
Masih beberapa puluh tahun yang lalu...
Lelaki itu menghilang dak meninggalkan jejak. Ferdinand teringat akan kata kata terakhir Roberto.
Siapa sebenarnya Eleanor? Pastilah dia manusia. Lelaki itu pasti hanya menakut nakuti ku saja. Sialan... makhluk apa dia?
Dalam perjalanan pulang Ferdinand terus memikirkan perkataan Roberto. Dia memikirkan segala kemungkinan.
Kenapa harus aku yang membunuh bayi itu kelak, apa lelaki tua itu tak punya kekuatan melawan seorang bayi?
Semua ini membuat ku muak.
Beberapa hari kemudian, setelah pertemuannya dengan Eleanor dan Roberto. Ferdinand memutuskan akan mencari Monica istri yang telah menjadi simpanan lelaki lain beberapa tahun yang lalu. Sejak Steven berumur 10 tahun.
"Dimana wanita simpanan itu?" Tanya Ferdinand pada salah seorang orang suruhannya.
"Nyonya ada dikamar nya tuan.."
"Aku yang akan kesana atau dia yang menemui ku disini."
"Nyonya meminta anda kekamarnya Tuan."
"Wanita murahan.. masih bisa ia menyuruhku masuk kekamarnya."
Ferdinand berjalan diiringi beberapa orang dibelakangnya. Diantaranya pengawal dari Monica.
Klek..
Ferdinand membuka pintu kamar itu. Nampak sosok wanita yang sangat ia cintai dulu. Itu dulu sekali. Sekarang hanyalah kebencian dimatanya menatap wanita dengan berpakaian seksi itu.
"Sayang.. kau sudah datang"
__ADS_1
Monica mendekati Ferdinand, meraba dada bidang pria berumur itu dengan segelas minuman ditangan lainnya. Ia berlenggak lenggok berjalan ketepi ranjangnya.
"Aku hanya ingin kau menemui Steven. Menyuruhnya kembali padaku"
Ucapan Ferdinand sangat terburu buru karna ia mulai muak melihat tingkah Monica. Tak menutupi juga ia ingin keluar dari sana. Karna jantungnya terus berdetak kencang sejak wanita tadi menyentuhnya. Hatinya masih mencintai Monica.
"Kenapa bukan kau sendiri yang memintanya?" Balas Monica dengan tingkah genit didepan mantan suami nya itu.
"Karna setiap aku datang dia selalu menghilang, hanya istri sampahnya yang selalu bertemu dengan ku"
"Itu pilihan anak kita sayang... kau jangan terlalu ikut campur urusan pribadinya. Dia sudah bukan anak anak lagi."
Monica kembali mendekati Ferdinand, memberi kode kepada pengawalnya untuk keluar dari kamar itu dan menutup pintu.
Dia mendekati Ferdinand, meraba seluruh dada nya. Hingga pria paruh baya itu mulai terangsang. Hatinya masih sangat mencintai Monica. Jika saja bisa ia akan membawa kabur Monica dari tempat busuk itu. Tapi kebencian lebih mendominan dihatinya.
"Sayang... aku sangat merindukan mu..."
Tiba tiba Monica memeluk Ferdinand. Tangannya menjalar kemana mana.
"Hati mu masih milik ku... sayang"
Monica mengecup sekilas bibir pria itu. Seketika jantung Ferdinand berdetak tak karuan.
"Pergilah temui Steven... Monica dengarkan aku!" Ferdinand mencoba mengalihkan perhatian Monica yang masih menggodanya dengan sentuhan mautnya.
"Lakukanlah sekali ini Ferdinand, aku sangat merindukan mu.."
Monica menatap Ferdinand dengan hangat, ia menyatukan kedua bibir mereka. Ferdinand yang dalam hatinya masih mencintai wanita itu, membalas setiap perbuatan Monica. Tangan nya mulai bergerilya ditubuh seksi yang berpakaian terawang.
Ferdinand terbawa suasana dikamar itu. Mereka terus saja melakukan apa yang hati mereka inginkan. Ia bahkan lupa jika Monica bukan lagi istrinya.
__ADS_1
Melepaskan segala apa yang tertahan berpuluh tahun dalam dirinya. Kegiatan yang selalu ia rindukan dengan wanita ini.
Monica turun kebawah Ferdinand, membuka pengait celana dan mengeluarkan sebuah batang yang lama tidak ia sentuh. Dengan hangat ia memainkan batang itu, hingga de..sa..han suara Ferdinand mulai terdengar dikamar yang berubah panas menikmati setiap sentuhan hangat dari mulut Monica.
"Ooh... Monica..."
Setelah sedikit lama Ferdinand menggendong Monica ke atas ranjang, mengecup seluruh tubuh yang ia sangat rindukan.
Dengan tergesa gesa mereka saling melepaskan pakaian satu sama lain. Ferdinand segera menancapkan batangnya pada milik Monica. Yang seharusnya memang hanya ia miliki seorang diri.
Menggerakan cepat gerakan maju mundur milik nya. Suara teriakan dan e..rangan Monica memenuhi isi kamar. Ferdinand semakin mengencangkan gerakannya. Kedua nya mendapatkan pelepasan yang sempurna.
Dengan nafas yang tersengal sengal Ferdinand meninggalkan jejak didalam milik Monica. Berharap akan menjadi sesuatu yang bernyawa.
Ia menjauhi wanita itu. Memakai kembali pakaiannya dengan tergesa gesa. Monica masih bisa menikmati jejak yang ditinggalkan Ferdinand. Ia menatap lembut lelaki yang baru saja memenuhi hasratnya.
"Ingat kataku.. kau harus menemui Steven. Yakinkan dia Monica. Kau tau apa maksudku bukan?"
Ferdinand memberi aba aba pada Monica sambil memakai pakaiannya. Wanita itu tersenyum padanya, menambah kecantikan yang mungkin tak bisa dilupakan Ferdinand.
"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga dirimu."
Ferdinand melangkah kearah pintu meninggalkan Monica yang masih terbaring lemas diranjang.
"Aku akan menghubungi mu Ferdi..."
Ferdinand terus berjalan keluar kamar. Berharap semua intruksi nya benar benar dilakukan Monica.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...