
Tiba tiba Rubi sudah berada dipangkuan Ares berhadapan dengannya. Ares terkejut dan menahan nafasnya. Tubuhnya benar benar merasakan gelenyar yang aneh. Terasa panas sampai ke kepalanya.
"Apa yang kau lakukan??" Tanya Ares bingung harus bertanya apa.
"Kenapa kau tak memelukku sayang?" Tanya Rubi dengan tatapan menggoda.
Tangan Ares memeluk tubuh Rubi dan dengan hangat, ia memejamkan matanya. Sesuatu bisa terjadi jika mereka terus seperti ini. Dan bagi Ares ini sangat tak bagus. Nanti semua akan berjalan tak sesuai rencananya.
"Rubi... Turunlah dari pangkuanku.." pinta Ares dengan suara pelan. Tak ingin wanitanya tersinggung atau marah.
"Aku tak bisa berpura pura didepan mu lagi Ares. Biarkan lah keadaan sekarang, inilah diri ku yang sebenarnya. Aku tak akan malu lagi." Rubi berbicara tepat disamping telinga Ares.
Sebagai pria ia seakan tertantang, mengetahui sifat Rubi yang tiba tiba menjadi sedikit agresif.
"Rubi... Ini tak bagus untuk mu!" Ares tetap berusaha bertahan.
Jantungnya sekarang seakan mau lepas, hasrat yang telah lama ia pertahankan, tak mungkin akan ia lepaskan begitu saja. Ia merasa sangat bajingan jika sampai berbuat demikian.
"Ares jangan membuatku merasa malu" lirih Rubi. Suara nya kali ini terdengar manja didekat telinga Ares.
"Sayang jangan membuat perisai ku hancur..." Mungkin ini kata kata terakhir dalam senjata pertahanan Ares.
"Kenapa?" Rubi seakan mengabaikan peringatan Ares.
__ADS_1
"Mungkin aku takan bisa menahannya lagi."
Ares mengangkat kepala Rubi, menatapnya sesaat. Nafasnya sudah memburu. Bahkan mungkin senjatanya yang tegak sudah bisa dirasakan Rubi.
Ia mendaratkan sebuah ciuman dengan hasrat tingkat dewa. Kaki ini begitu berbeda. Mereka berdua terhanyut dengan goyangan lidah mereka didalam sana.
Ia melepaskan sebentar. Menatap Rubi dengan mata berkabut nya. Seakan mendapat lampu hijau dari Rubi. Karna wanita itu meremas lengannya yang kekar.
Ares memberikan ciuman terbaiknya untuk wanita dipangkuan nya. Kali ini, tubuh mereka begitu menempel. Tak tahan merasa kan tonjolan Rubi yang menempel pada dadanya.
Ia memasukan tangannya kedalam pakaian Rubi. Merasakan benda kenyal yang selama ini terpampang indah ditubuh Rubi.
Suara wanita itu berganti rintihan penuh hasrat. Dan ia tak lagi membalas ciuman Ares. Mulutnya dibiarkan terbuka agar Ares lebih menjelajahi dengan mudah.
Tanpa Rubi sadari pakaian bagian atasnya sudah terlepas, dan mulut Ares dengan rakus menyesap bagian kenyal Rubi. Desa..han Rubi tak tertahan lagi. Ia bahkan menjambak rambut Ares. Karna ini kali pertama baginya, Rubi merasakan sentuhan dibagian sensitif nya, dan yang disentuh oleh seorang pria.
Ares tiba tiba terkejut melihat Rubi yang mulai memegang senjatanya yang sedang berdiri kokoh.
"Sayang... Apa kita akan melakukannya?" Tanya Ares berbisik pada Rubi dengan nafas terengah engah.
Tangan Rubi kini telah membuka resleting Ares. Ia seperti tak sadar diri. Keadaan nya yang sekarang sudah polos, serta Ares yang sudah bertelanjang dada.
Matanya terbelalak melihat benda itu berdiri menantangnya. Mengusap dengan kedua tangannya. Sementara tangan Ares masih betah dibenda kenyal milik Rubi.
__ADS_1
Ia sesekali memejamkan mata dan menggeleng, merasakan tangan lembut Rubi dibagian bawahnya.
Ares merebahkan kepalanya kesandaran sofa. Mencoba menikmati perlakuan manja Rubi padanya.
Ia mendesah keras saat Rubi memasukan senjatanya kedalam mulut. Ia tak percaya dan mengangkat kembali kepalanya. Melihat atraksi Rubi dengan suara nakalnya.
Ares membelai rambut Rubi yang tergerai. Sesekali ia memegang bagian kenyal Rubi yang bergoyang naik turun karna gerakan tubuhnya sedang memompa Ares dengan mulutnya.
"Ares... Aku menginginkannya..." Rubi menatap Ares dengan mata sayu.
.
.
.
Gantung dikit... seeeet... 🤭
Cie yang penasaran....
Dukung terus Author dengan Like and Vote nya ya ..
__ADS_1
Author juga senang diberi hadiah .. apa ajah...🤭😍😘😘