
"Benarkah seperti itu pak?" tanya Diandra tak percaya.
"Benar mbak, bahkan dulu waktu kedatangannya pertama kali ke Indonesia para petinggi pemerintah sempat panik karena takut Richard akan berbuat sesuatu di negara ini. Ehh taunya malah tidak, ternyata dia hanya mendirikan cabang di sini saja." jelas sopir taksi.
"Sudah sampai mbak." ucap sopir taksi saat mereka sudah sampai di depan gedung perusahaan cabang RH'G company di Indonesia.
"Ini pak uangnya, terimakasih ya." ucap Diandra menyodorkan uang untuk membayar ongkos naik taksi.
"Kembaliannya ambil aja pak." lanjut Diandra dan langsung turun dari mobil taksi itu.
"Terimakasih mbak, saya doakan semoga jodoh mbaknya selayaknya tuan Richard." teriak sopir taksi itu karena Diandra sudah berjalan agak jauh dari mobilnya.
Diandra hanya menanggapinya dengan senyuman saja, orang sekarang aja dia sudah mendapatkan Richardnya yang asli. pikir Diandra.
Diandra melihat di depan jalan masuk menuju dalam gedung sudah di penuhi para wartawan yang ingin mewawancarai Richard.
"Kenapa bisa serame ini, terus aku harus lewat mana masuknya." bingung Diandra.
Diandra pun mengambil handphonenya dan menghubungi Richard tapi handphone Richard tidak aktif. Tak kehabisan akal, Diandra langsung menghubungi Ethan tapi sama saja seperti Richard, Ethan tak bisa di hubungi.
"Ini mereka berdua kenapa kompak banget sih, kalau kayak gini aku harus lewat mana masuknya." kesal Diandra.
Diandra berjalan menuju pos satpam, dia akan bertanya pintu masuk lain selain lewat pintu depan.
"Permisi pak." ucap Diandra.
"Iya ada yang bisa kami bantu nona?" tanya salah satu dari beberapa satpam yang ada di sana.
"Itu di depan ada kerumunan kenapa tidak kalian bubarkan, bukankah itu sudah menjadi tugas kalian?" tanya Diandra basa basi terlebih dahulu.
"Sama tuan Ethan kita di larang nona." balas mereka.
"Lalu kalau saya mau masukin ke dalam sana gimana kalau pintu masuknya saja di tutup seperti itu?" tanya Diandra.
__ADS_1
"Maaf apakah nona ada kepentingan?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya saya ada kepentingan sama tuan Ethan. Tadi saya di suruh sama bos saya untuk menyerahkan berkas kerja sama. Tapi kalau seperti ini bagiamana saya biasa masuk." bohong Diandra.
"Apakah nona sudah membuat janji dengan tuan Ethan?" tanya pak satpam itu lagi.
"Iya, saya sudah membuat janji dengan dia. Tapi barusan saya hubungi handphonenya tidak aktif." jawab Diandra.
"Apakah anda tidak berbohong nona?" curiga salah satu di antara satpam satpam itu.
"Astaga kalian tidak percaya, baiklah kalau kalian mau bukti akan saya lihatkan sama kalian." Diandra membuka handphonenya dan mencari foto dirinya yang tengah bersama dengan Ethan dan Richard.
"Nih lihat." ucap Diandra menyodorkan handphonenya agar para satpam satpam itu melihat fotonya.
"Baik nona mari saya antar ke dalam lewat pintu belakang." ucap salah satu dari mereka mempersilahkan Diandra untuk mengikutinya.
"Mari nona."
Diandra pun mengikuti langkah kedua satpam yang akan mengantarkannya masuk ke dalam. Sebenarnya dia bisa saja jujur kepada mereka kalau dia adalah kekasih Richard. Tapi Diandra malas melakukan itu, nanti yang ada malah wartawan wartawan di depan sana tahu.
