
Iya mikirin kamu.
Balas Dito.
Apaan sih.
Balas Rena.
Dito yakin kalau sekarang pasti pipi Rena sudah bersemu merah. Seandainya saja dia ada di sana pasti akan langsung dia makan tuh pipi.
Mereka pun terus berbalas pesan sampai salah satu dari mereka mengakhirinya.
...**...
Richard mengantar Diandra pulang ke kontrakannya setelah menginap dua hari di kontrakannya.
"Aku masuk dulu ya, kami yang semangat kerjanya." ucap Diandra sebelum keluar dari mobil Richard.
"Iya makasih sayang sudah menemani aku seharian penuh kemaren. Sebagai hadiahnya aku bakal kasih kamu sesuatu." balas Richard.
"Mau kasih hadiah apa nih, kok aku jadi penasaran?" tanya Richard.
"Tutup mata kamu dulu dong." balas Richard.
Diandra pun langsung melakukan perintah Richard, dia memejamkan matanya sambil pikirannya berkelana memikirkan apa yang nanti akan Richard berikan.
"Dah buka mata kamu." suruh Richard.
Perlahan mata Diandra terbuka dan melihat apa yang ada di depannya.
"Nih, aku bingung mau kasih kamu apa jadi aku kasih ini aja ya." ucap Richard memberikan satu black card miliknya pada Diandra.
"Hah, ini seriusan?" tak percaya Diandra.
Pasalnya apa yang di berikan Richard itu bukan barang sembarang loh. Dulu di beri tas aja menurut Diandra udah mahal banget, nah ini malah di beri uangnya langsung.
Diandra tidak bisa membayangkan kalau nanti seandainya dia menikah dengan Richard, masih jadi pacarnya aja udah di kasih black card. Apalagi kalau jadi istri mungkin saja semua uang Richard bakal dia yang pegang.
"Serius sayang, nih ambil. Aku gak tahu mau kasih hadiah kamu apa jadi aku beri ini aja biar kamu nanti bisa belanja sendiri." balas Richard.
"Tapi ini kebanyakan loh."
"Udah ambil aja mumpung aku lagi baik. Udah gih sono nanti malah aku gak jadi berangkat ke kantor kalau kamu masih di sini terus."
"Emang kenapa kalau aku di sini?"
"Aku gak tahan sayang ku." gemas Richard pada Diandra yang sekarang malah suka sekali menggodanya.
__ADS_1
"Hahahaha... oke oke, bye sayang sampai ketemu lagi."
"Emuah." Diandra memberikan kiss bye pada Richard dan langsung turun dari mobil.
"Hari hati ya di jalan, ingat matanya jangan jelalatan." ucap Diandra.
"Iya sayangku, aku pergi dulu ya nanti pin nya tanggal jadian kita." balas Richard.
Richard pun pergi dari depan kontrakan Diandra, dan Diandra yang menunggu kepergian Richard pun segera masuk ke dalam kontrakan setelah tidak melihat lagi mobil Richard.
"Huuwaaaa... gw kaya." sorak senang Diandra setelah masuk ke dalam rumah.
"Fix sih ini nanti gw harus belanja ke mall." lanjutnya.
Diandra pun masuk ke dalam kamar dan pergi membersihkan tubuhnya karena dia berencana hari ini mau pergi ke salon dan shoping.
...**...
"Rena cepat sini." pangil ibu Tika pada Rena.
"Iya bu ada apa?" tanya Rena menghampiri ibu Tika yang ada di ruang tamu.
"Saya mau telfon Diandra minta kiriman uang, dan nanti saya minta kamu ngomong Samarinda kakak kamu kalau kamu harus cuci darah sama beli obat hari ini karena obat kamu habis." perintah jahat ibu Tika.
"Enggak Bu, Rena gak mau." tolak Rena.
"Rena mohon bu jangan lakuin itu pada Rena." ucap Rena memohon.
"Makanya kamu jangan berani melawan sama saya."
"Tapi bu, kasian kak Dian sana kalau ibu sering minta uang sama kak Dian."
"Halah kamu gak tahu apa apa mendingan kamu diam saja. Dia di sana kerjanya enak gajinya besar. Buktinya aja setiap ibu minta uang dia langsung kirim uang buat ibu."
"Udah sini cepat kamu telfon kakak kamu." suruh ibu Tika memberikan handphone yang dari dulu tidak pernah boleh di sentuh oleh siapapun.
Tangan Rena terasa sangat kaku untuk menerima handphone itu. Tapi dia teringat sesuatu kalau dia harus bisa mendapatkan nomor handphone kakaknya. Oke mungkin ini petunjuknya buat Rena mendapatkan nomor kakaknya.
"Tunggu apa lagi ayo cepat." paksa ibu Tika.
Rena pun mengambilnya dan menghidupkan handphone ibu Tika tapi ternyata handphonenya di kasih kode.
"Handphone ibu terkunci." ucap Rena menunjukkan layar handphone ibu Tika.
"251112." ucap ibu Tika menyebutkan pin handphonenya.
Rena pun mengingat dan memasukkan nomor yang ibu Tika sebutkan tadi.
__ADS_1
"Nama kontaknya siapa Bu?" tanya Rena.
"Diandra." balas ibu Tika cuek.
Rena pun mencari kontak nomor kakaknya dan setelah itu dia mulai memencet tombol telfon yang tertera di sana.
'Iya halo Bu?' ucap Diandra dari sebrang sana.
'Halo kak ini aku Rena.' balas Rena.
'Ya ampun Rena ini kamu dek, kamu apa kabar kakak kangen sama kamu.' ucap Diandra sangat antusias setelah mengetahui yang menelfonnya itu adalah adiknya.
'Alhamdulillah kak Rena...auw.' ringis Rena saat kakinya di injak oleh ibu Tika.
'Rena, dek kamu kenapa?' panik Diandra.
'Enggak kak itu tadi Rena gak sengaja terkena jarum jahit.' bohong Rena.
'Ya ampun dek kamu yang hati hati dong kalau pegang apa apa itu. Emang sekarang kamu lagi ngapain sih kok sampai bisa terkena jarum jahit.'
'Ini Dian adik kamu ini tadi ingin menjahit bajunya yang robek, tadi sih ibu sudah melarangnya tapi dia tetap ngeyel ya udah jadi ibu biarkan.' sahut ibu Tika menimbrung pembicaraan antara adik dan kakak.
'Tuh dek, kamu seharusnya dengerin ibu biar kamu gak terkena jarum jahit. Mendingan kamu pergi aja ke tukang jahit suruh benerin baju kamu, palingan harganya juga gak mahal kok.' ucap Rena.
'Iya kak, maaf.' ucap Rena merasa bersalah.
'Itu dia nak masalahnya, uang yang kamu kirim terakhir kali sudah habis. Jadi kita tidak ada uang untuk bayar ongkos jahitnya nanti. Apalagi hari ini obat Rena habis. Iya kan Ren?' ucap ibu Tika sambil matanya menatap tajam ke arah Rena.
'I-iya.' balas Rena.
'Ya ampun dek, ya udah nanti kakak kirim uang buat kamu beli obat ya. Nanti kakak akan bekerja lebih giat lagi agar kamu tidak kekurangan uang di sana.'
'Hiks hiks hiks.' tangis Rena.
'Dek kamu kenapa nangis, kamu gak papa kan, apa ada yang sakit?' tanya Diandra khawatir.
Ibu Tika pun segera membisukan panggilannya saat melihat Rena menangis.
"Kamu ini apa apa sih pakai nangis segala. Awas ya sampai kamu berani bilang sama kakak kamu, abis kamu." marah ibu Tika.
Ibu Tika pun segera pergi meninggalkan Rena dan melanjutkan telfonan nya dengan Diandra.
'Halo nak.' ucap ibu Tika.
'Iya bu, Rena mana Bu, dia gak kenapa kenapa kan?' tanya Diandra khawatir.
...***...
__ADS_1