SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
14. Merasa bersalah..


__ADS_3

"Rubi...."


Ares berlari lari kecil mengejar wanita yang selama ini ia idam idamkan. Dengan satu kali panggilan Rubi langsuang berhenti dan membalikan tubuhnya kebelakang melihat Ares yang menghampirinya.


"Ada a..."


Ucapan Rubi terpotong karna Ares langsung memeluknya. Sudah beberapa minggu ini mereka tidak bertemu.


"Aku merindukanmu Rubi..."


Wajah wanita itu merona seketika saat masuk kepelukan Ares. Darahnya mengalir deras dengan detak jantung yang tak tak berima.


Ares melonggarkan pelukannya. Ia sedikit membungkuk untuk melihat wajah cantik Rubi.


Jika benar aku dan dia punya kemampuan yang sama, seharusnya ini akan berhasil..


Ares mendekatkan wajahnya kedepan wajah Rubi. Ia menyentuh permukaan bibir Rubi dengan bibirnya. Dan itu membuatnya semakin penasaran.


Tidak cukup dengan sebuah sentuhan. Ares memperdalam ciuman pertama bagi Rubi.


Wajah nya memerah bagai kepiting rebus. Matanya melotot menanggapi serangan dadakan.


Ares cukup senang karna Rubi tak menolak atau pun marah. Namun ia tetap mengontrol dirinya. Karna situasi tempat yang tidak tepat untuk terus mrlanjutkan.


Ares melepaskan pagutannya dengan Rubi. Ia menatap Rubi yang masih terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Ares.


"Maaf...."


Ares menjaraki tubuhnya dengan Rubi. Menunggu apa yang akan dilakukan Rubi padanya.


"Apa yang baru kau lakukan Tuan Ares??"


Suara Rubi terdengar bergetar bicara tanpa menatap Ares. Ia merasa telah terlecehkan oleh perbuatan Ares yang tanpa izin memperlakukannya.


"Aku hanya terbawa emosi Rubi.."


Ares merasa bersalah atas perlakuannya tadi. Bagaimana Rubi tak marah ia melakukan didepan umum.

__ADS_1


Para perawat yang lewat menyaksikan mereka dengan menutup mulutnya.


Tanpa menjawab pernyataan Ares, Rubi berjalan cepat keruangan nya.


Ares yang melihat Rubi meninggalkannya hanya terpaku ditempatnya. Ia tak berani mengejar Rubi keruangannya.


"Apa yang kau lakukan itu salah Ares.. minta maaflah pada nya."


Ternyata Lyodra melihat apa yang telah diperbuat ponakannnya tersebut.


Ia pun berlalu pergi keruangannya. Sementara Ares masih terdiam berdiri mematung disana. Saat ini ia tak berani menemui Rubi.


Dasar bodoh... Apa yang telah kulakukan tadi.


Seandainya aku bisa mengulangi waktu. Dan takan ku ulangi lagi.


Ponselnya berdering saat masih berjibaku dengan pikirannya.


Rubi??


"Apa kau tak ingin meminta maaf pada ku?"


Suara Rubi seperti bom waktu baginya. Yang sewaktu waktu bisa meledak.


"Rubi ..."


"Sudahlah jangan bertele tele! Cepatlah kesini aku akan berikan kau pelajaran!"


Ucapan Ares dipotong oleh Rubi. Dan selesai percakapan tersebut, sambungan ponsel langsung diputiskan oleh Rubi.


Ares menepuk dadanya yang masih berdetak kencang.


Apa yang terjadi dengan ku kali ini.


Hanya seorang wanita bisa membuat ku setakut ini?


Bahkan ia bukan monster atau srigala.

__ADS_1


Setelah memutuskan sesuatu, Ares langsung berjalan menuju ke ruangan Rubi.


Ia masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu.


"Ternyata kau tak punya sopan santun Tuan Ares?"


Sapa Rubi setelah Ares tiba tiba masuk kedalam ruangannya.


"Rubi... Aku sungguh menyesal..."


Ares mengucapkan dengan wajah memelas. Ia berharap Rubi mau memaafkan nya.


"Duduk lah .. aku akan memesan kopi untukmu."


Rubi menelpon seseorang dan telepon itu diletakan Kembali.


"Rubi..."


Ares tak jadi melanjutkan ucapannya. Ia melihat Rubi tersenyum dan duduk disebelahnya.


"Rubi... Aku benar benar..." Ucapan Ares terpotong.


"Menyesal?" Lanjut Rubi.


"Bukan itu maksudku..." Jelas Ares.


"Lalu apa?" Tanya Rubi.


"Aku hanya takut kau marah padaku..." Lanjut Ares.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2