SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
Meninggalkan Gunung Rosten


__ADS_3

Malam ini begitu hangat bagi Ferdinand, setelah perubahan nya kembali. Ia juga mendapatkan kembali cinta pertamanya yang telah lama hilang.


Unggun api memberikan kilasan cahaya temaram pada wajah cantik dan tampan didepannya. Semua tampak menikmati kebahagiaan saat ini. Mereka lupa sesuatu menunggu didepannya.


"Loli tidurlah... kau boleh gunakan kamar ku. Karena diruang tamu masih sangat dingin" ucap Juliana pada Loli.


"Marcho temani istrimu sebentar.." Steven menyambung ucapan Eleanor.


"Selamat malam semua .."


Loli dan Marcho meninggalkan kebersamaan mereka. Marcho melihat wajah kecemasan pada Eleanor. Dia belum banyak mengerti tentang sesuatu hal.


Sayang.. segeralah keluar saat istri mu tertidur. Ada satu masalah lagi yang harus kita bahas.


Eleanor berbicara dengan khas mereka bangsa srigala. Ia hanya menginginkan Marcho yang mendengar. Maka tak ada telinga yang akan mendengarkan.


Marcho mengangguk mengerti melihat pada Eleanor. Ia mengantar Loli sesuai ucapan Juliana.


"Juliana, sebenarnya ada masalah saat Marcho menuju kesini." Eleanor membuka percakapan.


Wajah Juliana yang tampak bahagia langsung berubah serius setelah mendengar ucapan Eleanor.


"Apa yang terjadi?" Tanya Juliana antusias.

__ADS_1


"Marcho membunuh seekor phyton yang berusaha melukai Loli. Hingga ular itu mati." Steven menjelaskan. Tapi wajah Juliana berubah menjadi sebuah senyuman. Karena bagi nya biasa saja membunuh seekor phyton. Jika itu hanya ular biasa.


"Kau tak mengerti Juliana, phyton yang mereka bunuh adalah jelmaan putra kepala suku Mayana." Jelas Eleanor lagi.


Kali ini mata Juliana membelalak mendengar nama Mayana. Ia melihat ke semua arah disekeliling rumah nya. Merasa ada yang sedang mengawasi mereka.


"Lebih baik kita masuk segera.. sekarang!"


Juliana langsung berdiri diikuti oleh Ferdinand dan yang lainnya. Ia buru buru menutup semua pintu yang masih terbuka.


"Ada apa sayang?" Ferdinand menyelidiki tingkah Juliana yang tiba tiba aneh.


Wanita itu tetap tak menjawab. Ia mengambil sebuah tas besar. Memasukan beberapa bunga Rosten yang tumbuh. Dan beberapa ramuan yang diracik nya sendiri.


"Ada apa Juliana?" Tanya Steven yang sangat tak mengerti.


"Mereka telah disini sejak tadi. Hanya menunggu kita lengah lalu mereka akan menyerang. Jika kau bicara soal Mayana dihutan ini. Phyton keturunan Mayana seperti mendapat signal untuk menyerang sesuatu. Karna kita bukan bagian dari mereka." Jelas Juliana.


"Aku juga merasakan dari tadi sayang, ada sesuatu yang mengintai kita sejak kita duduk diluar." Ferdinand yang juga merasakan sesuatu yang aneh akhirnya buka suara.


"Ada apa? Kenapa kita harus pergi sekarang? Ini sudah sangat larut." Marcho keluar dari kamar memangku istrinya.


"Kita akan berjalan kearah timur.. ketempat yang tak pernah dilewati siapapun. Tapi aku pernah melewati beberapa jalan rahasianya." Juliana menatap semua tamunya.

__ADS_1


"Bersiap siap lah, berubahlah jika kalian ingin cepat meninggalkan tempat ini. Ikuti aku.."


Empat ekor srigala berdiri diruangan itu. Hanya Loli dan Ferdinand yang manusia. Loli sigap naik kepunggung Marcho. Ia merendahkan tubuhnya. Dan memberi pegangan yang kuat pada pundak Marcho.


Sementara Juliana menatap Ferdinand yang tak melakukan perubahan apa apa.Ia juga melihat kearah Steven dan Eleanor. Mungkin bertanya tanya dengan perubahan yang tak dialami Ferdinand.


Sayang, naiklah ke punggung Steven. Jika kau merasakan hal panas dari tubuh mu, melompatlah ke arah yang tak jauh dari kami.


Ferdinand seolah mengerti ia kemudian naik kepunggung Steven dan membungkuk seperti yang Loli lakukan.


"Marc, berhati hati lah... aku disisimu" Loli berbisik pada telinga Marcho dan mengecup pundaknya.


Sayang aku akan menyelamatkan mu. Aku takan membiarkan mereka menyakiti mu.


Juliana keluar dengan perlahan kemudian langsung berlari kearah timur yang ditunjuk sebelumnya. Eleanor. Marcho dan Steven mengikuti jejak nya.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2