
Rena sudah di tangani oleh dokter, Diandra berdiri mondar mandir di depan pintu ruangan Rena.
"Kak Dian sebaiknya kakak duduk dulu nanti kakak malah kecapekan." ucap Dito yang sedari tadi memperhatikan Diandra.
"kakak takut Rena kenapa kenapa, kakak merasa bersalah karena sudah meninggal Rena di sana. Kalau tahu akan seperti ini mending dulu kakak bawa saja Rena ke Jakarta." balas Diandra yang merasa bersalah.
"Sudah kak, semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali, yang sekarang ada saja lebih baik kita jaga dengan baik." balas Dito bijak.
"Terimakasih ya kamu sudah menjaga Rena selama ini." ucap Diandra.
"Tidak kak, aku juga baru berada di samping Rena. Aku tidak tahu dulu apa yang dia rasakan tanpa ada orang di sisinya yang selalu menemaninya di kala sakitnya kambuh." balas Dito.
"Kamu pasti tahu banyak tentang kehidupan Rena selama saya gak ada, bolehkah saya minta kamu buat jelaskan semuanya?" pinta Diandra.
"Boleh kak." Dito pun menceritakan gimana keseharian Rena selama di sana.
Dito juga menjelaskan perilaku ibu Tika terhadap Rena dan juga keseharian ibu Tika yang selalu bermain judi menggunakan uang yang Diandra kirimkan buat Rena.
"Sebenarnya kita ke Jakarta untuk meminta restu dari kakak, Dito berencana untuk menikahi Rena dalam waktu dekat ini." lanjut Dito.
"Kamu yakin mau sama Rena, dia tidak sesempurna apa yang kamu kira loh?" tanya Diandra mengetes keseriusan Dito.
"Iya kak, aku siap menerima semua kekurangan Rena. Bahkan aku juga tidak sesempurna apa yang kakak kira. Kita sama sama manusia, jadi pasti kita ada memiliki kekurangan maupun kelebihan." jawab Dito bijak.
"Kakak bersyukur karena Rena bisa menemukan laki laki yang menyayanginya seperti kamu. Kakak harap nanti kamu bisa menjaga Rena ya."
"Dan ada satu hal yang kakak mau kasih tahu sama kamu. Ini rahasia yang sangat besar, hanya kakak sama almarhum kedua orang tua kakak saja yang tahu." lanjut Diandra serius.
"Ada apa kak, apakah ini sangat membahayakan?" penasaran Dito.
"Tidak, ini hanya rahasia saja." balas Diandra.
"Lalu apa itu kak?" tanya Dito.
"Kamu janji ya jangan bilang sama Rena, kakak takut nanti kalau Rena akan sedih saat mengetahuinya."
"Iya kak Dito janji."
"Sebenarnya Rena itu bukan adik kandung kakak." ungkap Diandra membuat Dito kaget.
__ADS_1
"Kakak becanda ya, kalau Rena bukan adik kakak kenapa Rena bisa hidup sama keluarga kakak?" tak percaya Dito.
"Dulu saat orang tua kakak pergi liburan mereka menemukan Rena yang tengah menangis sendirian di pinggir jalan. Karena waktu itu Rena masih kecil mungkin dia tidak dapat mengingat kejadian beberapa tahun lalu."
"Kedua orang tua kakak sebelum pergi mereka berpesan agar kakak menjaga Rena dan kakak pun berjanji pada mereka akan menjaga Rena hingga nanti kakak pergi menyusul mereka." jelas Diandra menggingat masa lalunya.
"Dulu kehidupan kami berkecukupan, dan setelah kepergian kedua orang tua kakak karena kecelakaan mulai saat itu lah kakak dan Rena kekurangan ekonomi. Terlebih setelah kepergian kedua orang tua kakak baru seminggu, Rena di diagnosis menggidap penyakit gagal ginjal."
"Kakak yang sabar ya, terus apakah kakak tahu di mana keluarga asli Rena?" tanya Dito dibalas gelengan oleh Diandra.
"Kakak mohon tolong jaga Rena ya kalau kakak gak ada, buat dia bahagia, jangan buat dia bersedih. Sedari kecil dia sudah hidup menderita." pinta Diandra.
