SELALU DISISI MU

SELALU DISISI MU
Aku juga polisi


__ADS_3

Mata Loli mengerjap ia melihat sekeliingnya yang tak lagi mengenal tempat itu. Mencoba untuk duduk, tapi tubuhnya terasa sangat lemas.


Dimana aku? Hmm.. kepalaku .. tempat ini sungguh sangat asing.


Derap langkah kaki seseorang terdengar mendekati tempatnya terbaring lemah tak berdaya.


Loli memejamkan kembali matanya. Ingin mengetahui siapa dan apa maksudnya membawa Loli ketempat asing ini.


"Kau masih belum bangun nyonya srigala? Apa aku perlu membangunkana mu?"


Maku mendekati Loli menyiramkan sedikit air dengan tangannya kewajah Loli. Sampai ia terkejut karna dingin nya air.


"Hei... akhirnya kita bertemu juga. Apa kabarmu sayang? Tidur mu semalam nyenyak. Makanlah... nanti bayi diperutmu bisa mati."


Maku memberikan semangkok makanan. Entah apa isinya. Yang jelas Loli tak ingin memakan nya.


"Kenapa kau membawaku kesini? Apa kau juga ingin berakhir seperti ayahmu Maku?"


Loli menantang Maku. Ia tak peduli dengan bahaya yang sedang ia hadapi. Yang jelas ia hanya berusaha agar tak terlihat lemah.


"Bagus... nyali mu besar juga. Kukira kau takut disini dengan keadaan mu juga. Ingat nyonya... aku bukan seperti ayahku yang penakut itu. Tapi aku Maku... tanpa mengenal kasihan dan ampun."


Loli tersenyum sinis mendengar ucapan Maku. Ia tau jika Maku sekarang hanya memiliki beberapa orang orang nya.


"Kenapa kau tertawa?" Maku tampak marah saat Loli menertawainya.


"Tidak... aku hanya berpikir... lelaki macam apa yang membiarkan ayahnya dibunuh dan semua orang orangnya. Dan kini kau bermain main dengan wanita lemah yang sedang hamil. Apa itu bukan pengecut?"


Melihat Loli yang sengaja menertawainya Maku melempar mangkok yang berisi makanan tadi kedinding.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali mulut mu nyonya. Kau bisa mati jika terus berkata demikian."


"Lakukan sesuka hati mu Maku. Yang jelas suami ku akan segera datang kesini. Persiapkan dirimu menyusul ayahmu tercinta"


Loli menekan Maku dengan kata katanya. Ia menyunggingkan sedikit senyuman yang terlihat sombong.


"Aku akan menunggu suami mu nyonya, tapi sebelumnya kau harus mati.. setidaknya nanti kau bisa menemani ku dineraka hahhahaha...."


Maku meninggalkan Loli digubuk itu. Ia akan mengirim seseorang untuk memanggil Marcho kesini.


Marc... datanglah kesini.. bantu aku.


»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»


Rumah Ferdinand tampak sepi. Mereka sibuk mencari keberadaan Loli. Beberapa hari kehilangan Loli membuat Marcho geram. Tak ada petunjuk tentang keberadaan istrinya.


"Marc... makan lah .. sudah tiga hari kau tidak makan. Isi kembali energimu untuk mencari Loli."


"Aku tidak lapar..."


"Marc... "


Marcho berdiri meninggalkan Eleanor. Ia masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu.


Sayang .. siapa yang menculik mu? Beri petunjuk untukku Loli.


Ia berbaring diranjang menatap langit langit mencari celah agar mengetahui keberadaan Loli.


Tiba tiba kaca jendela Marcho pecah dilempari batu oleh seseorang. Marcho langsung berdiri kearah jendela. Ia melihat sesorang tengah berlari meninggalkan rumah Ferdinand.

__ADS_1


Marcho memperhatikan kaca yang berserakan dilantai. Ia melihat kertas yang membaluti batu besar itu.


Semoga saja ini ada kaitannya dengan Loli..


'Temui istri mu di hutan pegunungan grace. Jika tak ingin dia mati'


Marcho sangat marah ia merobek kertas itu. Berencana akan membuang namun ia masukan kedalam kantung celananya setelah Steven masuk kamarnya bersama Ferdinand.


"Apa kau baik baik saja Marc?" Steven mendekati sembari melihat jendela yang di lempar tadi.


"Aku baik baik saja.." Marc berjalan keluar kamar.


"Marc... mau kemana kau?" Ferdinand memegang pundak Marcho menghentikan langkahnya.


"Aku harus mencari Loli Kek.."


"Kemana kau akan mencari?"


"Kemana saja... dari pada aku menunggu disini."


"Tapi... polisi akan mencarinya... percayalah.."


"Aku juga polisi..."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2