Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#73


__ADS_3

Sementara itu di ruangan Rena, Rena dan Andrew terlihat sangat canggung untuk saling berbicara. Mereka berdua bingung harus bicara apa.


"Emmm...." dehem mereka barengan.


"Kamu duluan aja." suruh Andrew mengalah.


"Kak Andrew duluan saja." balas Rena.


"Ka-kamu mau kan mengakui kakak sebagai kakak kamu?" tanya Andrew memastikan lagi.


"Jelas Rena mau kak, bukan karena kakak yang sudah mendonorkan ginjal kakak buat Rena. Tapi Rena mau menerima kakak karena memang kak Andrew itu kakak Rena." jawab Rena.


"Terimakasih, kakak janji akan membahagiakan kamu setelah ini. Kakak juga janji akan melindungi kamu dari bahaya apapun." ucap Andrew senang.


"Terimakasih kak, tapi Rena tidak butuh janji itu. Yang Rena butuhkan hanya bukti dan kakak ada di samping Rena saja itu sudah lebih dari cukup." balas Rena.


"Kamu memang adik terbaik kakak, kakak sangat menyesal tidak mencari kamu sampai ke negara ini. Kakak tidak pernah kepikiran kalau kamu ada di negara ini."


"Terus kakak sekarang kenapa bisa ada di sini?" tanya Rena penasaran.


"Itu karena kakak mengikuti Abang kamu, kakak sama Richard itu sebenarnya adalah musuh. Dan awal kami bermusuhan itu juga karena kakak kira kalau ayah Richard lah yang sudah merebut ibu dari ayah kita. Ehh taunya malah ternyata ayah Richard yang menyelamatkan ibu dari kekasaran ayah." jelas Andrew pada Rena.


"Ooh gitu, jadi selama ini kakak sudah menyerang orang yang salah dong?"


"Iya kakak menyerang orang yang selama ini malah sudah membantu ibu. Bahkan kemaren waktu Richard kembali ke Amerika itu juga di sebabkan oleh kakak yang mencari masalah di perusahaannya." jawab Andrew.


"Wah kakak sangat jahat sekali pada bang Richard, terus sekarang bagaimana, apakah kalian sudah baikan?" tanya Rena.


"Tentu sudah, tidak ada alasan buat kakak untuk mencari gara gara lagi sama dia." jawab Andrew.


"Oh iya nanti setelah pulang dari rumah sakit kamu mau tinggal sama siapa, sama kakak atau sama Abang?" tanya Andrew.


"Emmm... sepertinya Rena mau tinggal sama Dito saja. Kan barang barang Rena juga masih ada di sana." jawab Rena.


"No, kakak tidak mengizinkan itu. Kalau kamu memang tidak mau tinggal sama kakak kamu bisa tinggal sama Richard atau Diandra. Tapi kalau sama Dito kakak tidak mengizinkannya. Karena kalian masih belum ada ikatan yang jelas." tolak Andrew tidak mengizinkan Rena tinggal bersama Dito.


"Tapi Dito baik kak, Dito yang selama ini membantu Rena. Bahkan karena dia juga Rena bisa ke Jakarta." balas Rena.

__ADS_1


"Iya, tapi gara gara kamu ke Jakarta keadaan kamu semakin memburuk kan? Kalau dia emang yang terbaik, seharusnya dia tidak mengizinkan kamu di saat kondisi kamu yang seperti ini." balas Andrew.


"Tapi itu semua juga kemauan Rena kak, terus juga sebelum ke Jakarta dia sudah menghantarkan Rena untuk memeriksa keadaan Rena. Dan salah Rena juga karena setelah sampai di Jakarta tidak langsung pergi cuci darah, tapi Rena malah merengek minta di belikan makanan." balas Rena membela Dito.


"Udah kakak gak mau debat sama kamu di saat kondisi kamu yang seperti sekarang. Yang penting kamu harus sembuh dulu baru kita bicarakan lagi nanti kamu mau tinggal sama siapa." ucap Andrew karena dia merasa Rena masih membutuhkan waktu yang banyak untuk istirahat, jadi kalau dia ajak Rena untuk berbicara terus yang ada Rena malah tidak bisa istirahat.


"Udah sini kamu tidur dulu kakak jagain kamu di sini. Kamu harus banyak banyak istirahat biar tubuh kamu cepat sehat." suruh Andrew pada Rena.


"Iya kak, kakak juga harus istirahat. Kan kakak juga baru selesai operasi biar bekas operasinya cepat kering juga."Balas Rena.


"Iya nanti setelah kamu tidur kakak akan langsung istirahat menyusul kamu. Kakak kan juga harus menunggu Richard dulu agar bisa menghantarkan kakak ke kamar kakak lagi." balas Andrew.


"Ya udah kak, Rena tidur dulu ya." pamit Rena.


"Iya sayang." balas Andrew.


Rena pun mulai memejamkan matanya, sebelum matanya terpejam pintu kamar Rena sudah terbuka.


"Permisi waktunya makan malam." ucap suster yang membawakan obat serta makan malam untuk Rena.


"Terimakasih sus, tolong di taruh di meja saja." balas Andrew.


"Oh iya sus, makanan sama obat saya tolong di bawa ke sini saja ya." pinta Andrew.


"Baik tuan, maaf kamar tuan di nomor berapa ya?" tanya suster itu.


"VVIP nomor 2." jawab Andrew.


"Baik tuan akan segera saya ambilkan." balas suster itu dan segera pergi untuk mengambilkan makanan serta obat Andrew.


Andrew pun segera menghubungi Richard tapi nomor Richard tidak aktif, akhirnya dia menghubungi sekertarisnya untuk segera datang ke sini.


"Kakak habis telfon siapa?" tanya Rena.


"Sekertaris kakak, kakak minta dia untuk ke sini bantu kamu makan. Soalnya kakak masih belum bisa bantuin kamu." jawab Andrew.


"Kenapa gak kak Richard atau Dito saja, atau kak Dian?"

__ADS_1


"Nomor mereka gak aktif, mungkin mereka lagi sibuk pacaran." balas Andrew.


"Kalau Dito?" tanya Rena lagi.


"Kakak tidak punya nomor telfonnya sayang." balas Andrew.


"Aku ada nomor telfon Dito."


"Mana handphone kamu hmm?" tanya Andrew.


"Oh iya ada sama kak Dian." cengir Rena.


"Nah makanya itu, kamu nurut saja sama kakak. Sekertaris kakak itu cewek kok, dia juga tidak jahat." ucap Andrew.


"Iya kak." balas Rena.


Tak berapa lama, Elina pun masuk dan di belakangnya di ikuti Ethan yang sedari tadi mengekor.


"Permisi tuan nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Elina.


"Ini tolong kamu bantu Rena untuk makan sama minum obat. Soalnya saya masih belum bisa bantu dia." pinta Andrew pada Elina.


"Baik tuan." balas Elina.


"Oh iya sebelumnya kalian bisa kenalan dulu, El ini adik kandung aku yang pernah aku ceritakan dulu sama kamu." ucap Andrew memperkenalkan Rena pada Elina.


"Hai aku Elina sekertaris kakak kamu." sapa Elina pada Rena memperkenalkan dirinya dengan di iringi senyum yang manis.


"Salam kenal juga kak, aku Rena." balas Rena tak kalah manis juga senyumannya.


Ethan yang melihat senyum Elina pun tersenyum sendiri. Dia merindukan senyuman itu, senyuman yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Tapi sekarang, senyum itu bukan lagi untuknya.


"Aku suapin ya." izin Elina pada Rena.


"Iya kak." balas Rena.


Elina pun langsung menyuapi Rena dengan pelan pelan. Dan setelah makanan Rena habis dia membantu Rena untuk meminum obatnya. Dan setelah selesai dia juga membantu menurunkan bagian kepala bangkar yang tadi posisinya tinggi menjadi rata.

__ADS_1


...***...


__ADS_2