SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
Bukan jemputan tapi Serangan


__ADS_3

Marcho mempercepat laju kaki nya berlari. Kini ia hampir berdiri menyamai lelaki itu. Dan sekarang berada sedikit didepan lelaki itu.


'Marc?'


Ia melihat dirinya sendiri. Tiba tiba lelaki itu mendekati nya, seperti masuk keraga Marcho. Ia menemukan sebuah tempat. Terdengar suara suara yang sedang memanggilnya.


Marcho berhenti, ia menatap sebuah bunga indah berwarna ungu. Ia merasa jika suara itu berasal dari bunga tersebut. Lama kelamaan suara itu semakin jelas.


'Bawa aku kehati mu Marcho...'


Dengan dorongan dari dirinya, Marcho mengambil sekuntum bunga itu dan memakannya. Setelah bunga itu habis. Semua tempat itu menjadi kelam. Tanpa adanya sudut atau pemandangan indah tadi.


Ini ruang hampa.. apa yang terjadi padaku.


'Marcho... kemarilah... ambil apa yang aku akan berikan ini.'


'Siapa itu...'


Marcho berteriak mencari tau pemilik suara berat yang ia dengar.


Semakin lama ia berjalan semakin tak menemukan apapun. Marcho merasa telah lelah berjalan. Ia berhenti, menatap disekeliling nya.


,'Roberto? Kau kah itu....'


'Marcho terus lah kau hampir mendekatinya.'


Dengan tuntunan suara yang Marcho kira adalah Roberto ia terus berjalan kedepan. Ia melihat seorang wanita berdiri membelakangi nya. Marcho semakin mendekat, memegangi pundak wanita itu. Ia merasa terikat suatu hubungan.


Ketika wanita tersebut berbalik, ia terpesona akan kecantikannya. Dengan cepat ia mengingat Loli istrinya.


'Aku leluhurmu Marcho. Ulurkan tangan mu..'

__ADS_1


Marcho menuruti perintah wanita yang mengaku leluhur Marcho. Tanpa menoleh ia memejamkan matanya.


Tubuhnya seperti berguncang hebat dan terjatuh. Marcho terasa seakan akan melayang layang. Ia merasakan seseorang menepuk nepuk pipi dan lengannya..


'Marc...


Marcho bangunlah...


Marcho...'


Suara yang tadinya terdengar sangat jauh lama kelamaan menjadi dekat. Ia membuka matanya dan melihat Eleanor sedang menatapnya.


"Ibu... "


"Apa yang kau temui Marc?"


Eleanor tersenyum melihat Marcho. Ia yakin Marcho menemukan bagian dari dirinya. Marcho kembali duduk memegang kepalanya yang terasa agak sakit.


"Aku... bertemu dengan diriku. Diriku?


"Apa kau memakan bunga yang memanggilmu?" Eleanor tersenyum mendengar cerita Marcho.


"Ya.. kenapa ibu tau?"


"Karna aku juga mengalami hal serupa dengan mu. Aku tau itu... mereka akan merestui mu.."


"Mereka? Siapa maksud ibu?"


"Leluhur kita. Dengan begini aku tak lagi cemas menghadapi orang orang Mayana jika mereka menyerang kita. Kau bisa aku andalkan sayang ."


Marcho terdiam heran mencerna ucapan Eleanor. Ia berusaha mengerti apa yang dimaksud ibunya.

__ADS_1


"Aku tak mengerti maksud ibu "


"Kau akan tau nanti."


Marcho hanya mengangguk angguk. Kembali mengingat hal yang ia alami tadi.


Bagaimana bisa aku berjalan diruang hampa. Dan bunga itu seperti bunga Rosten. Dan wanita itu... benarkah ia leluhir ku? Semoga saja ini bisa membantu. Aku tak mungkin membiarkan ibu ku menghadapi semua.


Terlihat semak semak jauh disamping rumah Marcho bergerak gerak. Eleanor memasang mata untuk mengawasi keanehan itu.


"Marcho waspada lah, sepertinya mereka sudah datang. Dan ini bukan seperti jemputan. Tapi... serangan."


Mereka berdiri saling membelakangi. Melihat keanehan pada hutan disamping kediaman Marcho.


"Itu ular bu... sial. Mereka berbohong." Jantung Marcho berdetak kencang.


"Aku sudah menduganya.. Marc" Eleanor sepertinya sudah menyiapkan diri.


"Mereka akan menghabisi kita." Marcho memasang kuda kuda karna satu persatu phyton yang berukuran besar masuk kehalaman Loli.


"Kuharap kau salah bicara Marc.." Eleanor memberi semangat untuk putranya.


"Maksud ibu?"


Eleanor tersenyum melihat puluhan ular masuk ketaman Loli. Mereka menjelma menjadi manusia.


"Kau yang membunuh Ishi?"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2