"Silahkan nona menaiki lift ini untuk masuk ke dalam. Kalau nona mau yang lebih mudah anda bisa langsung naik menuju lantai paling atas di mana ruangan tuan Ethan dan juga tuan Richard." ucap salah satu dari mereka setelah mengantarkan Diandra sampai di depan lift yang ada di paling belakang sendiri.
"Baik pak, terimakasih ya." balas Diandra dan segera masuk ke sana.
Diandra langsung memencet tombol lantai paling atas sendiri, tepatnya di lantai lima belas.
Ting.
Lift terbuka dan Diandra pun langsung keluar dari sana. Dia berjalan menuju ruangan Richard berada, sampai di depan ruangan Richard dia tidak menemukan adanya orang di sana.
Dan Diandra pun akan memutuskan untuk langsung masuk saja ke dalam ruangan Richard. Saat akan membuka pintu ruangan Richard, ternyata pintu itu tidak tertutup rapat.
"Kenapa kamu kelakuan itu Ethan. Apa kau bodoh, bagiamana nanti kalau Diandra tahu dan marah setelah melihat postingan yang kau upload itu." marah Richard pada Ethan.
__ADS_1
Diandra yang mendengar kemarahan Richard pun menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam. Dia berdiri di depan pintu untuk mendengarkan mereka berdua yang tengah mengobrol.
Diandra ingin mendengar, apakah yang tengah Richard dan Ethan rencana dan ada masalah apa di antara keduanya sampai Richard semarah itu sama Ethan.
"Maaf tuan, saya melakukan itu agar publik heboh dan nanti kita bisa melakukan konferensi pers. Karena kalau tiba tiba tuan menggandakan konferensi pers di tengah berita yang sedang viral sekarang apakah itu tidak terlalu aneh. Nanti yang ada mereka bisa curiga sama kita tuan." balas Ethan menjelaskan.
"Tapi seharusnya kamu memberitahu saya biar saya kasih tahu Diandra dulu. Ini bagiamana kalau sampai dia marah sama saya." frustasi Richard.
"Apakah tuan takut nona Diandra marah gara gara postingan itu. Lalu bagaimana nanti kalau nona Diandra tahu kalaupun tuanlah yang menyebabkan tuan Radit itu menghilang." balas Ethan.
"Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Diandra tidak akan tahu kalau tidak ada yang ngasih tahu dia." balas Richard.
"Sedalam apapun tuan menyembunyikan mayat seseorang nanti juga bakalan terungkap juga, dan begitu juga apa yang sudah tuan lakukan." balas Ethan.
"Diam kau Ethan, sekarang cepat selesaikan masalah yang sudah kau buat."
"Baik tuan, tapi bolehkah saya bertanya tentang dompet yang nona Diandra bawa kemaren waktu di rumah sakit?"
"Apakah itu yang tuan buat dari hati tuan Radit?" lanjut Ethan.
"Kalau iya emang kenapa, sudah sana kamu pergi bikin kepala saya makin pusing aja sedari tadi." balas Richard.
Diandra yang mendengar itu semua pun melihat ke arah tangannya yang tengah memegang sebuah dompet yang bentuknya memang sangat aneh tapi cantik.
Tangan Diandra bergetar saat melihat dompet itu. Dia memandangi dompet itu dan mengingat apa yang Elina katakan semalam.
Memang kalau di lihat lebih jauh lagi dompet itu sangat berbeda bahannya dari dompet dompet import yang lain. Bahkan dari bentuknya saja sudah tidak masuk akal.
Kenapa Diandra tidak kepikiran dari awal, kenapa Diandra tidak curiga dengan menghilangnya Radit yang tiba tiba. Kenapa juga dia tidak curiga dengan Richard, padahal sudah jelas kemaren saat mereka berada di restoran ekspresi Richard langsung berubah saat Diandra menyuruh Richard melihat berita yang ada di televisi.
Karena saking asiknya melamunkan, Diandra sampai tidak menyadari kalau pintu ruangan itu sudah di buka oleh seseorang.
"Nona."
__ADS_1
...***...