
Ditengah malam yang gelap gulita. Tampak seorang pria tua duduk diatas batu. Bajunya yang sudah sangat lusuh dan robek terlihat karna terpaan ngin malam.
Marcho berjalan pelan pelan mendekati pria tua itu setelah meyakinkan dirinya bahwa memang pria tua itu yang dicarinya.
Ia mendekati pria itu dan telah berdiri tepat didepannya. Masih jelas terlihat wajah pria itu masih sama pada sebuah foto dirumah lamanya.
Pria itu memdongakan kepalanya menatap siapa yang berani berkunjung ketempatnya.
"Ferdinand Tores?"
"Kau anaknya Steven?"
"Ya... aku Marcho Tores, keturunanmu."
Sebuah senyum sedikit terlihat diwajah pucat itu. Ia berdesis hampir membuat gendng telinga Marcho pecah. Tapi ia tetap tenang menunggu reaksi pria tua ini.
"Apa yang kau lakukan disini?" Ferdinand menatap lma Marcho.
"Aku mencarimu..."
"Dengan urusan apa, kau menghampiri orang yang telah lama mati" ia tersenyum sinis membuang pandangan dari Marcho.
"Dengan urusan yang kau tinggalkan dengan seseorang. Dan itu sangat mengganggu kehidupan ku." Penjelasan Marcho sangat terlihat kesal.
"Apa maksudmu?" Ferdinand menaikan nada suaranya.
"Kesepakatan gila mu dengan Robert." Marcho sudah mulai muak dengan percakapan mereka.
"Apa yang dia lakukan padamu?" Ferdinand terlihat geram dengan nama tersebut.
"Tak bisakah kakek membiarkan keturunan mu hidup tenang didunia.?" Marcho mulai duduk disebelah Ferdinand.
__ADS_1
"Jadi kau masih hidup? Aku kira kau akan menemani ku disini." Ia tertawa kecil karna msih tau jika Marcho masih hidup.
"Jangan tertawakan aku yang sekarang ini karna ulah mu kakek!" Marcho berdiri berjalan sedikit menjauhi Ferdinand. Membalik menatap lagi wajah yang sudah tak jelas begitu.
"Kenapa kau menjauh? Apakah bauku terlalu menyengat dihidung manusiamu? Ahahahha"
Marcho menjadi lebih kesal lagi saat pria tua itu tertawa yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
"Cepat temui Robert, katakan apa yangbharus kulakukan. Aku tak tau apa yang kau perbuat hingga aku tersiksa." Marcho mendekat lagi, sangat dekat dengan wjah Ferdinand.
"Aku sudah tak bisa menemui nya. Kau pikir aku disini karena apa? Karna rasa bersalah ku yang mendalam tak bisa membuatku meninggalkan tempat ini. Urusan dunia ku masih terlantar. Syukurlah kau datang. Hingga aku bisa berbagi padamu"
Marcho terdiam mendengar penjelasan Ferdinand. Ternyata kakek nya juga tersiksa dalam kematiannya.
"Ceritakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi?" Marcho sangat antusias ingin mendengar kisah itu.
"Kenapa kau sangat ingin menyelesaikan kesepakatan itu?" Tanya Ferdinand melihat Marcho yang mau membantunya.
"Bagaimana bisa kalian berkomunikasi sedangkan jiwa mu telah hampir mati?"
"Karna dia sangat mencintai ku. Dia yakin kau mau membantu kami"
Ferdinand terdiam sejenak. Menepuk pelan pundak Marcho.
"Kembali lah besok lebih awal dari sini. Waktu ku telah habis."
"Baiklah.. besok aku akan kembali lebih awal"
"Sampaikan salam ku pada istrimu. Bagus lah jika ia sangat mencintaimu, itu akan sangat membantu mu."
Mereka menghilang seperti ditelan malam. Meninggalkan pemakaman yang sangat sepi. Bahkan tak terjamah lagi.
__ADS_1
.
.
"Sayang... aku datang.."
Marcho menatap Loli yang masih tertidur pulas. Ia merebahkan tubuhnya disamping Loli. Memeluk istri tercintanya.
Aura dingin yang mendekapnya Loli terbangun melihat Marcho sudah ada disampingnya.
"Marc..."
"Ya sayang aku datang..."
"Kenapa lama sekali?"
"Aku menemui Ferdinand Tores."
"Apa kau bisa bertemu dengannya?"
"Aku akan kembali menemuinya sedikit awal besok. Apakah kau sudah boleh pulang?"
"Aku tidak tau Marc.. pergilah. Jika besok aku tak ada disini artinya aku sudah berada dirumah."
"Aku akan bisa menemukanmu dimana pun. Kau berada sayang... kau lupa aku bukan manusia"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ..