
"Baiklah Rubi aku takan menyerah sampai kau benar benar bersedia menerimaku. Bahkan sekalipun kematian mendekat, aku akan berusaha untuk tetap kuat untuk bisa mendapatmu....
Kau tak keberatan bukan?"
"Tentu saja... Kau berhak atas itu."
"Terimakasih..." Ares menatap lekat wajah gadis itu.
"Untuk apa?" Rubi seolah ingin berbicara lebih lama lagi dengan Ares.
"Atas izin mu tadi." Ares tersenyum tipis.
Rubi hanya membalas dengan senyuman dan wajah tersipunya. Pandangan mereka bertemu, jantung kedua langsung berdetak kencang.
Seakan merindukan kekasih yang telah lama tak ia jumpai.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Ares memecah keheningan antara mereka.
"Belum... Belum saatnya" jawab Rubi melihat waktu di jam tangannya.
"Bagaimana kalau nanti ku antar pulang?" Pinta Ares tiba tiba.
"Masih ada beberapa menit lagi. Dak tak usah Tuan Ares. Aku bawa mobil sendiri." Jawab Rubi tersenyum.
"Kakau begitu besok kau jangan membawa mobil lagi."
"Bagaimana aku bisa berangkat kerja?" Tanya Rubi pura pura tak tau.
"Aku akan menjemput dan mengantar mu tiap hari."
__ADS_1
Tatapan Ares mampu menghipnotis Rubi agar mengikuti semua perkataanya.
Dia begitu tampan...
Jika saja bisa .. aku akan menikah dengan nya sekarang.
Rubi memandang wajah Ares dengan merasakan aliran panas disekujur tubuhnya. .
"Bagaimana Rubi? Kau tak keberatan bukan?" Ares memastikan lagi pada Rubi.
"Ya .. ya... Silahkan. Bukankah kau tai dimana rumah ku?" Tanya Rubi sedikit gugup mengizinkan Ares.
"Tentu saja aku tau... Aku dan Danny susah bersahabat sejak dulu. Tapi sayangnya aku jarang main kerumahnya. Aku bahkan tak mengetahui bahwa ia mempunyai kembaran yang sangat cantik ini." Jelas Ares panjang lebar.
Rubi terkesima mendengar perkataan Ares yang sejak tadi memujinya. Ia seakan melayang di udara. Dan untung nya ia masih menapak dilantai.
"Danny tak pernah bercerita tentang mu padaku. Padahal ia sudah pernah bilang bahwa kau adalah temannya." Jelas Rubi.
Tapi Tuhan selalu memberi ku jalan untuk bertemu denganmu."
Ares bersungguh sungguh saat bercerita pada Rubi. Ia ingin gadis itu mengetahui bagaimana perasaan dan perjuangan nya untuk bertemu Rubi.
Ares .. andai saja kau tau siapa aku. Kau pasti akan menjauhi ku... Lagi seperti Leo.
"Apa kau benar benar melakukan nya?" Tanya Rubi serius menatap Ares.
"Jika kau mau.. kita bisa menikah sekarang. Aku benar benar telah lama menantikan mu Rubi."
Ares semakin berani dalam berkata kata. Karna ia tau, wanita butuh kepastian.. bukan janji.
__ADS_1
"Ares... Kau akan menghindar saat mengetahui siapa aku..."
Rubi seketika menunduk, terlihat cairan bening jatuh dari kelopak matanya.
Apa aku salah sudah mengajak nya hari ini?
Tapi .. kenapa dia menangis. Kurasa tak ada ucapan ku yang menyakitinya. Entah lah aku tak mengerti.
"Apa maksud mu Rubi?"
Rubi tetap menunduk. Ia tampak menangis. Spontan Ares duduk disebelahnya dan merangkul tubuh itu kedalam dekapannya.
"Kau bisa rasakan detak jantung ku saat bersama mu Rubi. Aku takan melakukan apa yang kau takuti. Percayalah Rubi ... Aku takan melepas mu..
Kau tau... 4 tahun bukan waktu yang sebentar. Dan aku takan menyiakan kesempatan itu."
Suara Ares begitu tegas dan meyakinkan. Dia bahkan mengecup puncak kepala Rubi.
"Kau bisa melepaskan ku sekarang Ares..."
Rubi mencoba duduk kembali, ia mengusap air matanya. Memperhatikan Ares baik baik.
Dalam hatinya ia sungguh menginginkan pria ini. Tapi dengan keadaan nya yang sesungguhnya tak mungkin itu terjadi.
.
.
.
__ADS_1