
"Ini semua demi kebaikan kamu." balas Andrew.
Rena mengerucutkan bibirnya membuat orang orang yang melihat gemas.
Sedangkan Richard kembali diam seperti semula, mereka turun dari kapal pesiar dan pergi menuju bandara kembali karena mereka memang tidak miliki banyak waktu di sana.
Mereka meninggalkan Elina dan Rena untuk jalan jalan menikmati keindahan kota pahlawan.
...**...
Sementara itu di tempat Doni dan Fia mereka terus terusan berpesta merayakan keberhasilan mereka, apalagi setelah mendapatkan kabar kalau perusahaan Richard beneran bangkrut, membuat mereka berdua tertawa senang.
Ya, Richard membuat kabar kalau perusahaan miliknya bangkrut dan dia juga menggambarkan kalau dia akan menjual beberapa saham miliknya.
Semua orang yang tahu pasti akan langsung bondong bondong pergi membeli saham milik Richard, tak terkecuali Doni dan Fia.
Mereka berdua sudah mendapatkan beberapa saham milik Richard, dan sekarang mereka menginginkannya lagi, mereka berdua berkeinginan membeli saham milik Richard yang ada di Amerika, tapi sayang sekarang uang mereka sudah habis.
Satu satunya jalan untuk membeli saham miliknya Richard adalah dengan cara menggunakan uang Dito.
"Sayang apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Fia pada Doni dalam keadaan mabuk karena mereka tadi habis minum.
"Belum sayang, aku belum bisa masuk ke perusahaan Dito." jawab Doni yang juga sama sama mabuk.
"Kenapa lama banget sih, kenapa gak kita langsung panggil anaknya aja ke sini?" tanya Fia.
"Benar juga apa kata kamu, ya sudah sana kamu telfon Dito sudah dia ke sini." suruh Doni dan langsung di laksanakan oleh Fia.
Fia menghubungi Dito dan menyuruhnya untuk cepat datang ke tempat mereka karena ada sebuah urusan yang sangat penting.
Dito yang mendapatkan telfon itu pun segera pergi keluar tempat kakaknya.
"Ada apa kak?" tanya Dito.
Karena memang tempat Dito sangat dekat hanya bersebrangan tembok saja makanya dia cepat sampai di tempat kakaknya.
"Sini kamu." pangil Doni.
Dito pun berjalan mendekati kakaknya dan duduk di samping kakaknya.
"Mana data keuangan kamu?" tanya Doni yang membuat Dito ketakutan.
Dito takut nanti kakaknya akan mengetahui kalau keuangan di perusahaannya sudah tidak ada uang lagi karena sudah dia ambil semua.
__ADS_1
"Ayo cepat mana data keuangan kamu?" pinta Doni.
"Mau buat apa ya kak?" tanya Dito.
"Halah gak usah banyak tanya cepat kasih tahu kami." balas dokter Fia.
Dengan berat hati dan terus melafalkan doa di dalam hatinya Dito mulai membukakan data keamanan perusahaannya dan memperlihatkan data keuangan di perusahaannya.
Mata Dito melotot melihat data yang ada, bagiamana bisa data yang ada di sana sangat bagus dan tidak menampilkan data data yang mencurigakan.
Dito yakin pasti ini perbuatan Richard, Dito sangat kagum dengan apa yang sudah Richard lakukan pada perusahaan miliknya.
"Ini kak." ucap Dito menyerahkan laptop yang berisi laporan data keuangan di perusahaannya.
"Hmm bagus, kakak akan menggambil uang dari perusahaanmu untuk membeli saham di perusahaan Richard." ucap Doni.
Dito diam saja dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Oh iya tolong ambilkan kita minum." perintah Doni pada Dito.
"Baik kak." jawab Dito menurut.
Dito langsung pergi menuju dapur untuk mengambilkan air minum untuk Doni dan juga Fia.
"Ini kak." ucap Dito meletakkan minuman di meja depan Dito dan Fia.
"Bagus, sekarang kamu pergi dari sini karena kita berdua akan minum minum." usir Doni pada Dito.
Dengan senang hati Dito langsung pergi dari sana menuju kamarnya apartemen miliknya yang berada di samping apartemen milik Doni dan Fia.
Dito sudah melakukan tugasnya dengan baik, sekarang dia sudah harus pergi meninggalkan tempat ini agar kedua kakaknya itu tidak dapat menemukan keberadaannya.
Setelah siap Dito langsung pergi dari apartemen miliknya menuju bandara dan semuanya itu sudah di persiapkan oleh Richard jadi Dito tinggal bergerak saja.
"Selamat tinggal Jakarta, semoga kita akan bertemu kembali." ucap Dito saat pesawat yang dia naiki mulai mengudara.
Dito pergi meninggalkan Jakarta menuju tempat yang akan aman buat dia untuk sementara, nanti pasti Dito akan kembali tapi tidak tahu kapan waktunya itu.
...**...
Richard dan yang lainnya sudah sampai di Jakarta, mereka bertiga langsung pergi ke tempat di mana Andrew menyekap ibu Tika.
Keadaan ibu Tika saat ini sudah sangat mengenaskan, tubuhnya sudah kecil karena terus di siksa di sana, dan juga dia sering pingsan akibat kecapekan.
__ADS_1
"Suruh dia bangun." ucap Richard menyuruh pada anak buah Andrew agar membangunkan ibu Tika.
Anak buah Andrew langsung mengambil air es dan menyiramkannya pada ibu Tika.
"Dingin dingin dingin." ucap ibu Tika terbangun dari tidurnya.
"Enak sekali hidupmu, tiduran di sore hari, sana kerja." ucap Richard pada ibu Tika.
"Maaf tuan, tapi tubuh saya sudah tidak memungkinkan untuk bekerja." balas ibu Tika.
"Halah gak usah banyak alasan, cepat cuci semua baju yang ada di kamar mandi, kalau sampai kau tidak mencucinya jangan harap akan saya berikan air minum." bentak Richard.
Akhirnya ibu Tika pun berjalan menuju tempat yang di sana sudah terdapat banyak sekali pakaian kotor, ibu Tika mencuci semua pakaian itu sambil menahan rasa sakit di kepala dan pinggangnya.
Terkadang ibu Tika akan pingsan, tapi nanti dia langsung di bangunkan oleh anak buah Andrew yang menyiram ibu Tika dengan air kalau tidak panas ya air dingin.
Andrew yang tidak tega melihat itu pergi dari sana, sebenarnya beberapa hari yang lalu Andrew sudah akan membunuh ibu Tika setelah ibu Tika meminum obat pemberian Richard tapi aksinya itu langsung dibantah hentikan oleh Richard.
Dan sangat tepat waktu, Ethan datang ke Indonesia, maka dari itu kasus ibu Tika di ambil alih oleh Ethan atas perintah Richard.
"Urus dia saya akan pergi menemui Andrew." ucap Richard pada Ethan.
"Baik tuan." balas Ethan.
Richard pun pergi menemui Andrew yang berada di dalam ruangannya.
Tok tok tok.
"Masuk." balasan Andrew dari dalam ruangannya.
Richard pun masuk ke dalam ruangan Andrew, dia melihat Andrew sedang sibuk di balik meja kerjanya.
"Apakah kau tak akan menghentikan ini?" ucap Andrew tanpa menatap Richard.
"Kenapa, apakah kau takut?" balas Richard.
"Tidak, aku hanya kasian saja." balas Andrew.
"Kau kasian pada orang yang sudah menyiksa adikmu sampai dia menderita beberapa tahun?" balas Richard tak percaya dengan jalan pikiran Andrew.
"Kita beda, kau psikopat dan aku hanya manusia biasa, bagiku apa yang sudah kau lakukan itu sudah sangat keterlaluan." ucap Andrew menatap Richard.
...***...
__ADS_1