
"Jika bukan karena pekerjaan, aku tak akan mau mengantar surat ini. Melewati gunung ini membuat ku mengingat kematian pria itu." Ujar salah satu penumpang didalam mobil van.
"Sekarang kita berdua, kita akan tau apa yang sebenarnya membunuh pria itu. Tapi aku berharap kita akan selamat kali ini." Jawab temannya yang sedang mengemudi.
"Apa kau lihat pak tua itu? Ia mengancam akn memecat ku jika tak menemani mu... Padahal putri berulang tahun hari ini. Aku telah membuatnya kecewa." Kata temannya yang duduk dikursi penumpang.
"Tenang saja.. aku akan membagi dua bagian ku ini. Kau bisa belikan putrimu sebuah sepatu roda keinginannya." Bujuk temannya yang sedang mengemudi.
"Alex.. apa kau lihat sesuatu dibalik pohon tadi?" Tanya temannya yang duduk dikursi penumpang.
"Tidak ada apa apa Bill... Tenangkan dirimu. Jangan terganggu karna kematian pria itu. Disini ada kita berdua. Aku yakin kita tidak akan apa apa." Jawab temannya yang dipanggil Alex.
"Semoga saja...." Doa Bill.
Mereka menempuh perjalanan disekitar gunung Rosten. Tentunya dengan laju yang kencang.
Sementara dari kejauhan dua ekor srigala sedang mengintai mereka dari atas bukit. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kecelakaan disana.
Marcho dan Steven yang sedang berburu menangkap bau kawanan lain. Mereka menyusup ketempat yang mereka curigai.
"Apa yang sedang mereka intai?" Tanya Steven yang sudah berwujud manusia.
"Entahlah... Aku penasaran. Sebaiknya kita ikuti saja Ayah.." ajak Marcho.
Mereka berdiri agak jauh dari dua srigala tersebut. Srigala yang diintai Steven dan Marcho sempat curiga dengan tempat mereka mengintai. Tapi mereka tak bisa mengendus dari jarak jauh jika keturunan berwujud manusia.
__ADS_1
"Berhati hati lah Alex... Aku masih ingin merayakan ulang tahun putriku."
Kali ini Bill benar benar ketakutan. Tubuhnya gemetar. Disepanjang jalan tadi, saat melihat keatas bukit. Ia melihat dua ekor srigala berukuran besar menatap kearah mobil mereka.
"Kau kenapa Bill? Tenanglah... Semua akan baik baik saja. Percayalah .."
Alex menenangkan temannya yang tampak gelisah. Mungkin bermaksud untuk dirinya juga. Bill tak mengatakan apa yang dilihatnya. Dia ingin agar Alex tetap fokus mengemudi.
Ya Tuhan... selamatkan kami...
Alihkan perhatian makhluk buas itu...
Bill bertambah gelisah, saat ini keringat dingin membasahi tubuhnya. Bahkan tangannya bergemetar.
Mereka akan melahap aku dan Alex...
"Injak lagi gasnya Alex... Kenapa lama sekali keluar dari gunung sialan ini .." gerutu Bill dengan wajah yang susah memucat.
Tanpa menjawab perkataan Bill, Alex mempercepat laju kendaraan mereka. Ia tau mungkin saja Bill melihat sesuatu yang tak ia lihat. Namun ia tak berani bertanya, untuk mengendalikan dirinya dari rasa takut.
"March... Kau lihat mobil disana?" Steven menunjuk sebuah mobil van yang dikendarai Alex bersama Bill. Marcho mengangguk.
"Aku tau... Mereka sedang berburu March..." Prediksi Steven sangat benar.
"Serahkan padaku Ayah..." Marcho memandang Steven dengan tersenyum.
__ADS_1
Dia turun dengan terburu buru tanpa terlihat oleh dua srigala yang sedang menanti mangsa. Sementara Steven masih berdiri diatas bukit memperhatikan. Ia akan bergerak cepat saat Marcho dalam bahaya.
Dengan meniru trik kawanan serigala yang memangsa pria yang tewas beberapa yang lalu. Marcho meruntuhkan sebuah pohon pinus yang berukuran kecil.
Mobil van tiba tiba berhenti mendadak. Beruntung Alex melihat dari jauh pohon Pinus itu akan mendarat didepan mobil mereka. Maka ia mengerem terlebih dahulu.
Tubuh Bill semakin gemetar. Ia melarang Alex untuk keluar.
"Jangan keluar... Bahaya."
"Akan lebih baik memeriksa, kita akan pindahkan pohon kecil yang tumbang ini. Mungkin musim hujan, makanya pohon yang tumbuh dilereng bukit itu menjadi mudah longsor." Jawab Alex dengan pikiran positifnya.
"Alex....!!"
.
.
.
Dukung Author dengan memberikan Like and Vote juga koment menarik kalian ya ders...
Agar Author lebih semangat lagi dalam menulis karya...
__ADS_1
salam cintooh