
'Eli.. janin diperut Loli sangat kuat. Ia sama dengan kita. Kurasa Loli takan mampu bertahan jika janin itu tak segera dikeluarkan. Ia akan sering merasakan hal panas dari tubuhnya.'
'Tapi apa Loli juga akan berubah seperti kita Lian?'
'Tidak.. dia akan tetap menjadi manusia biasa. Hanya saja... aku mengkhawatirkan keadaan tubuhnya. Kau lihat saja sekarang. Baru beberapa hari ia tumbuh keadaan Loli sudah lemah seperti ini.'
'Ya aku tau Lian. Kurasa tak mungkin jika mereka tak mempunyai keturunan bukan.'
Percakapan Eleanor dan Juliana selalu terngiang ngiang ditelinga Marcho. Ia tak siap jika sesuatu terjadi pada Loli.
Marcho menatap Loli yang sedang tertidur. Ia berjibaku dengan kepalanya. Antara keegoisan dan keinginan, menimbang nimbang hal mana yang mesti ia perbuat.
Loli yang sedang nyenyak tidur tiba tiba berteriak. Ia kejang kejang, seluruh tubuhnya bergetar. Marcho yang sedang termenung, ketika melihat kejadian itu langsung menghambur kearah Loli.
"Loli... ada apa sayang.. Loli..."
Seluruh tubuh Loli berkeringat dan panas. Marcho membuka selimutnya karna tadi pagi ia merasa sangat kedinginan.
"Ada apa Marc?" Eleanor langsung mendekati Loli. Ia memeriksa keadaan Loli raut wajah nya terlihat gusar.
"Panggil Juliana... cepat!!"
Marcho keluar kamar mencari keberadaan Juliana. Ia mencari kesegala ruangan. Ternyata Juliana sedang duduk ditaman bersama Ferdinand dan Steven.
"Bibi, itu.... istriku...."
Kemudian Marcho kembali masuk kedalam kamarnya. Mereka yang diluar berhamburan masuk rumah. Bergegas masuk kekamar Marcho.
__ADS_1
"Loli... "
Juliana memegang tubuh Loli yang berkeringat dan panas. Ia berlari keluar kamar Loli. Tak berapa lama Juliana kembali lagi dengan membawa beberapa botol obat.
"Marcho.. lepaskan bajumu!"
Buru buru Marcho melepaskan bajunya. Tanpa bertanya apa apa pada Juliana. Kemudian Juliana mengolesi sesuatu ketubuhnya.
"Ferdi, Steven... tolong tinggalkan kami sebentar"
Dengan arahan Juliana Ferdinand dan Steven meninggalkan ruangan itu.
"Bibi, apa ini?" Marcho memberanikan diri membuka suara pada Juliana.
"Sekarang lepaskan juga celana mu Marc. Balurkan ini keseluruh tubuh mu."
Juliana juga membuka seluruh pakaian Loli. Hanya menyisakan pakaian dalam.
Dengan sigap Eleanor membalurkan sesuatu ketubuh Loli yang masih kejang. Ia sangat cemas akan keadaan Loli. Juga janin dirahimnya.
"Marcho, minumkan ini pada Loli. Lalu kau peluk dia hingga suhu tubuhnya kembali normal. Tempel kan semua tubuhnya ketubuhmu. Agar obat ini bereaksi."
Marcho tidur disamping Loli. Ia memeluk erat istrinya yang sejak tadi tak sadarkan diri. Air mata nya menetes melihat menatap Loli wanita tercintanya.
"Ayo kita keluar..." Juliana dan Eleanor berjalan keluar kamar.
"Bibi, bisa kau buat Loli agar tak hamil? Aku tak kuat melihat nya." Marcho menolehkan kepala melihat Juliana.
__ADS_1
"Semua akan baik baik saja Marc"
Pintu kamar mereka tertutup. Marcho Fokus dengan Loli. Kali ini tubuhnya bergetar hebat. Marcho berusaha menghilangkan dengan mengeratkan pelukannya.
Sayang.. sadarlah... aku rela jika kita tak mempunyai anak sayang. Kumohon relakan dia.. aku tak sanggup melihat mu begini Loli.
Setelah beberapa lama tubuh Loli mulai tenang. Ia sudah bisa membalas pelukan Marcho.
"Sayang... kau baik baik saja?" Marcho mencoba melihat kearah Loli.
"Uhuumm.." namun bukan jawaban yang diinginkan Marcho.
"Loli, kau mendengarku?" Ia mengulangi memanggil Loli.
"Aku hanya ingin disisimu. Kita pertahankan anak ini Marc, aku menginginkan nya.."
Mata Loli masih terpejam dan ia mulai merasa normal. Tak kepanasan lagi. Dalam hatinya ia menangis mendengar Marcho ingin menggugurkan kandungan nya.
Memang benar ia tak pernah merasakan gejala seperti sekarang ini. Hanya ingin berpikiran jernih. Jika semua hal bisa terjadi disaat hamil. Jadi dia harus siap menghadapinya.
"Tapi sayang..." Marcho merenggangkan tubuhnya dengan Loli.
"Aku menginginkan mu Marc..." dia menatap hangat suaminya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung