Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#22


__ADS_3

"Adikmu tuh, pagi pagi dah bikin orang khawatir aja." adu dokter Fia pada suaminya.


"Lah, kakak aja yang heboh. Orang aku aja belum bilang siapa yang sakit." tak terima Dito karena di salahkan.


"Udah udah kalian ini, mending kita sarapan aja kamu pasti belum makan kan?" ajak Doni menengahi perdebatan antara istrinya dan adiknya.


Mereka bertiga pun sarapan di rumah Doni, baru setelah itu mereka pergi menuju tempat kerja masing-masing. Kecuali Dito, dia mengikuti kakak iparnya ke rumah sakit untuk menanyakan tentang penyakit gagal ginjal.


...**...


Diandra kali ini sibuk bolak-balik melihat ke arah luar melalui jendela rumahnya.


"Richard mana sih, katanya mau ngajak pergi." Diandra mengomel sedari tadi karena Richard tak kunjung datang.


"Mau telfon dia gw gengsi." lanjutnya.


Diandra pun membuka room chat dia dengan Richard lagi dan matanya langsung melotot saat membaca pesan Richard lagi.


"Sumpah demi apa, terus gw sedari tadi ngapain coba. Dia aja bilang kalau ada waktu."


"Aaaa... Diandra lo kenapa bodoh banget sih." maki Diandra pada dirinya sendiri.


Saking kesalnya Diandra sampai mengacak acak rambutnya sendiri.


"Tau gitu gw dari tadi cari mangsa aja."


Diandra pun mulai mencari mangsa lagi untuk dia tipu. Entah kesialan apa grup reseller RH bag itu sepi gak ada yang nyari barang dan postingannya juga gak ada yang respon sama sekali.


"Aagrr...."


"Kalau gini caranya bagaimana gw bisa kirim uang ke kampung buat pengobatan Rena."


"Enggak Diandra, lo harus semangat. Ingat adik lo di kampung butuh uang." ucap Diandra menyemangati dirinya sendiri.


...**...


Sementara itu di posisi Richard, dia tengah membereskan berkas berkas yang habis dia tanda tangani untuk di ambil oleh Ethan.


Tok tok tok.


"Masuk." suruh Richard.


Ethan pun masuk sambil tangannya membawa paper bag yang entah apa itu isinya.


"Selamat siang tuan, ini pesanan anda." ucap Ethan menyerahkan paper bag itu.

__ADS_1


Richard mengambilnya dan membuka kotak yang berada dalam paper bag itu. Terlihat di sana ada tas jinjing warna hitam yang di depannya ada hiasan kuku yang terlihat sangat cantik. Mungkin orang lain mengira itu bukan kuku manusia, melainkan itu sebuah permata karena warna putihnya sangat mengkilat bak permata.


Richard pun tersenyum melihat hasil karyanya yang begitu indah. Dia jadi tidak sabar untuk memberikan tas itu kepada Diandra.


"Gimana merutmu Ethan?" tanya Richard sambil memandangi bagian luar tas dan juga bagian dalamnya.


"Sempurna tuan, bahkan saya yang laki-laki aja berniat ingin membelinya, apalagi kaum wanita. Pasti nanti mereka akan berebut." jawab Ethan yang memang benar adanya.


"Tuan nanti akan membandrol dengan harga berapa?" tanya Ethan penasaran.


"Saya tidak menjualnya." jawab Richard masih mengamati bagian tas, memeriksa bagian jahitannya sudah rapi apa belum.


"Oh pasti itu mau tuan buat koleksi ya, memang sih tuan itu sangat tidak pantas buat di jual. Cocoknya tuh di lelang tuan." balas Ethan.


"Tidak juga untuk saya koleksi, ini akan saya persembahkan langsung buat Diandra." jelas Richard menatap Ethan dengan tersenyum simpul.


"Hah, tuan gak salah." kaget Ethan.


