
Berburu dengan sekelompok srigala lainya, akan mendapatkan banyak hasil buruan. Menyimpan sebagian jika mereka telah kenyang.
Steven memimpin keluarga nya setelah Ferdinand tiada. Terlihat sedang bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Dengan postur srigalanya.
Ia memberi kode pada Marcho untuk bergerak agak maju. Sehingga mereka nantinya bisa mengepung rusa yang berukuran besar ini.
"March... Berjalanlah kedepan. Tetap mengendap..." Dengan bahasa srigala mereka.
Marcho yang dimaksud lansung bergerak pelan dibalik semak semak.
"Lyo... Kau hadang dia. Kurasa Rusa itu sudah cukup kenyang. Lihatlah gerakannya yang mulai melambat." Ucap Steven melihat pada Lyodra.
"Semua bersiap, aku akan menghalaunya dari depan." Ujar Lyodra.
Rusa tersebut sedikit menyadari jika ada yang sedang mengintai nya. Namun rasa kenyang karna banyak makan tadi, membuat ia lengah. Bahkan kini jalan nya semakin lambat.
Dari arah samping Lyodra melompat tepat dihadapannya. Melihat sosok besar srigala membuat Rusa itu terkejut dan sangat panik.
Ia berbalik arah hendak berlari. Marcho muncul dari arah belakangnya. Dengan gigi yang meneteskan air liur.
Akhir dari Rusa itu telah tiba. Melawan dua ekor srigala takan bisa menyelamatkannya. Namun ia harus terlihat berjuang. Tak menyerah dengan kehadiran srigala lainnya.
Rusa tersebut berlari kearah yang berlawanan. Dan disana sudah ada Steven, ia langsung menerkam leher Rusa yang berukuran besar.
Tubuhnya menggeliat, menendang nendang kan kaki nya pada tubuh Steven, berusaha tetap mempertahankan diri.
Namun dengan bantuan terkaman Marcho, rusa itu akhirnya pergi dengan damai. Steven menyicipi sedikit daging berkualitas itu. Kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Marcho yang melihat itupun mengikuti tingkah Steven. Tapi berbeda dengan Lyodra, ia makan kenyang hari ini. Sejak beberapa hari yang lalu, saat Ferdinand meninggal, Lyodra tak bersemangat untuk makan apalagi berburu.
"Makanlah... Jika masih bersisa... kita akan bawa pulang..." Kata Marcho melihat Lyodra dengan lahap menyantap daging rusa yang segar. Ia bahkan tak menoleh pada Marcho.
Sedangkan ditempat lain, Ares ditemani oleh Eleanor dan Juliana. Mereka berdua mengajari Ares cara berburu dengan teknik terbaik dan lebih berani.
"Kau tau Ares... Bangsa kita biasanya menunggu mangsa nya untuk kenyang terlebih dahulu, karna gerakan mereka akan lambat jika berlari. Dengan itu kita akan lebih mudah menerkamnya." Jelas Eleanor.
Ares menuruti apa kata dua wanita terbaik dalam hidupnya setelah Loli Ohara.
"Lihatlah kerbau hutan itu, nampak nya ia sudah makan banyak." Tunjuk Juliana pada Ares.
"Bukankah kerbau tak bisa berlari kencang Gemma?" Tanya Ares yang masih memperhatikan hewan yang ditunjuk Juliana.
"Itu bukan kerbau biasa Ares." Jawan Eleanor.
"Baiklah... Kalian tunggu disini." Ares segera maju. Ia dengan wujud srigalanya.
"Apa kau mau mencelakai nya Lian? Kau tau itu bukan kerbau, Tapi banteng hutan liar." Bisik Eleanor pada saudarinya.
"Kau akan tau seperti apa putra Marcho keturunan sang legenda Blanco Garnier. Ia sama persis dengan ayahnya. Kekuatan yang masih tersembunyi." Jelas Juliana.
"Kita akan lihat... Ini bukan perburuan biasa." Gumam Eleanor.
Juliana hanya tersenyum mendengar Eleanor yang masih mencemaskan Ares. Dari atas pohon terlihat sebuah bayangan berjalan. Steven memperhatikan gerak geriknya.
Penasaran dengan bayangan yang mengikuti Ares. Steven juga bersembunyi dari bayangan itu. Sembari melihat Ares menaklukan banteng hutan liar.
__ADS_1
"Cucu ku pasti bisa mengalahkan banteng itu. Eli dan Lian benar benar mengasah kemampuan putra Loli."
Steven merasa sangat senang jika Ares mampu mengalahkan banteng itu. Tanpa mengetahui kekuatannya sendiri.
Marcho menunggui Lyodra menyantap daging rusa. Dan sekarang ia telah berhenti karna telah merasa kenyang.
"March.. ada sesuatu yang sedang mengintai keluarga kita. Aku bisa merasakannya." Ujar Lyodra menatap kearah keberadaan keluarga mereka yang lain.
"Tepikan sisa daging ini. Kita akan memantau dari kejauhan. Pasti ayah sudah melihatnya."
Marcho dan Lyodra berjalan pelan dengan wujud manusia mereka. Karna akan lebih mudah bersembunyi ditengah hutan.
"Benar dugaan mu... Dia atas sana. Dan ayah tepat dibawahnya." Tunjuk Marcho pada Lyodra.
"March... seperti nya dia melihat kita..."
.
.
.
Dukung Author dengan Like vote dan koment menarik kalian. untuk penyemangat menulis Author...
salam cintooh..
__ADS_1