SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
25. Jadilah istriku


__ADS_3

Karna diserang tiba tiba, Rubi terbelalak. Ini ciuman kedua kali mereka. Setelah ini akankah ada ciuman ketiga dan seterusnya? Atau lebih dari sekedar ciuman?


Lagi... Ciuman yang malu malu tapi memabukan, membuat kedua insan tersebut saling terbuai. Apalagi dukungan ruangan yang sepi. Hanya ada mereka berdua disini.


"Ares...." Nafas Rubi terengah engah.


Tanpa menunggu jawaban Ares ia langsung memeluk tubuh pria yang sekarang menjadai kekasihnya.


"Aku mencintaimu..."


Kata kata Rubi sontak membuat Ares seperti terbang kelangit. Tubuhnya memanas, dan jantungnya semakin berdetak kencang.


Sebuah respon saat seseorang mengungkapkan kan perasaannya. Walaupun cinta itu telah mereka rasa, tapi dengan memberitahu secara langsung akan mempererat rasa itu sendiri.


Dan cinta, hal yang takan pernah bisa dilihat, namun dengan sentuhan kasih sayang maka ia akan merasakan.


"Rubi... Jadilah istriku..."


Disaat bersamaan, ketika hati mereka terasa ditumbuhi bunga bunga indah dunia. Ares melamar sang pujaan hati.


Bagaimana aku bisa menolak... Aku hampa tanpa mu Ares. Selama kau mencari ku.. selama itu juga aku menunggumu...


Rubi menatap dengan lembut dan mesra mata pemilik hatinya. Memantapkan hati untuk sebuah jawaban yang akan ia keluarkan.


"Sayang...?" Ares kembali memanggilnya.


Rubi menarik wajah Ares dan mengecup kelopak mata indah pria tampan dihadapannya.


"Untuk waktu mu yang telah lama menungguku..."


Kemudian ia menarik lagi wajah Ares dengan mengecup lama kening pria itu. Bibir hangat yang lembut sangat ia nikmati.


"Untuk keberanian mu... Dan.."


Rubi menarik lagi wajah Ares dan mengecup lama bibirnya. Ares menunggu apa yang sedang dipikirkan Rubi.


Ini sebuah kecupan hangat penuh kasih sayang...

__ADS_1


Batin Ares.


"Dan untuk hatimu yang ingin memperistriku..."


Rubi melanjutkan lagi sebuah ciuman yang sekarang berganti dengan Luma..tan panjang.


Gadis ini sangat romantis...


Dia menyembunyikan selama ini.


"Ares.. ku tunggu kau ..."


Rubi menaikan tangannya kedepan Ares. Dan pria gagah itu mengerti dengan menyemat kan sebuah cincin yang terpasang dikelingkingnya.


Kini cincin itu berpindah kejari manis Rubi. Sangat indah.


"Kau menerimaku... Terima kasih sayang .."


Ares Kembali memeluk hangat tubuh Rubi dan mengangkatnya dengan berputar putar.


Sesuatu yang terinjak oleh Ares membuat kakinya terkilir dan...


Mereka terjatuh kelantai. Dengan menahan rasa sakit, Rubi keluar sari pelukan Ares dan menatap dengan cemas wajah pria yang telah melamarnya.


"Maafkan aku sayang... Seharusnya kita terjatuh kesanaa..."


Area menunjuk kearah ranjang. Dan kompak mereka saling melempar tawa.


"Ahahahahhaha...."


"Aku akan membantumu..."


Rubi membantu Ares untuk bisa duduk di tepi ranjang.


"Dimana salepnya?"


"Ada di laci nakas itu.."

__ADS_1


Rubi mengambil sebuah kotak kecil yang berisi alat alat medis untuk pengobatan sementara. Ia mengoleskan salep kebagian kaki Ares dengan lembut.


Tatapan penuh cinta itu tak pernah teralihkan dari wajah Rubi yang sedang fokus mengobati nya.


"Temani aku disini..." Pinta Ares.


Rubi mendongak melihatnya dan tersenyum. Ia sedikit berpikir, apa yang terjadi jika seorang pria dan wanita dalam satu ruangan yang sepi. Sangat mengundang keluarnya hasrat yang selama ini terpendam.


"Aku takan menyentuhmu hingga kita menjadi suami istri..."


Ares mengangkat tangan nya dengan jari membentuk huruf V.


"Aku berjanji... Tak akan menyentuh mu... Sebelum saatnya tiba."


Kata kata untuk meyakinkan hati gadis itu terulang lagi. Tanpa jawaban yang pasti Rubi hanya memberikan senyuman untuk prianya.


"Sayang... Aku harus menjaga etika, dan sekarang disini seluruh keluarga mu sedang berduka. Juag tak pantas rasanya seorang gadis bermalam di kamar seorang lelaki dengan status yang belum pasti. Apalagi ditengah keluarga mu...


Mungkin bagi sebagian orang itu tak masalah. Namun berbeda denganku. Ini hanya sebuah prinsip sayang .."


Rubi duduk disamping menggenggam jemari Ares.


"Saat nya akan segera tiba... Tunggulah .."


Ia kembali memeluk tubuh kekar Ares. Dan Ares pun membenarkan apa yang telah diucapkan Rubi. Tinggal dinegara bebas bukan berarti harus mengikuti kebudayaan yang seperti kehidupan bebas.


Semua tergantung pemikiran dari setiap manusia. Ingin melakukan hal yang salah, atau benar benar menunggu sesuatu yang sudah menjadi haknya. Itu tergantung pilihan...


.


.


.



Berikan Author dukungan berupa like, vote , hadiah dan komentar menarik kalian.. agar Author lebih semangat lagi ..

__ADS_1


Salam cintooh ..


__ADS_2