
Juliana keluar dengan perlahan kemudian langsung berlari kearah timur yang ditunjuk sebelumnya. Eleanor. Marcho dan Steven mengikuti jejak nya.
Sebagai penunjuk arah Juliana memperhatikan sekelilingnya. Ia terus berlari kencang. Menghindari bahaya yang mungkin saja sedang mengintai mereka.
Semak belukar dihutan gunung Rosten yang belum pernah dijelajahi manusia. Masih terlihat asri tanpa jamahan tangan tangan manusia. Udaranya pun semakin dingin.
Juliana, tubuh ku terasa mulai panas.. apa yang harus ku lakukan? Aku tak tahan lagi.
Ferdinand mencoba berbicara dengan Juliana. Seketika itu ia srigala betina itu berhenti. Hingga yang lain juga ikut berhenti.
'Kalian jangan ada yang berubah. Tetap lah menjadi srigala. Agar binatang liar disini tak mengganggu Loli.'
Juliana balik berjalan kearah Steven. Ferdinand turun dari punggung Steven. Ia terjatuh ketanah. Menggeliat seperti akan terjadi sesuatu.
Mereka semua melihat Ferdinand. Sementara Loli tetap melihat sekeliling walaupun keadaan sangat gelap gulita. Ia memegang erat Marcho.
Suara Ferdinand berubah, tubuhnya pun mulai ditumbuhi bulu. Ia merasakan sakit saat pertama kali merasakan perubahan sebagai srigala.
Berbeda dengan Marcho yang tak merasakan kesakitan seperti Ferdinand, karna ia keturunan dari bangsa itu.
Bertahanlah Ferdi.. kau pasti bisa. Kita akan berlari kencang dari sini.
Ferdinand berubah menjadi seekor srigala hitam. Namun tiba tiba kabut hitam menyelimuti mereka. Memutar sekitar keberadaan mereka.
__ADS_1
'Apa yang terjadi ibu?' Marcho bertanya dengan bahasa srigala.
'Entah lah Marc... mungkin ini kekuatan dari kakek mu' jawab Eleanor.
Benar saja, tiba tiba mereka sudah berada dibawah gunung Rosten. Tepatnya ditepi jalan raya. Dengan perwujudan manusia.
"Bagaimana kau bisa melakukannya Ferdi.?" Juliana mendekati Ferdinand dan memeluknya.
"Berjalan sesuai hati dan pikiranku" jawab Ferdinand membalas pelukan Juliana.
"Ayah.. kau terlihat seusia dengan ku sekarang.." Steven mendekati Ferdinand takjub dengan pesona ayahnya.
"Benar Ferdinand... bagaimana kau bisa seperti Roberto?" Tanya Eleanor.
"Maafkan aku... " Eleanor menunduk mengingat kejadian masa lampaunya.
"Jawablah pertanyaan Eleanor Ferdi" Desak Juliana yang juga sama penasarannya dengan yang lain.
"Aku merasakan ketakutan Loli. Ia berdoa sepanjang perjalanan agar kita semua selamat. Aku hanya membantunya. Dan Roberto... ada disini.." Ferdinand menunjuk dadanya saat menyebut nama Roberto.
"Apa maksudmu?" Tanya Juliana sangat heran.
"Roberto Paul Tores.. adalah kakek ku... kemana pun aku pergi ia selalu mengikutiku. Dengan adanya petunjuk mengenai bunga ungu Rosten. Ia sangat bahagia. Karna cinta dari bunga itu membuat dia berada dijiwa ku. Dan akan selalu menyelamatkan kita." Jelas Ferdinand panjang lebar.
__ADS_1
"Kakek dari kakek ku? Aku sangat tak menyangka." Marcho memeluk kakeknya dan juga kakek dari Ferdinand dalam satu tubuh itu.
"March... ada sesuatu dibelakang ku..."
Tiba tiba Loli terdiam seperti tak bisa bergerak, suara nya bergetar karna ketakutan. Semua melihatnya. Marcho langsung memeriksa keadaan Loli. Ia melihat seekor phyton yang telah menggerakan ujung ekornya kekaki Loli. Mulai melilit secara perlahan.
"Apa kau juga mau mati seperti saudara mu Ular keparat?" Marcho geram sambil melepaskan lilitan phyton dikaki Loli.
Tiba tiba phyton itu tewas seketika saat Ferdinand memukul kepalanya hanya dengan ranting kayu.
Marcho cepat membawa Loli kepelukannya. Ia sangat cemas dengan keadaan Loli.
"Kau melakukannya lagi sayang. . Kali ini kekuatan apa yang kau pakai? Bagaimana bisa kepala ular itu terpotong hanya dengan ranting kayu?"
Juliana benar benar takjub dengan keadaan Ferdinand sekarang. Ia sangat tak menyangka Roberto juga ada didalamnya.
Tapi mereka tak bisa bersenang hati berlama lama. Puluhan phyton terlihat mendekati mereka terutama Loli.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung