SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
18. Kepergian Ferdinand


__ADS_3

Malam itu pun berlalu. Pertemuan Marcho dan keluarga nya membahas tentang kejadian terbunuhnya karyawan pos dijalan Gunung Rosten.


Sore ini setelah pulang bekerja dirumah sakit Lyodra segera pulang. Karna tadi Juliana sempat memberitahunya bahwa Ferdinand keliatan sakit.


Ia begitu cemas dengan keadaan ayahnya. Sementara Ares mengikuti mobilnya dari belakang.


"Ada apa dengan kakek buyut? Kenapa dia bisa sakit? Bukan kah keturunan srigala memiliki umur yang panjang. Aku tak tega melihat bibi yang sangat gelisah. Sekarang ia pasti sangat cemas."


Gumam Ares sambil menyetir menggelengkan kepalanya tak percaya.


Ini sudah lebih dari umur ku... apa ajalnya sudah dekat?


Bermacam macam pikiran dikepala Ares. Ia bahkan tak mendengar ponselnya yang berdering sejak tadi.


"Ah Rubi.... Aku lupa menjemputnya..."


Ares memencet tombol hijau dan langsung menyapa Rubi diseberang sana.


"Sayang..." Sapa Ares


"Ares .. kau sudah menuju kesini...? Sebaiknya kau langsung pulang saja. Aku ada operasi 2 pasien lagi. Kemungkinan akan selesai malam. Kau akan lama menunggu jika kemari sekarang."


Ares tersenyum mendengar penjelasan Rubi. Dengan begitu ia tak bisa beralasan lagi.


"Baiklah sayang .. jika memungkinkan aku akan menjemputmu nanti malam. Kakek buyut ku sedang sakit. Aku baru akan pulang." Jelas Ares juga.


"Ferdinand Tores kakek buyutmu bukan?" Tanya Rubi memastikan.


"Benar... Tadi ibu Bibi Lyodra memberitahu ku. Dia juga terlihat sangat cemas. Aku akan kabari lagi nanti."

__ADS_1


"Baiklah... Sampaikan salam ku untuk Dokter Lyodra. Semoga ayah nya cepat sembuh." Imbuh Rubi.


"Hubungi aku jika kau sudah selesai."


Ares menutup sambungan telepon nya. Tampak senyuman tersungging dari bibirnya. Ia merasa bahagia telah mendapatkan cinta Rubi. Wajita yang bertahun tahun ia idamkan.


Lyodra melajukan mobilnya dengan wajah cemas. Ada suatu hal yang tak ia beritahu pada Ares.


"Daddy... Bertahanlah... Kumohon."


turun dari mobil. Ia menyambar kotak bunga ungu Roste


Ia menatap bunga ungu Rosten yang ia letakan didalam kotak. Berharap keajaiban akan terjadi lagi pada Ferdinand.


Tak lama ia telah sampai dikediaman Tores. Lyodra buru burun.


"Lyo..."


Lyodra tak menghirau kejadian apa yang telah menimpa bibi dan saudara seayahnya. Ia hanya berpikir, bahwa mereka sedih karna Ferdinand sedang sakit.


Ia langsung masuk dan melihat Juliana yang terduduk didepan ranjang Ferdinand menangis tak kuasa menahan air matanya.


"Daddy... Aku bawakan bunga-" Lyodra langsung duduk disebelah Ferdinand yang terbaring lemah terlihat pucat.


"Sayang .. Daddy mu sudah tiada .."


Suara Juliana membuat Lyodra terpaku. Kotak yang ia bawa tadi jatuh kelantai. Beruntung bunga itu tak ikut berserakan dilantai.


"Lyo ..."

__ADS_1


Eleanor yang melihat dari luar langsung menghampiri ponakan sekaligus iparnya itu.


Eleanor memeluk Lyodra yang masih diam terpaku. Ia tak menangis, juga tak bersuara. Wajahnya datar.


Tubuh nya ambruk kebelakang dan sempat ditahan oleh Steven sebelum benar benar jatuh kelantai.


"Lyo... Lyo..."


Suara suara itu terdengar memanggilnya. Dan matanya ikut terpejam. Lyodra jatuh pingsan karna tak bisa menerima kenyataan ini.


Walaupun keturunan srigala, tapi mereka punya batas waktu untuk didunia ini. Setiap keluarga akan bergantian meninggalkan dunia fana ini.


Tapi Lyodra menganggap keluarga nya akan tetap abadi. Itu sangat tak mungkin. Tak ada keabadian bagi manusia. Keabadian hanya milik Tuhan.


Karna Tuhan yang menentukan takdir dan garis hidup manusia. Termasuk juga maut.


Ferdinand benar benar meninggalkan nya. Tuhan telah memberikannya kesempatan selama kurang dari 30 tahun untuk memperbaiki semua kesalahan nya.


Mata yang dulu terlihat garang kita tertutup rapat, dan takan pernah terbuka lagi. Dan tak ada kekuatan gaib yang bisa membuatnya tetap hidup. Kecuali atas kehendak Tuhan.


Steven meneteskan air mata mengantarkan kepergian ayahnya ke pemakaman. Sementara Lyodra yang sudah sadar, ikut berjalan mengikuti iring iringan para keluarga.


"Dad... Kenapa kakek buyut tiba tiba begini. Padahal tadi pagi aku masih melihat nya sehat. Apa sudah terjadi sesuatu.?" Tanya Ares pada Marcho.


Marcho menatap lurus kearah Ares. Ia mengangguk melihat ke arah Ares.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2