Bagaimana bisa, tas yang dia taksir dengan harga hampir satu M akan di berikan dengan begitu saja ke cewek yang bahkan bukan siapa siapa Richard sekarang. Dasar tuannya sudah mulai bucin.


"Tidak, saya tidak salah. Bahkan kalau perlu nanti setiap bulan saya akan membuatkan barang khusus buat Diandra. Dan itu semua nanti ada unsur dari tubuh manusia, entah itu tulangnya atau yang lain." jawab Richard santai.


"Nona Diandra sangat beruntung bisa mendapatkan anda tuan."


"Hmm, begitulah." balas Richard.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Ethan.


"Ehh tunggu," tahan Richard.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Ethan.


"Saya mau keluar dulu, saya titip perusahaan sama kamu." ucap Richard karena dia akan menemui Diandra.


"Baik tuan." balas Ethan dan pergi dari sana.


Richard pun langsung mengirimkan pesan kepada Diandra kalau dia akan menjemput Diandra sehabis ini. Setelah melihat pesan terkirim, Richard pergi ke kamarnya yang berada di dalam ruangan kerjanya.


Di sana Richard membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian dengan celana jeans hitam dan kaos putih serta memakai topi hitam. Dan tak lupa dia juga mengambil jaket hitamnya untuk dia pakai nanti.


Sebelum pergi Richard menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya hingga seluruh kamar di penuhi oleh bau parfum Richard. Setelah di rasa penampilannya sudah perfek Richard pun langsung pergi dari sana menuju kontrakan Diandra.


...**...


Diandra yang penampilannya sudah acak acakan pun di buat kebingungan saat menerima pesan dari Richard.

__ADS_1


Diandra yang mulanya tiduran pun langsung melompat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi Diandra kebingungan harus memakai pakaian yang seperti apa.


"Aduh gimana ini, gw harus pakai apa." bingung Diandra mengacak-acak lemari pakaiannya.


"Masak iya baju yang tadi, kan sudah kusut."


Diandra pun mencoba satu persatu pakaian yang ada di lemarinya, yang menurutnya tidak cocok langsung dia buang ke atas ranjang dan begitu juga seterusnya hingga di atas ranjang berserakan pakaian Diandra.


"Aagrr... gw harus pakai baju apa...." teriak Diandra bingung.


Klunting.


Suara pesan masuk, Diandra pun langsung membukanya dan terlihat foto yang Richard kirimkan kalau Richard sudah otw menuju tempat Diandra.


"Aduh gimana ini." bingung Diandra.


Diandra teringat kalau kemarin Richard ada membelikan dirinya dress. Dengan cepat Diandra mencari dress itu yang entah kemaren dia letakkan di mana.


"Akhirnya ketemu juga." lega Diandra saat menemukan dress itu.


Dengan cepat Diandra memakainya, dan setelah itu dia memoles wajahnya senatural mungkin agar tidak terlihat seperti tante Tante.


"Huh, akhirnya selesai juga." lega Diandra.


Belum juga nafasnya teratur, matanya sudah menatap gundukan pakaian yang berserakan di atas ranjangnya.


"Aaaa... Diandra bodoh." maki Diandra pada dirinya sendiri lagi.


Diandra pun langsung merapikan semua pakaiannya ke dalam lemari dengan asal asalan.


Tin tin.


Terdengar suara klakson mobil di depan kontrakannya. Diandra pun langsung berlari ke depan dan mengintip lewat jendela.


"Hah, dia beneran datang. Mana pakai mobil sport lagi." gumam Diandra, Diandra pun membuka pintu kontrakannya.


"Hai." sapa Diandra dengan nafas ngos-ngosan.


"Hai, yuk." balas Richard mengajak Diandra untuk segera berangkat.


"Yuk." balas Diandra.


Sebelum masuk kedalam mobil, Richard melihat ke arah kaki Diandra dan tersenyum.


"Kamu yakin mau pakai sendal imut itu?" tanya Richard menatap kaki Diandra.

__ADS_1


"Hah."


...***...


__ADS_2