
Richard meraba sisi tempat tidurnya, saat merasa tidak mendapati adanya apa apa di sana Richard langsung membuka matanya.
"Sayang, SAYANG KAMU DI MANA?" teriak Richard memanggil Diandra.
Hening tidak ada jawaban sama sekali, Richard pun bangkit dan memeriksa di seluruh ruangannya dan tak mendapati adanya Diandra di sana.
"**1*." umpat Richard dan segera pergi mencari pakaiannya.
Bug bug bug.
"Kenapa kau biarkan wanitaku pergi Hah." marah Richard pada anak buahnya.
Bug bug bug bug.
Richard terus memukul anak buahnya yang sedari tadi berjaga di depan pintu ruangannya.
Tak ada yang berani mencegah kemarahan Richard hingga akhirnya ada Ethan yang baru datang ke sana.
"Tuan cukup tuan anda bisa membunuhnya." ucap Ethan yang baru saja datang.
"Lepaskan, saya akan membunuhnya." berontak Richard saat Ethan berusaha melerainya.
"Cukup tuan, sekarang ayo kita ke rumah sakit, keadaan nona Rena sedang tidak baik baik saja." bisik Ethan membuat Richard berhenti dan menatap Ethan tajam.
"Nona Diandra juga ada di sana." lanjut Ethan.
Richard pun langsung berlari keluar mengabaikan anak buahnya yang sudah terkapar tak berdaya.
"Kalian obati dia." perintah Ethan pada anak buah Richard yang berada di sana.
"Baik tuan." balas mereka.
Ethan pun pergi dari sana menyusul Richard yang sudah keluar dari markas.
"Kemana mobilku?" tanya Richard pada Ethan.
"Nona Diandra yang membawanya dan meninggalkannya di pinggir jalan tuan." jawab Ethan.
"**1*, kelinci kecil yang nakal." gumam Richard sambil tersenyum samar.
"Ayo kita segera pergi tuan, keadaan nona Rena sedang memburuk." ajak Ethan pada Richard.
"Kenapa dengan Rena?" tanya Richard khawatir sambil masuk ke dalam mobil Ethan.
"Nanti tuan akan tahu setelah sampai di sana, saya juga belum mengetahuinya dengan pasti." jawab Ethan yang fokus memegang kemudi.
Ethan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tepat di mana Rena di rawat.
...**...
__ADS_1
Di depan ruangan Rena sudah ada Diandra, Andrew dan juga Elina yang berusaha menenangkan Diandra yang menangis sedari tadi.
Elina mendapatkan kabar dari anak buahnya yang baru saja dia perintahkan untuk menjaga kamar Rena kalau keadaan Rena memburuk.
Mendapatkan kabar itu Elina langsung pergi menghampiri tuannya yang sedang tidur. Elina membangunkan Andrew dan langsung mengajaknya ke rumah sakit.
"Sudah nona jangan bersedih terus, saya yakin kalau nona Rena pasti baik baik saja." ucap Elina menenangkan Diandra.
"Bagiamana saya bisa tenang, tadi saya melihat sendiri kalau tubuh Rena kejang kejang hiks hiks." balas Diandra sambil menangis.
"Nona yang tenang, percaya pada dokter kalau dia bisa menangani nona Rena." balas Elina.
Diandra diam tak menanggapi Elina, dia sibuk menghapus air matanya yang sedari tadi terus keluar.
"Kenapa dengan Rena?" tanya Richard pada mereka semua.
Mereka hanya diam karena bingung harus menjelaskannya bagiamana. Hanya Andrew saja yang membalas ucapan Richard dengan gelengan kepala serta menggangkat kedua pundaknya.
"Aggrr...." erang Richard sambil tangannya meninju tembok yang ada di sampingnya.
"Tenang tuan, saya sudah menyuruh orang untuk menyelidiki semuanya." ucap Ethan menenangkan Richard.
"Siapa yang ada di sini tadi?" tanya Richard dan tidak ada yang menjawabnya lagi.
"Siapa Hah?" marah Richard kepada mereka semua.
"Aku datang dan setelah itu tubuhnya langsung kejang kejang." ucap Diandra dan setelah itu dia mengalihkan pandangannya dari Richard lagi.
"Apakah tadi pagi kau meninggalkannya sendiri?" tanya Andrew bersuara.
"Iya karena aku ada keperluan tadi." jawab Diandra.
"Bodoh, sudah aku katakan jangan biarkan Rena sendirian apalagi kalau sampai ada Dito di sini." maki Andrew.
"Maaf." Diandra menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Dan kau, kenapa kau mencari masalah di saat keadaan lagi kacau begini." Andrew menunjuk wajah Richard.
"Sudah aku katakan kalau dia bukan orang baik baik, kenapa kau masih aja membiarkan Rena sendirian. Mana anak buahmu yang ratusan ribu itu, mana Hah." marah Andrew pada Richard.
"Gara gara keluargamu yang tak jelas itu nyawa adikku terancam." lanjut Andrew marah.
"Tenang tuan ini rumah sakit, tidak baik kita bicarakan masalah ini di sini." tegur Ethan.
"Bilang sama tuanmu yang bodoh itu, kalau mau membuat masalah jangan melibatkan adikku." ucap Andrew pada Ethan.
Richard hanya diam saja, dia salah jadi dia tidak ada hak untuk marah juga pada Andrew.
Setelah itu semua orang diam dengan pemikiran mereka masing-masing, mereka menunggu dokter yang memeriksa Rena keluar.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu ruangan Rena terbuka, mereka semua langsung berdiri menghampiri dokter serta suster yang baru keluar dari dalam ruangan Rena.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Andrew.
"Keadaan nona Rena baik baik saja, itu tadi hanya efek dari operasi yang baru saja dia lakukan. Tubuhnya mulai beraksi menerima ginjal yang tuan Andrew berikan." jelas dokter itu.
"Apakah hanya itu saja dok?" tanya Andrew memicingkan matanya.
"Benar tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Mungkin satu atau dua hari ke depan nona Rena sudah bisa pulang dari sini tuan." jawab dokter itu.
"Baik dok terimakasih." balas Andrew.
"Sama sama tuan, kalau begitu kami permisi dulu, dan untuk saat ini jangan ganggu istirahat pasien." pamit dokter itu.
"Baik dok."
Dokter itu pun pergi di ikuti beberapa suster di belakangnya.
"Elina." pangil Andrew.
"Iya tuan." Elina berjalan mendekati Andrew.
Andrew membisikkan sesuatu kepada Elina, Ethan yang melihat itu pun rasanya ingin meninju mulut Andrew yang hampir menempel di pipi Elina.
Ethan cemburu, ya Ethan cemburu melihat itu semua.
"Baik tuan akan saya lakukan." balas Elina.
"Ethan, ikutlah dengan Elina dan ikuti semua perintahnya." perintah Andrew pada Ethan.
"What saya? Maaf tuan Andrew yang terhormat, tuan saya itu tuan Richard bukan anda, jadi ya berhak memerintahkan saya itu hanya tuan Richard." balas Ethan sombong.
"Apakah kau akan membuang kesempatan berduaan dengan Elina begitu saja?" pancing Andrew.
"Baik tuan akan saya laksanakan." balas Ethan dengan semangat 45 setelah mendengar apa yang Andrew kata barusan.
"Kami pamit pergi dulu tuan." pamit Elina yang tak menghiraukan apapun yang nanti akan terjadi di antara mereka berdua.
"Hmm, berhati-hatilah." balas Andrew.
Ethan dan Elina pun pergi entah kemana, sedangkan di sana Diandra yang sibuk mengutuk dirinya karena sudah meninggalkan Rena, dan Richard yang sibuk menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat Diandra pergi meninggalkan Rena.
"Sudahlah, tidak ada gunanya juga kalian berdua menyesali semuanya." sindir Andrew membuat Diandra dan Richard menatap ke arah Andrew.
"Apa, mau protes? Benar bukan apa yang aku katakan, kalau tidak ada gunanya juga menyesali semuanya yang sudah terjadi." Andrew membalas tatapan mereka.
...***...
__ADS_1