
Dengan bantuan dan juga petunjuk Steven, Danny bisa kembali kewujud manusianya.
"Ares... Apa aku bermimpi? Mengalami hal ini bersamaan dengan mu..." ucap Danny ketika Ares mendekat.
"Benar... kau dalam dunia mimpi sekarang ini Danny. Sudahlah teman... Sebaiknya kita bahas nanti saja. Lebih baik sekarang kita pulang." Ajak Ares.
"Ayah... Kau baik baik saja?" Tanya Marcho mendekati Steven.
"Anak itu menyusahkan ku..." Jawab Steven.
Senyuman sudah terlihat dibibirnya walaupun masih sedikit. Kejadian hari ini setelah pemakan Ferdinand benar benar menguras pikiran mereka.
Banyak hal yang masih terpikirkan olehnya. Sebuah kejadian yang tiba tiba. Mereka tak dibiarkan untuk beristirahat barang sejenak.
"Bagaimana perasaan mu Ares?" Tanya Steven memeluk cucunya saat berjalan menuju kediaman mereka.
"Baik kakek... Aku seperti terlahir kembali. Tubuh ku terasa sangat bersemangat." Jawab Ares senang.
"Jangan gunakan kemampuan kalian untuk hal yang tidak baik, atau sekedar untuk pamer... Pemerintah bisa bisa akan menangkap keluarga kita. Gunakan apa bila kalian benar benar dalam keadaan sulit. Dan jangan sombong... Ferdinand tak menyukai lagi kata kata itu..." Jelas Steven.
"kami mengerti..." jawab Ares dan Danny serentak.
"Paman... Bolehkah kita berubah dan berlari agar cepat sampai dirumah? Ini sangat jauh..." Rengek Danny pada Marcho.
"Kenapa tidak..."
Sekumpulan srigala sedang berlari dihutan menuju kediaman Tores. Benar saja mereka hampir sampai.
Dari jendela Eleanor yang tersenyum menanti kedatangan keluarganya.
"Lian.. mereka datang..."
__ADS_1
Semua mata tertuju pada empat ekor srigala yang berukuran 10 kali lebih besar dari ukuran srigala biasa.
"Itu sangat keren.." sambung Rubi yang melihat Ares berjalan menuju rumah.
"Kalian sudah pulang ..? Istirahatlah... Hari ini pasti melelahkan. Sebentar lagi gelap." Titah Juliana pada semua.
"Sayang... Bermalam lah disini..." Pinta Eleanor pasa Rubi dan Danny.
"Aku akan menelpon ayah untuk memberitahu nya.." Danny segera mengambil ponselnya dan menjauh dari sana menghubungi Tuan Samuel.
"Tapi Danny..." Rubi menghentikan ucapannya saat Ares mendekatinya.
"Apa kau ingin pulang?" Tanya Ares berdiri tepat dihadapannya.
Memperhatikan Rubi dengan seksama. Ada keanehan pada Rubi saat melihatnya. Ia sedikit bergidik berdekatan dengan Ares.
"Ti tidak... Terserah Danny saja." Jawab Rubi terbata bata. Ia bahkan tak melihat wajah Ares.
"Apa kau takut padaku sekarang Rubi?" Tanya Ares dengan mendekatkan lagi tubuhnya pada Rubi.
"Kenapa kau sangat susah sekali bicara sekarang?" Tanya Ares yang kini mendekatkan wajahnya kedepan wajah Rubi.
"Jangan begini... Aku hanya takut..."
Akhirnya Rubi mengakui perasaannya..
"Aku takut kau kenapa napa tadi." Ia menyambung lagi ucapannya yang terputus.
"Ikut aku..."
Ares membawa Rubi kekamarnya. Ia tak sabar ingin memeluk kekasihnya. Dan itu akan memalukan jika ia lakukan dihadapan keluarganya, apalagi Danny.
__ADS_1
"Aku terlihat menakutkan dimata mu Rubi?"
Ucapan Ares padanya, bukan membuat nya merasa bersalah. Namun ia justru tersenyum. Beruntung Ares tak melihatnya. Karna ia berada dibelakang Ares saat menaiki anak tangga.
Bagaimana mungkin, pria yang sangat tampan ini menakutkan? Justru ia semakin menggemaskan.
Karna tak ada jawaban, Ares yang sudah sampai didepan pintu kamarnya menoleh kebelakang.
Gadis ini... Malu malu untuk mengakui ketampanan ku. Rubi... Ia semakin cantik setelah sampai disini.
"Sayang... Kau menertawakan ku?" Tanya Ares tiba tiba.
"Haah??... Tidak.. aku hanya .."
Ia langsung ditarik kedalam kamar oleh Ares.
"Hanya....?" Lanjut Ares menerus kan ucapan yang terpotong tadi.
"Aku..."
Ares langsung melu..mat bibir indah Rubi. Tak memberikan ruang untuk nya berbicara.
Karna diserang tiba tiba, Rubi terbelalak. Ini ciuman kedua kali mereka. Setelah ini akankah ada ciuman ketiga dan seterusnya? Atau lebih dari sekedar ciuman?
.
.
.
__ADS_1
Berikan Author dukungan berupa Like, vote, hadiah and koment menarik kalian. agar author lebih semangat lagi...
salam cintoh