"Iya kak Dito janji." balas Dito mantap.
Mereka berdua pun terus menunggu disana, mereka selalu berdoa semoga tidak terjadi hal yang buruk pada Rena.
...**...
Richard sudah seperti orang gila sekarang. Dia terus bolak balik melihat kamarnya untuk mengecek apakah benar di sana ada Diandra atau tidak. Tapi nyatanya tetap sama.
Ethan yang melihatnya pun pusing sendiri, tapi dia membiarkannya. Kapan lagi coba melihat tuannya seperti orang gila seperti sekarang.
"ETHAN." teriak Richard dari kamarnya.
"Di mana Diandra, bantu saya mencari Diandra." pinta Richard pada Ethan.
Ethan diam saja tak menjawab permintaan Richard.
"ETHAN." bentak Richard menatap Ethan tajam.
Ethan masih diam saja tak menjawab ucapan Richard.
"Ethan kenapa kamu diam saja, apakah kamu bisu Hah!" bentak Richard tapi masih tetap Ethan diam saja tak menjawab ucapan Richard.
"Jawab saya Ethan, kamu mau saya bunuh Hah." garang Richard.
"Huh, iya tuan ada apa?" akhirnya Ethan membuka suara.
"Kenapa kamu dari tadi diam aja?" tanya Richard.
__ADS_1
"Apakah tuan lupa, tadikan tuan sendiri yang menyuruh saya diam."
"Emang jadi saya tuh serba salah tuan, berbicara di suruh diam, tapi saat diam malah di suruh berbicara. Mau tuan apa sih, saya cepek tuan." lanjut Ethan mendramatisir.
"Kamu berani sama saya Hah?" garang Richard marah.
"Iya tuan ampun saya minta maaf. Apakah tuan masih membutuhkan saya?" tanya Ethan sombong.
"Diam kamu Ethan, bikin saya makin pusing aja."bentak Richard lagi.
"Baiklah." balas Ethan santai.
Ethan berdiri di sana bak patung hidup. Dia hanya diam sambil berdiri dengan terus memperhatikan tuannya yang seperti orang gila.
"Aagrr... Diandra dimana kamu." marah Richard.
"Dasar tuan bodoh, tinggal lacak lewat handphonenya kan bisa." batin Ethan.
Biarlah Ethan tidak akan memberi tahukan pada tuannya. Biar tuannya yang bodoh itu berfikir sedikit.
Lama Ethan membiarkan Richard mengamuk seperti orang gila, dia membiarkan saja apa yang Richard lakukan. Tapi kok lama di biarkan kelakuan Richard semakin tidak jelas.
Mulai dari membantingnya vas bunga, membuang semua bantal dan selimut ke lantai dan mengobrak-abrik isi lemari. Tuannya ini memang aneh, emang Diandra sekecil itu apa sampai muat bersembunyi di bawah selimut.
"Dasar tuan bodoh." batin Ethan lagi mengumpati Richard.
"Ehh stop tuan." tahan Ethan saat Richard akan meninju kaca jendela apartemennya.
Bisa repot nanti Ethan kalau sampai tuannya mengamuk lebih gila lagi. Bukan masalah uang ganti rugi, tapi masalahnya nanti kalau sampai di bawah ada media terus tahu kelakuan Richard kan bisa makin puyeng nanti Ethan.
"Saya tahu keberadaan nona Diandra." ucap Ethan lagi membuat Richard menghentikan aksinya.
Richard berbalik menghampiri Ethan dan....
Bug.
"Kenapa gak bilang dari tadi bodoh, saya sudah seperti orang gila baru kamu kasih tahu saya Hah." marah Richard.
Lah ternyata tuannya itu sadar kalau sudah seperti orang gila. Trus kalau sadar dari tadi ngapain aja. Emang dah tuannya ini beda sendiri dari yang lain. Jadi makin sayang Ethan, ehh maksudnya jadi makin puyeng Ethan.
__ADS_1
"Sakit tuan." keluh Ethan yang menerima bogeman dari Richard.
...*** ...