SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
Dihantui kegagalan


__ADS_3

"Bukankah itu Ferdinand? Dengan siapa Dia bicara selarut ini." Juliana menatap tajam kearah luar jendela.


"Apa sebaiknya kita keluar?" Eleanor sangat penasaran ingin sekali keluar dan mencari tau siapa yang sedang bicara dengan Ferdinand. Namun mereka tak menemukan cara untuk kesana.


Namun niat mereka kesampaian juga karna Marcho membawa Loki kedalam mobil. Kedua wanita itu mengikuti mereka dari belakang. Mencari tau apa yang sedang terjadi.


Eleanor membantu membuka pintu mobil belakang hingga ia dengan jelas bisa melihat siapa orang yang dengan Ferdinand.


Sepertinya seorang lelaki... siapa dia?


Loli, Steven dan Marcho masuk Mereka memanggil Eleanor untuk masuk juga. Menemani Loli seperti janji yang ia ucapkan sendiri.


"Kau cari tau Lian.. aku mengantar Loli sekarang." Eleanor berbisik pada Juliana.


Juliana mengangguk sambil menutup pintu mobil. Lalu mobil itu beranjak meninggalkan kediaman Marcho.


Juliana mendekati Ferdinand yang masih sibuk bicara dengan seseorang. Tapi setelah jaraknya sangat dekat dengan Ferdinand orang yang bicara dengan Ferdinand sudah tak ada lagi.


"Siapa itu sayang?" Juliana menggandeng tangan Ferdinand.


"Ayo kita masuk. Nanti aku ceritakan."


Mereka berjalan masuk kedalam rumah. Juliana masih penasaran dan sesekali melihat kearah tadi. Orang itu tersenyum padanya. Juliana membalikan badan. Dan ia menghilang.

__ADS_1


Siapa dia? Kurasa Ferdi sudah tau. Dia kelihatan lebih tenang sekarang. Semoga saja ini kabar baik.


"Mau aku buatkan kopi latte?"


Juliana berjalan menuju dapur. Sementara Ferdinand langsung berjalan menuju kamar tamu. Karna tawaran kopi dari Juliana ia membalikan tubuhnya duduk kemeja makan.


"Baiklah.. dengan sedikit gula.." Ferdinand memperhatikan Juliana didapur.


Ia kemudian berdiri dan berjalan kebelakang Juliana. Memeluk Juliana dari belakang. Menciumi pundak mulus itu. Hingga mata wanita itu terpejam karna terangsang sentuhan dari bibir Ferdinand.


"Kau memang sangat nakal..."


Ferdinand tiba tiba bicara yang tak dimengerti oleh Juliana. Kemudian dengan gerakan cepat Juliana membalikkan tubuhnya. Hingga kedua nya saling bertatapan.


"Kau memilih keluar dari gunung Rosten. Dan tak memberitahu pada ku apa hukuman mu selanjutnya."


Juliana menatap Ferdinand, seperti nya ia paham kemana arah pembicaraan lelaki yang ia cintai ini.


"Siapa dia?" Selidik Juliana.


"Orang yang bercerita pada ku... kalau kita harus menikah. Karna telah mengikat hubungan intim digunung Rosten. Jika tidak segera menikah, kau akan dikurung selama lamanya."


Ferdinand tersenyum menatap Juliana. Ia mengecup sekilas bibir ranun Juliana.

__ADS_1


"Sayang... aku memilih menetap di gunung Rosten selama bertahun tahun karna tak ingin dinikahkan. Dan itu semua karena dirimu."


Juliana berjalan membawa dua cangkir kopi latte kearah sofa. Mengambil remote control mencari channel televisi. Ia menyeruput kopi latte sedikit dibibir cangkir. Seakan tak memperdulikan keberadaan Ferdinand.


Ferdinand tersenyum melihat sikap Juliana yang seperti nya sengaja menghindar atau ia berpura pura marah pada kekasihnya. Ia mendekati Juliana. Dan duduk disampingnya. Menyeruput kopi latte buatan Juliana yang enak.


"Jika dengan keadaan sekarang.. apa kah kau masih memilih gunung Rosten?"


Ferdinand menatap Juliana yang masih tak melihatnya. Wanita itu masih saja asyik mengganti ganti channel televisi. Mungkin saja untuk mengurangi rasa groginya.


"Lian..." kali ini Ferdinand memegang dagu Juliana untuk melihat kearahnya.


"Hei... kau masih marah pada ku?" Ferdinand melanjutkan kembali perkataannya.


Juliana memalingkan kembali wajahnya kearah televisi. Entah ia menatap layar besar itu entah tidak. Kali ini ia menunduk.


"Aku hanya tak ingin kecewa Ferdi. Setelah apa yang kita lalui dulu... menjadi berat bagiku mengucapkan kata pernikahan. Aku masih dihantui kegagalan."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2