
Tanya Ares yakin pada Marcho. Karna ia terlihat senang saat Ares mencoba bicara jujur.
"Roberto... Itu dia..."
Marcho tersenyum menatap Lyodra yang juga tersenyum padanya.
"Roberto?" Ares mengulangi perkataan Marcho.
"Benar... Dia leluhur kita. Mungkin saat didalam rahim Loli kau telah ditemani leluhurmu. Makanya kau merasakan sesuatu yang tak kami rasakan. Dan itu hanya Roberto yang mendapatkannya."
Ares mengernyitkan kan keningnya mendengar penjelasan Marcho yang baginya sangat tak masuk akal.
"Maaf Daddy... Aku tak menyangka jika kalian masih mempercayai hal itu." Ares terkekeh.
"Kau hanya belum pernah mengalami keganjilan nya sayang..."
Jawab Lyodra yang merasa Ares telah meledek mereka. Dia sedikit tak terima dengan tanggapan Ares yang sedikit meremehkan apa yang diucapkan Marcho tadi.
"Biarkan dia mengalami nya sendiri Lyo... Kau jangan kesal. Dijaman modern seperti ini memang banyak anak muda yang memperhatikan apa lagi mempercayai hal hal seperti ini.
Bukankah kau telah mendengar sendiri tadi ucapannya?
Dia sudah mulai merasakan.
Kita tunggu saja."
Marcho mencoba mengurangi kekesalan Lyodra pada Ares. Dan Lyodra pun mengikuti apa perkataan Marcho.
"Maafkan aku Dad.. Bibi.. aku tak bermaksud meremehkan perkataan kalian. Beri aku waktu untuk memahaminya."
Ares sedikit sungkan setelah melihat dua orang yang sangat ia hormati merasa kesal dengan ucapannya barusan. Bahkan mereka mungkin marah.
__ADS_1
Tapi mereka sudah menjalani beberapa kehidupan. Mereka sudah sangat dewasa menanggapi apa yang anaknya lontarkan. Dan semua itu memang butuh waktu.
Seseorang tak bisa hanya akan percaya pada perkataan setiap orang. Dia pasti akan mencari pembenaran sendiri. Semua hal yang dianggap tabu semakin ia ingin membuktikan.
"Baiklah Ares, Marcho... Aku berangkat lebih dulu. Pagi ini ada operasi Pasien untuk bedah jantung. Tinggalkan saja seperti itu. Setelah pulang nanti aku bereskan."
Lyodra mengambil tas dan jas kedokterannya. Lalu berjalan menuju halaman rumah.
"Hati hati Bibi .."
Teriakan Ares yang tak sempat dijawab oleh Lyodra. Ia hanya melambaikan tangannya kebelakang.
"Apa kau bekerja hari ini?" Tanya Marcho pada Ares yang sudah selesai sarapan.
"Tidak... Hari ini aku tidak masuk. Ada yang perlu ku urus Dad..." Jawab Ares.
Ia bisa melihat gelagat Marcho yang ingin mengajak nya pergi.
"Aku ingin mengajak mu kesuatu tempat." Marcho berharap Ares mau pergi bersamanya.
"Baiklah..."
Ares berdiri dan berjalan kekamar nya. Tak berapa lama ia sudah dihadapan Marcho dengan pakaian santainya.
"Aku tak pernah memperlihatkan kan padamu sesuatu..."
Marcho membuat Ares begitu penasaran. Ia berjalan keluar rumah mengikuti Marcho. Mereka berjalan ketaman belakang. Dan memasuki gudang tua yang tak pernah dijajaki oleh siapa pun.
"Daddy.. apakah kita akan kesini?" Tanya Ares yang berhenti dibelakang Marcho.
"Benar... Ikuti aku..."
__ADS_1
Marcho berjalan didepan. Ia masuk kedalam gudang tersebut. Dan keluar melalui sebuah pintu lainnya.
Ares memperhatikan gudang yang ia kira diisi banyak barang, ternyata hanya berisi dua pasang sofa yang masih bersih.
Terlihat seperti sebuah rumah yang masih dihuni. Disudut ruangan juga ada sebuah ranjang ukuran sedang. Ditemani lampu hias berisi lilin diatas nakas.
Tempat ini sangat unik...
Andai saja aku tau lebih awal .. aku akan sering datang kesini..
"Ares .. kemarilah .."
Marcho berdiri didepan pintu disebelah Ares yang masih memandangi isi gudang tersebut. Ia berjalan mengikuti Marcho yang sudah tak nampak.
Matanya terbelalak saat ia keluar dari pintu tersebut. Suasana hutan yang masih begitu asri. Ia juga melihat seekor srigala putih dan besarnya 10 kali dari srigala biasa.
Ares tetap diam, meskipun ia terkejut tapi tak ada sedikitpun rasa takutnya. Matanya terus mencari keberadaan Marcho.
"Admiral Arden Tores...."
.
.
.
Dukung Author dengan Like, vote and koment.
salam cintooh ...
__ADS_1