
Malam ini hujan begitu deras, sehingga sebuah mobil memperlambat laju nya melewati gunung Rosten.
Suara music terdengar santai ditelinga pengemudi tersebut. Suara Akon yang begitu merdu dengan lagu Lovely. Membuat kepala pengendara mobil tersebut mengikuti irama musik nya.
Sesekali ia melihat kekiri dan kekanan. Perjalan seorang diri dimalam yang larut juga sepi memang membuatnya bergidik.
Apalagi ditemani hujan yang membuat kesan mengerikan baginya. Ia mencoba tenang agar bisa terus fokus menyetir.
Ketakutan manusia kadang kala benar benar terjadi. Rasa takut adalah salah satu jenis emosi manusia yang paling dasar dan kuat.
Emosi ini bisa sangat melumpuhkan, tetapi juga berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia.
Faktanya, ketakutan dibutuhkan untuk melindungi setiap orang. Perasaan ini membuat diri waspada terhadap situasi yang dianggap bahaya dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Seperti saat ini dua mata yang sedang berdiri disebelah pohon diatas bukit, melihat mobil itu berjalan pelan.
Seringai wajahnya menunjukan bahwa ia sedang sangat lapar. Air liurnya menetes, walaupun bercampur dengan tetesan air hujan.
Tiba tiba sebuah pohon tumbang tepat didepan mobil tersebut. Ia melihat lewat kaca depan dan mengumpat.
"Sialan... Bisa kah pohon ini tumbang setelah aku lewat?" Makinya.
Dia berhenti sejenak untuk berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. Jika ia memutar arah akan dangat jauh kembali lagi. Dan pekerjaan nya esok tentu akan tertunda.
"Bagaimana ini? Sebaiknya aku lihat keluar ... Siapa tau ada celah disana."
Orang itu keluar dengan menggunakan mantel hujan. Ia membawa sebuah kapak dibawah kolong mobilnya.
__ADS_1
Dengan mengumpulkan keberanian ia mendekati bagian pohon yang kebetulan tak terlalu besar.
"Bagian ini saja..."
Tanpa ragu ragu ia mulai melakukan pemotongan pada bagian pohon yang tidak terlalu besar.
Dia mengendap berjalan dibelakang pria yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Tapi sepertinya ini takan lama.
Dengan cepat ia menangkap pria tersebut, hingga menyisakan tubuhnya yang tergolek dengan kapak yang sudah terlepas dari tangannya.
Dia membawa kesuatu tempat yang ia rasa cukup mempersembahkan sajian pada Tuannya.
"Apa yang kau bawa?" Seseorang bertanya padanya.
Dia hanya menatap sang Tuan dan melihat kembali apa yang ia dapat.
Aku sudah siapkan bagian mu malam ini."
Dia pergi setelah mendapatkan perintah dari Tuannya.
"Apa yang ia dapatkan kali ini akan membuatku kuat kembali... Dan keluarga itu harus merasakan kehilangan yang sangat tragis."
Kali ini ia melihat wajah dikepala yang dibawa temannya.
Dia adalah keturunan srigala yang dipelihara seorang wanita yang tinggal dipermukaan gunung Rosten.
Jika Marcho mengetahui apa yang ia lakukan, maka ia takan selamat. Karna itu bisa merusak hubungan antara manusia dan srigala.
__ADS_1
\*\*\*\*
Pihak kepolisian telah mengetahui adanya.korban pembunuhan yang telah menghilangkan kepala korban pembunuhan.
Disana berdiri EL., Teman Marcho saat ia menjadi polisi. Para detektif sibuk mengurusi kejadian ini.
Senyum tengah terurai dari kejauhan.
"EL.. kau sangat berubah sekarang. Wajah kekar mu seakan habis termakan usia mu. Kau benar benar tua EL."
Gumam Marcho berdiri diantara pepohonan melihat temannya yang sudah jauh berbeda dari sekarang.
Tapi... Apa yang ia kerjakan disana? Kenapa ada banyak sekali mobil kepolisian..?"
Marcho berpikir sejenak lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada EL.
Hi EL... Ini aku Marcho...
Ada kejadian apa hingga para polisi menutup semua akses sekitar gunung Rosten.
.
.
.
__ADS_1