
"Syukurlah Marc... itu yang selalu kuharapkan. Adanya keajaiban." Loli mengalungkan tangannya ke leher Marc.
"Apa karna kita bercinta? Atau karena keyakinan mu padaku? Atau.... memang seperti ini perubahan dibangsa ibuku?" Marc menurunkan Loli ke atas tempat tidur.
"Marc... "
"Tidak apa apa sayang. Sepertinya aku harus mandi. Badan ku terasa gatal." Marcho masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak berapa lama ia keluar dari kamar mandi. Mengambil pakaian dari dalam lemari. Perasaan nya saat ini sangat aneh. Bahkan perutnya bersuara minta diisi.
"Apa kau lapar Marc?" Tanya Loli yang juga bersiap kekamar mandi.
"Sepertinya ... ahahha... aku sangat lapar." Ia tertawa mengingat apa yang dirasakannya sekarang. Melihat itu Loli juga tersenyum. Ia bahagia dengan keadaan sekarang.
"Sebentar, aku akan siapkan." Li bergegas kekamar mandi. Tak berapa lama Loli sudah berpakaian dan keluar dari kamarnya guna menyiapkan makanan untuk Suaminya.
Marc mendekati Loli yang sedang memotong sayuran. Ia melihat kesana kemari. Seperti mengendus mencari sesuatu.
Kemudian ia membuka lemari pendingin. Mengambil beberapa potong daging. Ia membawanya menatap sebentar.
"Apakau mau makan daging sekarang marc?" Tanya Loli pada Marc uang terus menatap daging ditangannya.
Ia membuka plastik daging itu. Mengambil pisau dan memotong sedikit daging itu. ***** ingin memakan dging didepannya. Dengan nafas yang terburu buru Marc melahap daging tersebut. Hatinya merasa puas setelah memasukan sepotong daging keperutnya.
***** hendak makan daging itu bertamb besar setelah ia menyicipinya. Marcho mengeluarkan seluruh daging dari kulkas. Loli yang sejak tadi memperhatikan tingkah Marcho menghentikan aktivitasnya memotong sayuran.
__ADS_1
Tanpa menegur. Loli terus memperhatikan Marcho. Mungkin ia memang sebangsa yang sama dengan ibunya. Tapi apa itu Loli tak pernah bisa menemukan jawaban.
Marcho sangat lahap memakan empat bungkus daging. Merasa kurang ia mengambil dua bungkus ayam potong kedalam kulkas
Marc lupa jika disana ada Loli istrinya. Ia mengendalikan keinginannya untuk makan banyak.
"Sayang maafkan aku..." Marc melihat Loli.
"Teruskan lah... aku lebih senang melihat mu seperti ini. Apa kau mau aku ambilkan daging lagi?" Loli tersenyum menatap Marc.
"Cukup ini saja..." Marc melsnjutkan makannya. Loli meletakan sepiring sayuran dan segelas minum didepan Marc.
"Apa nantinya kau akan tetap bisa menemui kakek Ferdinand Marc?" Tanya Loli cemas.
Pertanyaan Loli sebenarnya tak bisa dijawab Marc. Dia juga cemas jika tak bisa lagi bertemu dengan Ferdinand .
Dia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Sesuatu yang rasanya bisa menyerang. Tubuhnya pun kini sudah berhawa panas.
Sejak makan tadi jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Sesuatu yang tak dirasakannya beberapa hari ini. Apa yang terjadi pada Marcho?
.
.
"Hahahahha... kau tenang saja. Putra mu kini telah mengikuti jejakmu Eleanor. Aku menyaksikan sendiri bagaimana perubahannya." Jawab seseorang bersuara berat disebuah tempat.
__ADS_1
"Benar kah Tuan? Aku sangat senang." Jawab wanita cantik yang bernama Eleanor itu.
"Dia pasti merasa dipermainkan El, tapi kau sudah cukup tepat mengembalikan jiwa dan tubuhnya." Jawab lelaki tua itu lagi.
"Tanpa bantuanmu ini takan terjadi Robert." Eleanor mendekati pria itu dengan sedikit membungkuk.
Robert berjalan kearah Eleanor. Ia menyentuh pundak wanita cantik itu. Dan menghilang bersama berjalan nya jarum detik jam dinding Eleanor.
"Maafkan ibu Marc. Ibu harus memberikan mu bakat keturunan kita. Jika tidak kau akan berakhir seperti kakek mu." Eleanor bergumam saat meninggalkan ruangan itu.
"Sayang..." seorang pria tersenyum melihat kearah Eleanor.
"Steven, semua sudah sesuai dengan rencanamu."Eleanor melompat masuk kepelukan Steven.
Mereka masih terlihat muda. Faktor umur tak berpengaruh pada mereka. Semenjak Steven memutuskan menjadi salh satu bangsanya. Dia juga mengalami hal yang sama seperti Marcho.
Tapi kenapa Robert yang selama ini mengurung Marc ternyata membantunya. Apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1