
"Aku akan menemani mu. Agar kau tak salah arah. Aku pernah kegunung Rosten saat mengadakan perpisahan sekolah. Kami membuat tenda. Tapi hanya dua hari disana. Kami sudah diserang kawanan srigala lapar. Beruntung kabut disana tebal dan menghitam. Karena apa aku tak tau. Kami segera kembali kekota." Jelas Loli sedikit menceritakan kisahnya digunung Rosten beberapa tahun silam.
"Tenang saja.. aku akan berhati hati. Dan aku juga sebangsa dengan mereka. Aku seekor srigala." Marcho memeluk lembut istrinya.
"Aku akan ikut...jangan menipuku kali ini Marc." Jelas Loli menatap tajam Marcho.
"Baiklah jika itu mau mu. Aku pun akan senang karena tak perlu cemas meninggalkan mu disini sendirian."
Mereka berdua tersenyum.
"Waah.. apa yang kau hidangkan untuk ku sayang.? Ini keliatan sangat lezat"
Marcho menatap seporsi besar steik daging yang berlapis tiga. Juga dengan bumbu dan sayurannya.
Karena Loli telah mengerti siapa suami nya sekarang. Sejenis hewan buas yang bisa saja sewaktu waktu menerkamnya jika tak diberi makan yang banyak.
"Aku membeli beberapa kilo daging segar. Dan itu adalah daging rusa. Aku tau kau sangat menyukai nya bukan?" Loli tersenyum.
Ia menatap makanan didepannya. Yang pas untuk mengenyangkan perut seorang manusia. Tapi itu takan cukup bagi seekor srigala.
"Makanan mu sangat sedikit.. hhahaha" Marcho membelai lembut rambut Loli.
"Ambilkan juga aku bunga ungu Rosten.." tiba tiba Loli bicara perihal tentang bunga ungu Rosten.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau juga ingin makan banyak seperti ku?" Tanya Marcho dengan wajah tercengang.
"Bukan... tapi karena aku tak ingin menua sendirian saat bersamamu." Loli menunduk menatap makanan dihadapannya.
"Sayaang... jangan seperti itu. Aku juga akan menua. Aku bukan keturunan Vampir sayang. Aku juga bisa berdarah, merasakan sakit, merasa kedinginan dan kelaparan. Bahkan aku juga bisa mati." Jelas Marcho menatap Loli yang masih menunduk.
"Tapi semua berjalan lambat bagi bangsa mu sayang. Apakah bunga itu bisa merubah ku juga?" Kali ini Loli menatap Marcho penuh dengan pertanyaan dikepalanya.
"Aku tidak tau. Kau harus tetap seperti ini sayang. Jika aku boleh memilih.. aku ingin hidup normal seperti manusia biasa sayang. Jadi jangan berpikir seperti itu lagi. Kau tak merasakan bagaimana sebenarnya perasaan ku. Jangan kira aku senang dengan menjadi bangsa srigala. Aku tak menginginkannya." Jelas Marcho menatap lembut wajah Loli yang mulai meneteskan air mata.
"Maafkan aku... hanya saja.. aku takut kehilangan mu Marcho. Aku tak suka jika itu terjadi." Loli menguraikan senyuman manis nya pada suami yang sejak tadi menatapnya.
"Ayo makan... aku benar benar lapar. Rusa yang kumakan dihutan tadi tak mengenyangkan ku." Marcho mencoba sedikit bercanda. Agar Loli bisa menghilangkan perasaan nya yang aneh aneh.
Dreet.. dreet ..
Sebuah pesan masuk keponsel Marcho. Loli yang masih membereskan meja makan melihat kearah suaminya.
"Ya El..." Marcho menghubungi El yang langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Bisa kah kau datang sekarang kekantor Marc. Ada masalah disini. Kami memerlukanmu" jelas El diseberang sana.
"5 menit lagi aku sampai."
__ADS_1
Marcho mematikan sambungan teleponnya. Berjalan kekamar untuk memakai seragam polisinya. Loli mengikuti suaminya kekamar.
"Ada masalah apa Marc?" Loli membantu memakai kan sepatu Marcho.
"Aku belum tau. Tadi El bilang ada sesuatu terjadi. Sayang kau baik baiklah dirumah. Apa perlu kuantar kerumah Sofia. Jika cepat seleaai aku bisa langsung menjemput mu." Tanya Marcho memegang lengan istrinya.
"Aku dirumah saja. Aku akan tidur." Jawab Loli santai.
"Baiklah aku berangkat. Jaga dirimu..."
Marcho mengecup sekilas bibir istrinya. Ia keluar dari rumah dan masuk kedalam mobilnya. Loli menatap mobil yang melaju kencang.
Ia segera menutup pintu. Tapi ia melihat ada seseorang yang sedang menatapnya dari jauh. Dan itu seorang wanita. Buru buru Loli mengunci pintu.
Tapi dengan gerakan cepat wanita yang dilihat Loli berada jauh dari rumahnya tadi sudah berdiri didepan pintunya. Dan dia tersenyum.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1