
Aku harus kuat.. aku bisa menghadapi ini beberapa bulan kedepan. Buah hati ku bersama Marcho.
Sayang baik baik lah didalam ibu akan terus menjagamu sayang..
Loli yang sudah merasa segar mengelus ngelus perutnya yang masih rata. Ia melihat Marcho yang tertidur disamping Loli.
"Sayang... Marc... ambilkan aku segelas air... Marc..."
Marcho menggeliat mendengar Loli Memanggil. Ia memberikan sebuah senyuman hangat dipagi ini untuk istri tercintanya.
"Kau haus sayang?"
Loli mengangguk dan Marcho berjalan keluar kamar mengambil air minum pesanan Loli.
Tubuh ku terasa panas sekali.. apa begini rasanya jika sedang hamil? Apalagi janin dari suami srigala ... hehehe..
Loli terkekeh sendiri mengelus ngelus perutnya. Membayangkan hal yang sedang terjadi padanya. Bersuamikan manusia yang bisa menjelma sebagai srigala.
Ia bergidik membayangkannya. Tapi cinta Marcho yang tulus padanya, tak akan membuat Marcho mampu menerkamnya.
"Ada apa? Kenapa kau senyum senyum sendiri?"
Marcho datang membawakan segelas air minum untuk Loli. Ia mengecup kening Loli. Mencoba memberikan semangat dan dukungan dalam kehamilan pertama istrinya.
"Ini sangat ajaib, ada seorang anak didalam rahim ku. Kapan dia akan bergerak Marc? Aku sangat tak sabar merasakannya..."
__ADS_1
"Sayaang... Beberapa bulan kedepan itu akan terjadi. Bersabarlah. Dan sekarang kau terlihat semakin cantik."
"Jangan menggodaku Marc...." Marcho tersenyum melihat istrinya.
"Terimakasih sayang.. sebentar lagi kita akan mengurus seorang bayi.. ku harap kau bisa bertahan dengan kehamilan mu ini."
"Kenapa sayang? Apa dia juga srigala seperti mu.? Namun dia tetap lah anak ku.. anak kita. Tak akan mengurangi sayang dan cinta ku untuk nya. Karna ia tumbuh dirahim ku. Ia darah daging kita."
"Aku hanya tak ingin kau jadi tersiksa karna kehamilan ini sayang"
Marcho mengelus punggung tangan Loli dan sesekali menciuminya. Ia memang sangat takut kehilangan istri yang sangat ia cintai. Bahkan ia rela tak mempunyai keturunan.
Tapi bukan itu tujuan Loli. Jika ia bisa memberikan keturunan dalam rumah tangganya ia tak akan menyia nyiakannya. Ia akan berusaha menjaga diri dan janin nya jika sudah diberikan kepercayaan oleh Tuhan. Ia sangat bersyukur.
»»»»»»»»»»»»»»»»»
Juliana membelai rambut lurus Lyodra yang panjang. Ia tak rela jika Lyodra akan pergi lagi setelah kembali kali ini. Bisa bisa anak nya takan kembali lagi.
"Mommy.... aku harus bekerja. Ingat.... aku seorang Dokter. Aku akan kembali lagi. Lagi pula tak mungkin kita akan berlama lama disini bukan... ini akn mengganggu Marcho dan istrinya."
Lyodra memeluk Juliana dari samping. Ia mengecup pipi lembut ibunya. Sambil berjalan keluar kamar. Ia menemui Ferdinand yang sudah berdiri diluar rumah.
"Lian... tinggalah dirumah ku. Kita akan kesana nanti saat Loli sehat. Menginaolah beberapa hari disini. Sepertinya obat mu lebih berguna untuk Loli dari pada dokter dan resepnya"
Ferdinand tersenyum melihat putrinya cemberut yang berada disamping Juliana.
__ADS_1
"Daddy... aku juga seorang dokter... ingat itu!"
"Baiklah sayang... tapi obat Mommy mu lebih bagus.. ahahahha"
Ferdinand tetap menggoda putrinya yang sekarang sudah tersenyum melihat tingkah ayahnya.
"Aku senang mempunyai orang tua seperti kalian. Dan saudara yang tampan seperti.... Steven..."
Lyodra memeluk Steven dari samping yang baru keluar dari pintu. Ia menepuk nepuk pundak saudaranya.
"Ada apa ini?" Steven melihat beberapa orang didepannya heran.
"Baiklah... aku akan pergi ke rumah sakit. Mommy Daddy... Sampai jumpa lagi adik tampan ku..."
Lyodra mengelus rambut Steven sambil menuruni beberapa anak tangga berjalan kearah mobilnya.
"Hei... aku sudah menjadi seorang ayah Lyodra!" Steven membetulkan kembali rambutnya yang kusut.
"Tapi kau tetaplah adikku... aaah... menyenangkan sekali. Heheheh"
Lyodra masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman rumah Marcho.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung