
Marcho kembali menyerang orang orang Mayana dengan wujud srigalanya. Kali ini Ferdinand tak tinggal diam.
Mereka menghabisi satu persatu orang orang Mayana. Termasuk Maroyu kepalanya dilepas oleh Marcho.
Emosi mereka berlipat ganda setelah salah satu keluarga mereka sengaja dilukai didepan mata mereka.
Para srigala itu menggila membantai semua orang suku Mayana. Karna perbuatan Maku, kini suku Mayana hanya akan tinggal nama tanpa ada yang mengenalnya.
Kawanan srigala yang datang membantu Marcho membawa jasad jasad orang Mayana. Entah mereka akan menyantapnya atau membakarnya.
Marcho mengucapkan terimakasih karna telah menolong nya dalam pertempuran ini.
"Bagaimana keadaan Eleanor?"
Steven masuk dengan tergesa gesa. Ferdinand menepuk bahunya pelan. Ia memberikan sebuah senyuman untuk menyemangati putra nya.
"Dia baik baik saja Stev... jangan khawatir. Dua hari Eli sudah bisa berjalan seperti biasa lagi." Juliana meninggalkan kamar tempat Eleanor berbaring. Memberi privasi untuk mereka berdua.
"Sayang... suami mu sangat cemas.. hiburlah dia.." Ferdinand juga ikut menggoda Steven. Ia meninggalkan kamar itu.
Eleanor melihat Steven yang menatap nya dengan perasaan cemas. Lantas memeluk tubuh istrinya.
"Aku tak ingin melihat mu terluka sayang..."
__ADS_1
"Bagaimana jika tadi ia memanah jantung ku?"
"Jangan berandai andai dengan hal yang buruk sayang... berikan aku dengan hal baik saja."
"Stev... aku akan baik baik saja. Kita mempunyai dua dokter disini."
Eleanor memegang jemari Steven. Ia melihat Marcho yang buru buru mendekati Eleanor. Loli mengikutinya dari belakang.
"Ibu baik baik saja?"
"Ya .. aku baik... Marc.. tadi kau hebat sekali."
Eleanor mengelus rambut putranya.
"Marc.. kau mewarisi petinggi dari bangsa kita yang belum pernah dimiliki siapapun sejak dia meninggal. Hanya kau Marc.. itu pun setelah ratusan tahun.. Sekarang kau lah pemimpinnya.."
Eleanor menatap bangga pada putra nya. Marcho menoleh kearah Loli yang ikut tersenyum. Ia melepas pandangannya keluar jendela. Kemudian menunduk. Bingung dengan semua yang telah terjadi.
"Aku cemas jika harus memimpin seluruh kawanan srigala. Mereka pasti akan kecewa padaku."
Marcho merasa tidak pantas. Ini bukan seperti keinginan nya. Yang ia mau hanya hidup normal bersama istri nya tercinta. Mengarungi bahtera rumah tangga.
"Sayang... biarkan semua nya berjalan sesuai ketentuan dan alur yang sudah ada. Kau tak perlu bersusah payah untuk berusaha menjadi yang terbaik." Loli menyemangati suaminya.
__ADS_1
"Benar apa kata istri mu Marc.. ayah yakin kau tak akan menghadapi kesulitan. Dan kau seorang polisi tentu akan lebih mudah menjalankan tugasmu."
Steven memeluk Eleanor dari samping. Ia menepuk nepuk pundak Marcho. Merasa keluarga nya telah lengkap sekarang.
"Benar kata ayah Marc.. sekarang ayo kita ke persiapan pernikahan kakek dan Juliana.
Tapi... Apa kita akan memanggil Juliana dengan sebutan nenek Marc? Dia masih sangat cantik. Aku tak tega.."
Marcho tertawa setelah mendengar pertanyaan Loli. Marcho hanya kan menerima semua yang telah ditakdir kan untuknya. Dan berharap mereka akan hidup tenang tanpa terusik.
"Loli... panggil saja dia Oma itu akan lebih bagus... yaah.. menurut ku. Kalian tau saudari ku akan menjadi mertua ku... mengesalkan bukan? Hhahha...."
Steven tertawa melihat Eleanor. Ia juga sama dengan Loli. Bingung dengan panggilan didalam keluarga mereka.
Sementara itu Ferdinand, Juliana dan Lyodra ikut tertawa memperhatikan dari ambang pintu.
"Kalian panggil aku apa yang kalian inginkan..." Juliana tertawa senang. Karena semua masalah perselisihan mereka telah selesai.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung