Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTO#51


__ADS_3

Diandra tidak tahu apa yang membuat adiknya ini nekat pergi dari rumah. Dan siapa lelaki yang bersama dengan adiknya ini. Apakah dia kekasih Rena, ternyata sekarang adiknya sudah besar. Dulu saat Rena baru dia tinggal Rena malah tidak pernah Diandra lihat bertemu dengan seorang lelaki pun.


"Ibu jahat kak, ibu selama ini selalu bohongi kakak. Ibu tidak pernah bawa aku ke rumah sakit ataupun beli obat. Ibu juga selalu menyuruh aku buat bersih bersih rumah sama masak setiap hari." adu Rena pada Diandra.


"Tunggu, jadi maksud kamu...."


"Iya kak, ibu Tika tidak pernah memperlakukan Rena dengan baik. Bahkan sekarang kondisi Rena semakin hari semakin memburuk karena dia dulu tidak pernah melakukan cuci darah lagi setelah kepergian kakak." sela laki laki yang bersama Rena itu.


"Dek benar apa yang dia bilang?" tanya Diandra pada Rena.


"Iya kak." balas Rena.


"Ya ampun dek, kakak minta maaf. Kakak sudah menitipkan kamu ke orang yang salah. Kakak janji setelah ini kakak tidak akan lagi meninggalkan kamu."


Diandra sangat merasa bersalah sekarang, bagiamana bisa dia dulu dengan mudahnya percaya sama orang yang baru dia kenal. Dan sekarang akibatnya kondisi adiknya malah semakin parah. Tidak, Diandra tidak akan membiarkan orang yang dia sayangi pergi lagi.


Apapun akan Diandra lakukan untuk kesembuhan Rena. Sekarang Diandra jadi berfikir, apakah ini semua karma buat dia yang selalu berkerja menipu orang. Kalau iya kenapa harus adiknya yang menanggung, kenapa tidak dirinya saja.


"Kalian sekarang mau tinggal di mana?" tanya Diandra.


"Kita mau tinggal di apartemen kakak ku kak." jawab laki laki itu.


"Maaf nama kamu siapa ya, dan kamu siapanya Rena?" tanya Diandra penasaran.


"Nama aku Dito kak, aku kekasih Rena." jawab Dito memperkenalkan dirinya pada calon kakak iparnya.


"Wah adik kakak ternyata sudah besar ya, sudah berani pacaran sekarang." goda Diandra.


"Apaan sih kak, malu tau." malu Rena dalam pelukan Diandra.


"Hahahaha... kakak kangen banget sama kamu, kangen pelukan sama kamu kayak gini." ucap Diandra.


"Sama, Rena juga kangen sama kakak." balas Rena.


Dito yang melihat pacarnya sudah bertemu dengan kakaknya pun merasa ikutan senang. Semoga saja Rena tidak akan bersedih lagi setelah ini.


"Permisi mas, mbak. Ini kerak telor nya." ucap penjual kerak telor pada mereka.


"Oh iya mang terimakasih ya, kak Dian mau gak?" Dito menawari Diandra.


"Enggak usah tadi kakak sudah beli kok." tolak Diandra.


Memang benar Diandra tadi sudah membeli kerak telor itu, bahkan dia tadi sampai habis dua porsi.


"Jadi berapa mang totalnya?" tanya Dito.


"Tiga puluh ribu mas." jawab penjual itu.

__ADS_1


Dito pun mengambil dompetnya dan memberikan uang satu lembar berwarna biru untuk penjual kerak telor itu.


"Kembaliannya ambil aja mang." ucap Dito.


"Terimakasih mas, semoga rezeki masnya lancar." balas penjual itu.


"Aamiin." balas Dito.


"Kita pulang yuk, di sini panas." ajak Dito.


"Kakak ikut kalian boleh gak, soalnya di sini susah cari taksi." ucap Diandra.


"Iya kak boleh kok, ayo." ajak Dito.


Mereka pun beranjak pergi menuju mobil Dito yang berada di tempat parkir depan minimarket. Saat berada di pertengahan jalan menuju mobil Dito, tiba-tiba tiba Rena merasa kesakitan.


"Aahh pinggang aku sakit kak." adu Rena memegangi pinggangnya dengan erat.


"Dek, kamu kenapa?" panik Diandra.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit kak, memang seharusnya tadi setelah sampai di Jakarta Rena di anjurkan cuci darah dulu." ajak Dito.


"Aahh sakit." adu Rena.


Rasa sakit di pinggang yang Rena rasakan sekarang rasanya lebih sakit dari biasanya.


...**...


Richard sudah selesai membersihkan diri, sekarang tubuhnya terlihat lebih segar dari pada sebelumnya.


"Mana handphone saya Than?" tanya Richard pada Ethan.


"Ini tuan." Ethan memberikan handphone Richard.


Richard menerimanya dan mulai mengaktifkan handphonenya.


"Kenapa ini mati?" tanya Richard.


Ethan pun mengambil handphone Richard dan memeriksanya.


"Mohon maaf tuan, sepertinya ini baterainya habis." ucap Ethan.


"S1al. Sini pinjam handphone kamu buat hubungi Diandra, nanti bisa marah marah dia kalau saya gak ada kabar." pinta Richard.


"Ini tuan."


Richard pun mulai menghubungi Diandra menggunakan handphone Richard. Untung saja Richard sudah menghafalkan nomor Diandra, jadi kalau dalam keadaan seperti ini bisa di gunakan.

__ADS_1


Maaf nomor yang anda tuju sedang berada di panggilan lain.


Suara jawaban dari handphone Ethan.


"**1*, telfonan sama siapa dia sampai sampai berani gak angkat telfon aku." geram Richard.


"Ethan kita pulang sekarang." perintah Richard.


"Baik tuan." balas Ethan.


Ethan pun mengikuti langkah kaki Richard yang keluar dari markas dengan jalan yang lebar dan wajah yang datar.


Dalam hati Ethan menertawakan sikap tuannya yang sudah sangat sangat bucin pada Diandra sekarang. Ethan jadi semakin yakin untuk tidak memiliki hubungan dengan wanita, karena itu akan mempersulit hidup.


Dalam perjalanan pulang Richard tangan Richard tidak bisa diam, mulai dari menonjok jendela mobil, kursi yang ada di depannya dan hampir saja Ethan terkena amukan Richard. Beruntungnya Ethan sempat menghindar tadi.


Sampai di gedung apartemen Richard langsung berlari menuju apartemennya.


"Ini kenapa harus di lantai atas sih, bikin lama aja." gerutu Richard.


Ethan yang mengikuti Richard di belakangnya pun hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Emang kalau orang bucin itu bisa menjadi bodoh dan gila. Kan dulu tuan sendiri yang minta apartemennya yang paling atas sendiri agar tidak ada yang mengganggu. Ehh sekarang malah marah marah." batin Ethan.


"Sayang, sayang kamu di mana?" teriak Richard saat memasuki rumah apartemennya.


Sepi tidak ada jawaban, sepertinya tidak ada orang di dalam apartemennya ini.


"Sayang kamu di dalam sana kan?" tanya Richard tidak putus asa.


Richard membuka kamarnya dan tidak menemukan Diandra di sana. Tak ingin berfikiran negatif, Richard mencari Diandra di kamar mandi dan di walk in closed tapi tak juga menemukan Diandra di sana.


"Aagrr... kemana dia." marah Richard.


"Sabar tuan, mungkin nona Diandra sedang pergi mencari sesuatu." ucap Ethan agar tuannya itu tidak beneran gila.


"Diam kamu." bentak Richard.


Ethan pun langsung mengunci rapat mulutnya, dia berjanji nanti kalau Richard mengajaknya berbicara Ethan akan diam saja tak menjawab pertanyaan Richard.


"Diandra sayang kamu di mana?" teriak Richard lagi, padahal sudah jelas kalau Diandra tidak ada di sana.


"Huh, sepertinya nanti saya harus menghubungi pihak rumah sakit jiwa, biar penyakit tuan tidak semakin parah." jahat banget Ethan menyumpahi tuannya gila.


Tapi emang bener sih.


...***...

__ADS_1


__ADS_2