak percaya rekan kerjaku kembali lagi kekantor ini." El menyambut kedatangan Marcho dengan seragam kepolisiannya dikantor kepolisian.
"Berkat doa kalian semua." Marcho tersenyum pada semua rekannya.
"Marc selamat datang kembali.. kau dipanggil kepala." Salah seorang petugas memberikan memanggilnya.
"Baiklah.. terimakasih..." Marcho melambaikan tangan pada salah satu rekannya.
"Pergilah Marc... aku senang sekali kau kembali. Ini sebuah keajaiban." El menepuk nepuk pundak Marcho dengan senyuman yangbtak hilang dari bibirnya.
"Baiklah. Aku akan menemui mu lagi nanti El"
Marc berjalan menuju ruangan kepala polisi. Setelah lama didalam Marcho keluar didampingi kepala polisi.
"Baiklah semuanya...mohon perhatiannya.
Kita akan mengadakan acara penyambutan Marcho nanti malam di cafe siklus. Dan Marc, selamat bertugas kembali."
Kepala polisi itu menjabat tangan Marcho dan kembali keruangannya.
Marcho mulai bekerja seperti biasa. Orang tua Loli yang mendengar kabar kembalinya Marcho mengunjungi Loli dikediaman mereka.
Mereka mengucapkan syukur atas keajaiban yang diberikan Tuhan pada anak dan menantu mereka.
.
__ADS_1
.
"Sayang bagaimana bisa Marcho menjadi seperti kita. Karena sejak lahir Marcho mengikuti ku bukan dirimu." Steven masih penasaran tentang putra nya yang sekarang juga menjadi sepeti ia dan istrinya.
"Roberto membantunya. Beberapa hari ia menjadi bayangan. Tubuhnya disembunyikan Roberto disuatu tempat. Bahkan aku sendiri tak tau dimana itu. Jika Roberto tidak menariknya mungkin saja Marcho benar benar meninggal .." Eleanor menjeda kalimat nya sebentar.
"Kau ingat dengan wanita tua yang rumahnya tak jauh dari sini?"
"Ya.. nyonya Rebeca. Ia sudah tak sadar selama berminggu minggu." Tambah Steven.
"Benar, ia sebangsa dengan kita. Roberto mengambil jiwanya untuk membuat tubuh Marcho berfungsi lagi. Makanya saat ia dan Loli bersetubuh dimalam itu, Roberto menyatu kan kedalam tubuhnya jiwa srigala nyonya Rebeca. Setiap kehidupan adalah pengorbanan orang lain sayang. Kau tak akan mengerti jika belum merasakan sendiri. Makanya putra kita kembali normal seperti manusia tapi ia bukan manusia."
Eleanor memandang langit langit kamarnya. Ia memeluk tubuh hangat Steven.
"Kita akan mengalaminya sayang... saat kau ingin Ferdinand kembali."
Steven terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia memang memikirkan cara agar ay nya bisa kembali lagi padanya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" Eleanor melihat suaminya terdiam.
"Aku melupakan salah seorang keluarga ku. Ia trlah bekorban nyawa untuk ku." Steven menatap Eleanor dengan mata yang berkaca kaca.
"Apakah kau benar benar merindukannya?" Eleanor duduk disamping Steven memastikan keinginan suaminya.
"Tentu saja sayang... dia ayahku. Tapi.. jangan berpikir untuk bekorban untuknya. Aku tak ingin kehilangan salah satu diantara kalian." Steven merangkul Eleanor kedlam pelukannya.
__ADS_1
Angin berhembus sangat kencang diluar rumah. Pepohonan yang tinggi seakan mau rubuh kepermukaan tanah. Seseorang tengah berjalan menembus kegelapan malam.
Lolongan Srigala terdengar jelas, menaikan bulu kuduk yang mendengarnya. Mereka bersahut sahutan. Seakan menyambut sesuatu yang akan datang pada mereka.
Eleanor bangun dari duduknya. Ia mendengarkan lolongan bangsanya yang seakan memberikan peringatan akan adanya bahaya yang akan datang.
"Jangan keluar Stev.. dia bisa mengendus kita. Bau kita sangat menyengat dihidungnya"
Steven langsung terdiam karena dihentikan oleh istrinya. Ia mencoba berjalan secar perlahan kearah Eleanor.
"Siapa dia sayang?" Steven berbisik.
"Aku tak mengenalnya. Sepertinya akan ada sesuatu yang buruk terjadi malam ini." Eleanor menjawab dengan suara yang ia pelankan.
"Ayo tidur.. kurasa ia takan masuk kesini."
Steven menarik tangan Eleanor kearah tempat tidur. Belum sampai ditempat tidur sesuatu yang keras menghantam kaca jendela kamar mereka.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1