
"Titanic?" Tanya Rubi yang kemudian langsung duduk disebelah Ares.
Ares menoleh pada Rubi dengan tatapan takjub, baginya Rubi lebih cantik malam ini. Dengan pakaian yang serba tertutup. Bibirnya tersenyum, mengelus kepala Rubi dengan rambutnya yang masih belum kering.
"Ya... Aku akan bersikap lancang malam ini." Ucap Ares dengan senyuman seringainya.
"Jangan berulah!" Tatap tajam Rubi pada Ares.
"Aku tak bisa..." Ares menyeringai kan senyumannya pada Rubi.
Gadis itu sedikit bergidik jika sesuatu terjadi diantara mereka. Jantungnya berdetak seketika.
Ares tersenyum melihat Rubi yang benar benar cemas.
"Mendekatlah... Bisa apa aku dengan pakaianmu..." Ares membentang kan sebelah tangannya, agar Rubi bisa masuk kepelukan nya.
"Tidak aku disini saja.." Rubi mengambil sekaleng minuman soda dan membukanya. Ia mengernyitkan keningnya setelah meneguk minuman itu.
"Sayang... Apa yang kau ketahui tentang cinta sejati? Apakah kita memilikinya?" Tanya Ares menatap Rubi yang duduk disampingnya.
"Dan apa itu masa depan?" Tanya Rubi tersenyum manis dihadapan Ares.
"Waktu yang bukan akan kau lalui, tapi sesuatu yang akan menghempaskan mu jika kau tak waspada." Jawab Ares tetap menatap film.
"Jawaban apa itu?" Tanya Rubi sedikit mengejek.
"Masa depanku bertanya tentang masa depan... Dan aku harus meningkatkan kewaspadaan ku sayang.." Ares mencuri sebuah ciuman dipipi Rubi.
__ADS_1
"Dan kenapa kau tadi ragu?" Selidik Rubi dengan mencondongkan wajahnya pada Ares.
"Aku hanya bertanya..." Ares mengedipkan sebelah matanya.
Keduanya kembali menonton Titanic. Mereka terlihat ikut kasmaran melihat adegan Rose dan jack menari ditengah orang orang sipil.
"Ares .. aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan ayahku." Rubi membuka kembali pembicaraan.
"Dan terlalu lama bagiku untuk bicara dengan Danny. Ia terlalu sibuk dengan jadwalnya.
Maukah kau menolongku?" Tanya Rubi lagi .
"Tentu saja... Katakan aku harus bagaimana?" Ujar Ares semangat.
"Bisakah kau mencari tau tentang Samuel Blossom? Dan istrinya Linda Mckane."
Ternyata Rubi serius dengan perkataannya. Ia merasa ada yang janggal dengan perubahan sikap ayahnya. Dan terlebih lagi Samuel tiba tiba sangat menyukai Ares. Padahal sejak dulu, Samuel sering menghardik Ares jika bermain dirumah mereka.
Rubi menggeser duduknya untuk lebih dekat pada Ares. Ia memeluk tubuh kekar Ares dari samping. Melihat hal itu Ares merasa sangat berdebar debar.
Bahkan dirinya sangat menahan diri karena bisa sedekat ini dengan Rubi, dan waktu yang memungkin kan bagi sebagian orang untuk menjalin kasih, menyatu menghabiskan malam.
Namun Rubi sendiri yang membawa Ares kembali berjuang untuk menahan diri. Ia rasakan nafas Ares yang mulai sesak. Dan dentuman jantungnya yang berdetak tak beraturan.
"Apa kau gugup Ares?" Tanya Rubi tetap pada tempatnya.
"Aku sedang berjuang... Jangan bertanya lagi!" Jawab Ares menengadahkan kepalanya.
__ADS_1
Apalagi adegan film sangat mendukung keinginan hati mereka untuk berbuat lebih jauh. Rose sedang terbaring diatas kursi tanpa sehelai benangpun sedang mengenakan liontin, dan Jack melukisnya dengan jantung yang berdebar debar.
Ares menjauhkan pandangannya dari film yang sedang mereka tonton. Ia bahkan tak menyentuh tubuh Rubi yang masih memeluknya.
"Apa kau menginginkannya Ares?" Tanya Rubi lirih.
"Kau sedang memancingku?" Ares menunduk kan kepalanya melirik Rubi.
"Tidak .." jawab Rubi menggeleng kan kepalanya.
"Jangan bertanya lagi..." Ares benar benar berusaha untuk tidak berbuat sesuatu yang menurutnya belum saatnya mereka lakukan.
"Ares... Aku mencintaimu.." ungkapan cinta Rubi dengan suara yang bergetar dan pelan.
"Rubi... Kau ..."
Tiba tiba Rubi sudah berada dipangkuan Ares berhadapan dengannya dan wajah mereka sangat dekat. Ares terkejut dan menahan nafasnya. Ia merasakan hembusan nafas Rubi yang wangi. Tubuhnya benar benar merasakan gelenyar yang aneh. Terasa panas sampai ke kepalanya.
"Apa yang kau lakukan??" Tanya Ares bingung harus bertanya apa.
.
.
.
__ADS_1
Dukung Author selalu ya Bebs... 😘😘😘☕