Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#54


__ADS_3

"Maaf tuan anda salah faham, saya sama kak Dian tidak ada apa apa." akhirnya Dito membuka suara setelah sedari tadi diam merasakan bogeman yang sangat luar biasa dari Richard.


"Terus kalau bukan siapa siapa kenapa tadi Diandra bersandar di pundak kamu?" tanya Richard tidak percaya dengan apa yang Dito katakan.


Dia lebih percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Oh itu karena kak Dian butuh sandaran, jadi kak diam minta saya buat meminjamkan pundaknya." jelas Dito.


Richard yang mendengar itu pun rasanya sangat malu.


"Sayang, benar seperti itu?" tanya Richard lembut pada Diandra.


"Udah kamu pergi aja, percuma kalau kamu di sini bikin aku makin pusing aja." balas Diandra mengusir Richard.


"Aku minta maaf sayang, habisnya kamu aku telfon selalu berada di panggilan lain. Jadi aku kepikiran yang enggak enggak soal kamu." mohon Richard.


"Kamu gak salah, kemana aja kamu dari tadi saat aku telfon kamu berulang kali. Aku sendirian di pinggir jalan bingung caranya pulang. Dan kamu di hubungi malah gak pernah angkat telfon kamu." balas Diandra tak terikat dengan tuduhan Richard.


"Huh, seperti biasa. Ternyata drama sinetron ada juga di sekeliling ku." gumam Ethan lirih agar tidak ada yang mendengarnya.


"Maaf sayang, aku minta maaf. Lain kali gak gitu lagi ya." mohon Richard.


"Hmm." balas Diandra.


"Sayang...." rengek Richard tapi Diandra tak menghiraukannya.


Ethan yang melihat tingkah tuannya itu rasa ingin muntah saat itulah juga. Bagiamana bisa tuannya yang psikopat itu memiliki sifat yang seperti itu. Sungguh di luar nalar.


Ceklek.


Pintu ruangan Rena terbuka, beberapa orang keluar sambil mendorong bangkar Rena.


"Rena." ucap Dito dan Diandra barengan menghampiri Rena.


"Maaf mbak, mas kami akan segera memindahkan nona Rena ke ruangannya." ucap salah seorang suster yang ada di sana.


"Baik sus." balas Diandra dan Dito.


Mereka berdua mengikuti ke mana arah bangkar Rena di dorong, sedangkan Richard dan Ethan masih berdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Ethan apakah kamu tahu siapa dia?" tanya Richard pada Ethan.


"Sepertinya itu adalah adik nona Diandra yang mengidap gagal tuan." jawab Ethan.


"Kenapa wajah adik Diandra sangat tidak asing bagi saya Ethan?" ucap Richard.


"Mungkin hanya perasaan anda saja tuan." balas Ethan.


"Kamu cari tahu lagi tentang keluarga Diandra sedetail mungkin jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun." suruh Richard.

__ADS_1


"Baik tuan." balas Ethan.


Richard pun mengikuti Diandra dan Dito tadi, sedangkan Ethan memilih untuk pergi menjalankan perintah tuannya.


...**...


"S1alan, berani beraninya Richard membunuh orang orang ku." marah seseorang yang tak lain adalah Andrew.


"Lihat saja apa yang akan ku lakukan nanti. Tidak akan aku biarkan hidupnya tenang setelah apa yang papanya perbuat pada ayahku. Aku akan membalas semua perbuatan keluarganya kepada ayahku." marah Andrew.


"Siapkan penerbangan ke Indonesia sekarang, kita balas Richard di negara sana." suruh Andrew pada asistennya.


"Baik tuan." jawab Elina tangan kanan sekaligus sekertaris Andrew dalam perusahaan perjudian nya.


Elina pun pergi menyiapkan apa yang tuannya suruh. Setelah semuanya siap dia kembali menghampiri Andrew.


"Pesawat sudah siap tuan." ucap Elina pada Andrew.


Andrew pun beranjak pergi dan di ikuti Elina di belakangnya.


Jika kalian bertanya sejago apa Elina sampai bisa menjadi asisten Andrew. Jawabannya adalah sebelas dua belas sama seperti Ethan.


Dulu Elina dan Ethan satu tempat pelatihan sebelum menjadi sekertaris Andrew dan Richard.


Elina yang dulu tidak seperti Elina yang sekarang pendiam. Dulu Elina adalah salah satu manusia paling ceria dan suka menghibur orang orang yang ada di dekatnya saat terkena masalah. Tapi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu kehidupannya mulai berubah.


Andrew mengganggap Elina seperti adiknya sendiri. Karena dia juga mempunyai adiknya perempuan yang entah berada di mana sekarang.


"Ayo Elina kita berangkat sekarang." perintah Andrew.


"Baik tuan." balas Elina.


Pesawat pun mulai mengudara meninggalkan tanah Amerika tempat di mana bisnis perjudian Andrew maju pesat.


...**...


"Sayang." pangil Richard menghampiri Diandra yang duduk terbengong di depan ruangan Rena.


Diandra diam saja, tapi lama kelamaan kepalanya mulai bersandar di pundak Richard.


"Kamu jangan terlalu banyak kepikiran ya, nanti kesehatan kamu juga akan memburuk. Kamu sudah makan belum?" tanya Richard sambil tangannya membelai kepala Diandra.


Diandra hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Kita cari makan ya, biar perut kamu gak kosong." ajak Richard.


"Aku gak mau tinggalin Rena sendirian di sini." tolak Diandra.


"Ya sudah aku suruh Ethan dulu buat cari makan untuk kita." ucap Richard dan langsung menghubungi Ethan untuk memesankan mereka berdua makanan.

__ADS_1


"Kamu sudah makan belum?" tanya Richard pada Dito ramah tidak seperti waktu pertama ketemu tadi.


"Belum Kak." balas Dito apa adanya.


"Kamu mau makan apa biar sekalian asisten saya pesankan?"


"Apa aja kak." balas Dito.


Richard menggangukkan kepalanya dan mulai menghubungi Ethan lagi untuk menambah pesanan mereka.


"Sini kamu tidur dulu, nanti kalau makanan udah sampai aku bangunin kamu." suruh Richard agar Diandra berbaring di pahanya.


"Enggak, aku gak bisa tidur kalau di tempat seperti ini." tolak Diandra.


"Ya sudah." mengalah Richard tak lagi memaksa Diandra.


Richard mengelus punggung serta kepala Diandra agar Diandra tenang.


Tak berapa lama Ethan datang dengan membawa beberapa kantong plastik makanan. Ethan langsung memberikannya pada Richard.


"Ini tuan." ucap Ethan.


"Yang satu kamu kasih Dito ya, dia belum makan soalnya." balas Richard dan di angguki Ethan.


"Ini tuan." ucap Ethan memberikan satu bungkus makanan pada Dito.


"Terimakasih, dan jangan panggil saya tuan, saya bukan tuan kamu." balas Dito yang merasa tidak enak karena di pangil tuan.


"Kamu panggil dia Dito aja biar lebih akrab." sahut Diandra.


"Baik nona." balas Ethan.


"Kamu sudah makan belum?" tanya Richard pada Ethan perhatian.


"Sudah tuan, tadi sambil menunggu makanannya siap saya makan di sana." jawab Ethan.


"Bagus lah." balas Richard.


"Sini kami aku suapin." ucap Richard hendak membantu Diandra makan.


"Aku bisa makan sendiri, mending kamu makan punya kamu aja, kamu juga belum makan." tolak Diandra.


"Ya sudah, tapi ini semua harus habis ya."


"Iyah."


Mereka bertiga pun makan dengan lahap, tak ada di antara mereka yang tidak nafsu makan meskipun berada di rumah sakit. Bagi mereka perut harus yang utama di isi. Karena kalau nanti perut kosong terus sakit Siapa yang akan menjaga Rena.


...***...

__ADS_1


__ADS_2