SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
Membiasakan diri


__ADS_3

Ruangan itu menjadi begitu sepi dan sunyi. Loli menerawang dengan berbagai pikiran dikepalanya.


"Seandainya memang benar terjadi bahwa Marc telah.. tiada.


Kenapa dia masih mendatangi ku. Menemani ku bahkan mengirim pesan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya."


"Sayang..."


Tiba tiba Marc sudah berada disamping Loli. Wanita itu sedikit kaget karna sudah ada suara Marc disampingnya.


"Marc... kapan kau masuk?"


"Aku selalu disini..."


"Marc..."


"Loli... aku selalu disini.. disisi mu. Tak pernah meninggalkan mu."


"Marc..."


Loli menangis, ia menatap wajah pucat yang tampan itu. Menyentuhnya. Membelainya dengan lembut.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Marc?"


Suara isakan Loli nyaring diruangan itu. Dia merasa terpukul karena telat menyadarinya. Lalu siapa suami yang selalu bersama nya.


"Sayang... aku sudah katakan padamu. Kau tak menerima. Sehingga kau berakhir ditempat ini. Aku harus menyelesaikan kesepakatan Loli. Aku juga tak bisa memastikan entah bisa kembali lagi pada mu atau tidak."


Tangisan Loli masih terdengar didalam sana. Perawat yang bertugas menjaga Loli, melihat kedalam ruangan. Di berdiri dan membuka pintu kamar Loli.


"Ada apa nona? Apa ada yang sakit?"


"Tidak sus, aku baik baik saja."

__ADS_1


"Lalu kenapa nona menangis?"


"Hanya teringat pada suamiku..."


"Tragedi itu.. semoga nona sabar menerima kenyataan ini. Hidup mu harus tetap berlanjut nona. Mereka yang telah tiada tak lagi tanggung jawab kita. Kirimlah doa untuk suami nona. Itu yang dia harapkan."


"Terima kasih sus.."


"Baiklah. Selamat beristirahat nona. Saya akan kembali keluar."


Perawat itu berjalan keluar setelah memeriksa infus Loli. Membetulkan selimut nya. Loli melihat Marc masih berdiri disampingnya. Ia sedikit tersenyum.


"Apa kau takut padaku sayang?"


"Tidak. Perawat tadi tak melihat mu?"


"Karna aku bukan lagi manusia. Kecuali kau sayang... kau adalah istriku"


"Marc... apa kah kau bisa kembali lagi?"


"Apa yang akan kau lakukan Marc?"


"Aku akan membuka kembali kehidupan kakek ku, Ferdinand Tores. Aku akan mencari tau apa yang dia perbuat dulu."


"Bagaimana kau akan melakukannya? Bukan kah dia sudah meninggal?"


"Aku merasa bodoh mengatakan hal ini. Aku akan ke pemakamannya."


"Lalu apa kau takan lagi disisiku?"


"Sayang..." Marcho mendekati Loli. Tidur disebelahnya. Memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai. Mengecup pucuk kepala Loli.


"Didunia aku bertugas sebagai polisi. Anggap saja disini aku masih sebagai petugas polisi. Aku akan tetap pulang padamu. Menemani mu... semua yang biasa kita lakukan dulu."

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya Marc."


"Terimakasih sayang... ku harap kau tidak takut padaku. Karna sewaktu matahari telah terbenam aku bisa datang pada mu."


"Aku merindukanmu Marc..."


Loli kembali menangis... ia memeluk erat tubuh dingin pria itu. Sangat dingin.


"Aku akan hangat kan tubuh mu yang hangat ini. Aku berharap kau kembali Marc"


"Sayang... aku juga sangat tersiksa Loli. Aku ingin hidup normal lagi."


"Cinta mu begitu tulus padaku Marc. Hingga tubuh mu tak bernyawa lagi. Kau masih disisiku. Aku wanita paling beruntung dicintai seperti ini oleh mu."


Marc memeluk erat Loli. Walaupun tak ada lagi kehangatan dihatinya. Selalu ketulusan ia berikan pada wanita itu.


Kenapa aku jadi seperti ini... apa yang salah dengan ku?


Loli mulai terlihat tenang. Ia terlelap dipangkuan Marc. Hingga terbangun dipagi hari.


Marc takan ada lagi dipelukannya. Ia berpikir akan bersikap tenang. Seolah olah menerima kenyataan dengan meninggalnya suaminya. Ia berusaha dengan penuh semangat untuk tetap sehat dan hidup secara normal.


Tak ada yang harus tau bagaimana ia dan Marc. Karna sungguhpun ia bercerita mereka takan percaya. Mereka akan menganggap Loli gila penuh delusi dan depresi.


Ia berjanji pada dirinya sendiri akan bisa berbaur dengan Marcho Tores... suami bayangan nya.


Semoga saja Marc cepat menyelesaikan kesepakatannya. Berjuanglah lebih keras Marc...


.


.


.

__ADS_1


Bersambungan


__ADS_2