
Ferdinand mempercepat laju pompanya. Ia memeluk erat tubuh Juliana. Juliana dalam posisi gendongan yang masih menautkan tombak milik Ferdinand. Ia mengangkat tubuh wanita itu dan menghentakan kebawah.
Melakukan sesi percintaan itu berulang kali. Hingga beberapa kali Juliana merasakan ada yang tumpah dibawahnya. Ia meremas kepala Ferdinand yang setia menghisap pu..ting buah dada Juliana.
Karena merasa mendekati puncak kenikmatan. Ferdinand membawa Juliana keatas kasur. Menggagahi wanita yang menolak nya barusan.
"Lian aku sangat mencintai mu... jangan pernah meninggalkanku..." dengan nafas yang tersengal sengal Ferdinand membisikan perasaan nya pada Juliana yang menegang merasakan pelepasan.
Saat itu Fedinand mempercepat laju pinggulnya. Ia ingin sama sama merasakan puncak bercinta bersama Juliana.
"Aakhhhh.... hooohhhh..."
Ferdinand memandang Juliana yang berada dibawahnya. Ia melihat bahwa wanita itu sangat menikmati suguhan yang ia berikan. Bahkan matanya masih terpejam dengan tubuh yang masih bergetar.
"Ferdi..." ia menatap lelaki yang sedang mengungkungnya.
"Hmmmm..." Ferdi tampak tersenyum memandang wanita yang sekarang menatapnya.
"Kau sangat lancang..." Juliana mengalihkan pandangan ketubuh mereka yang sama sama polos.
Ferdinand menggoyangkan kembai pinggulnya. Karena tombak nya masih senang bersemayam dibagian bawah Juliana. Seketika Juliana berteriak akibat geli. Ia mere..mas lengan keras milik lelaki yang tersenyum dengan seringai nya.
"Aku akan melakukan nya lagi.. jika kau masih tetap menolak ku.."
__ADS_1
"Aku akan sangat menikmati nya sayang..." senyuman seringai Juliana membuat Ferdinand merasa harus melakukannya karna ia telah mampu memenangkan hati wanita ini.
Ia melancarkan kembali aksi yang menandakan bahwa seorang Ferdinand seorang lelaki yang perkasa.
.
.
Beberapa jam sebelumnya..
"Apa tidak apa apa meninggalkan kakek dan Juliana?" Marcho bertanya pada ibunya.
Eleanor tersenyum melihat tingkah Marcho yang keliatan cemas. Ia menoleh pada Loli yang nampak kedinginan.
"Sayang... ayo kedalam disini sangat dingin untuk mu." Marcho merangkul tubuh istrinya kedalam dekapannya.
"Aku sekarang.berada diantara keluarga srigala. Apa kau yakin Marc? tak ada sesuatu yang bisa merubahku menjadi seperti kalian?"
Loli menatap hangat menatap Marcho. Keinginannya sangat besar untuk menjadi bagian dari keluarga suaminya.
"Sayang... tak ada yang bisa merubahmu untuk menjadi seperti kami. Percayalah... hidup sebagai manusia lebih nikmat dan terasa normal. Jika aku bisa memilih aku berharap tak lahir dari seorang ibu srigala. Jangan merubah ketentuan yang telah ada."
Marcho meyakinkan istrinya yang terobsesi menjadi srigala. Ia juga tak mengira Loli bisa berkeinginan yang tak akan pernah terjadi. Bahkan jika saat dia mati sekalipun.
__ADS_1
"Ayo kedalam sayang... udara diluar sangat dingin. Menusuk ketulang tulang ku... bahkan jantungku seakan membeku.." Marcho berhiperbola mengekpresikan rasa dingin pada Loli. Agar dia mau maduk kedalam rumah Juliana.
"Kau sangat aneh Marc... belajar dari mana kata kata itu..." Loli terkekeh mendengar perkataan suaminya.
"Udara malam yang dingin ini... menuntun lidah ku untuk berucap sayaaang..."
Loli kembali terkekeh mendengar susunan kata kata yang diucapkan Marcho.
Sementara Eleanor dan Steven masih berada didepan unggun api yang biasa Juliana nyalakan. Mereka menatap anak dan menantunya.
"Stev... bagaimana cara Marc dan Loli pulang nanti. Aku mencemaskan mereka. Orang orang Mayana takan melepaskan mereka. Karna yang Marcho bunuh jelmaan putra mereka."
Eleanor membahas tentang seekor phyton yang dibunuh oleh Marcho saat menuju perjalanan mencari kediaman Juliana.
"Nanti kita bicarakan dengan Juliana. Ia tentu lebih mengenal orang orang Mayana."
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1