Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#108


__ADS_3

Delapan tahun berlalu.


Di sebuah kontrakan kecil nan sederhana ada anak perempuan cantik yang sudah memakai seragam merah putih tengah berteriak teriak memanggil mommy nya.


"Mom ayo cepat, aku udah lapar." ucap anak perempuan kecil itu tidak sabaran.


"Iya sayang sebentar, telurnya masih belum matang." balas sang mommy dari dapur.


"Ais, mommy selalu lelet." decak anak perempuan itu.


"Jeni mommy denger ya kamu ngomong apa." balas sang mommy dari belakang.


"Iya mom maaf, Jeni cuma becanda." balas anak perempuan itu yang bernama Jenifer.


"Ais anak itu, tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan mommy nya." decak sang mommy dari dapur.


Tak lama setelah itu sang mommy datang menghampiri Jenifer dengan membawa satu piring nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya.


"Horeee Jeni makan nasi goreng." senang Jenifer.


"Jangan lupa berdoa dulu nak."


"Siap mom." balas Jenifer dan langsung makan nasi goreng itu dengan lahap karena jarang jarang sekali dia harus makan enak seperti ini.


Biasanya hanya ada sayur bening bayam atau paling mewah dikit ada tempe goreng, jadi kalau Jenifer makan nasi goreng itu berarti sudah sangat mewah buat dia.


"Apakah mommy sudah makan?" tanya Jenifer pada mommy.


"Sudah kamu makan sana, nanti kamu bisa tekat sekolahnya." balas sang mommy.


"Sini Jeni suapin mommy, Jeni tahu kalau mommy belum makan." balas Jenifer menyodorkan satu sendok nasi goreng beserta potongan telur ceplok.


Sang mommy pun menerima suapan Jenifer.


"Kita makan sama sama ya mom, Jeni gak mau kalau hanya Jeni saja yang menikmati makanan enak ini, sedangkan nanti mommy harus makan sama sayur bening lagi." ucap Jeni pada sang mommy.


"Terimakasih ya sayang kamu sudah mengerti dengan keadaan kita, maafkan mommy yang belum bisa bikin kamu bahagia." ucap sang mommy pada Jenifer.


"It's oke mom, nanti kalau Jeni udah besar Jeni akan cari uang yang banyak buat mommy biar kita bisa makan enak terus." balas Jenifer dengan pemikiran yang dewasa.

__ADS_1


"Seandainya kamu tahu nak, kalau Daddy kamu itu orang kaya, pasti kamu tidak akan pernah merasakan makan dengan sayur bening setiap hari." batin sang mommy tersenyum miris.


Dia adalah Diandra, delapan tahun yang lalu dia ketinggalan kapal yang akan dia naiki karena dia harus pergi keluar untuk mencari obat pereda mual.


Semua barang, baju dan uang yang sudah dia siapkan harus hilang karena kecerobohannya.


Tapi dia bersyukur karena dia tidak jadi menjadi korban dalam kecelakaan itu.


Setelah kejadian itu Diandra harus bekerja dengan keras untuk menghidupi dirinya sendiri.


Di tambah lagi dia harus menerima kenyataan kalau dia tengah mengandung anak Richard, rasanya saat itu Diandra ingin sekali pergi menghubungi Richard.


Tapi Diandra mengurungkan niatnya saat melihat berita kalau ternyata semua orang mengira kalau dia ikut dalam korban kecelakaan itu.


Diandra pun akhirnya pergi ke sebuah kampung dan menyewa tempat di sana dengan menjual handphone yang dia punya.


Keseharian Diandra, dia bekerja di kebun orang untuk menghidupi kebutuhannya.


Beruntungnya orang orang di sana pada baik dan tidak ada yang menatap rendah kepadanya, tapi masih ada juga di antara orang orang yang benci dan jijik dengan Diandra.


Diandra memaklumi itu, karena memang dirinya pantas mendapatkan hinaan itu.


Diandra bekerja dengan keras agar bisa menyekolahkan anaknya Jenifer Halmiton Ghilbert, dan untuk mekan sehari hari dia biasanya menggunakan sayuran yang ada di sekitar rumahnya.


"Mom." pangil Jenifer membuat Diandra kaget.


"Hah, Iya sayang kenapa?" kaget Diandra.


"Mommy kenapa bengong sih, ini nasi gorengnya udah habis Jeni mau berangkat sekolah dulu." jawab Jenifer menunjuk ke arah piring yang sudah bersih.


"Wah anak mommy pinter ya, yang semangat ya sekolahnya biar jadi anak yang pintar." puji Diandra.


"Aku memang sudah pintar mom." balas Jenifer sombong.


Jenifer memang memiliki otak di atas rata rata teman sebayanya, dia sering mengikuti lomba cerdas cermat dari sejak dia TK sampai sekarang kelas 1 SD.


"Iya iya anak mommy memang pintar, udah gih sana berangkat biar nanti tidak telat." suruh Diandra.


"Iya mom, kalau gitu Jeni berangkat dulu ya mom, daaa mommy sayang." pamit Jenifer.

__ADS_1


"Daaa juga sayang." balas Diandra sambil tersenyum lembut menatap anaknya.


"Seandainya kamu ada di sini, mungkin kamu akan sangat bahagia melihat anak kita yang sudah tumbuh dewasa." gumam Diandra menatap kepergian anaknya.


"Sudah Diandra bukan waktu kamu halu lagi, ayo cepat pergi ke sawah cari uang buat biaya sekolah anakmu." buru buru Diandra menghapus air matanya.


Diandra pun bersiap untuk pergi ke sawah, kali ini dia akan membantu tetangga sebelah rumahnya untuk memanen padi.


Diandra paling suka kalau musim panen seperti ini, karena nanti dia akan bisa mendapatkan beras yang banyak.


Setelah siap Diandra pun langsung berangkat dengan berjalan kaki menuju sawah yang letaknya cukup jauh dari rumahnya.


...**...


Di Jakarta Richard sedang uring iringan, karena proyek yang dia jalankan ternyata mengalami kerugian akibat dari petugas proyek yang tidak bertanggung jawab dan membawa kabur uang proyek.


"Ethan cepat cari orang itu, bawa dia ke sini." perintah Richard pada Ethan.


"Baik tuan, tapi apakah nanti ada akan melakukannya seperti dulu lagi?" tanya Ethan takut kalau Richard menjadi dirinya beberapa tahun yang lalu lagi.


"Kamu pikir aku bodoh, aku tidak mungkin akan mengulangi hal yang dengan susah payah aku lupakan." balas Richard.


"Sudah cepat sana pergi, aku sudah muak melihat angka angka yang ada di sini." lanjut Richard menyuruh Ethan agar segera pergi mencari orang yang sudah membawa uangnya pergi.


"Baik tuan." balas Ethan dan pergi dari sana.


Seperti inilah Richard yang sekarang, tubuhnya yang semakin kekar karena sering melakukan olahraga, dan hartanya yang semakin melimpah ruah karena dia terus bekerja.


Ketika siang dia memang bekerja, tapi ketika malam'hari dia akan berubah menjadi sesosok yang sangat menyedihkan.


Menangis dan menangis sambil melihat foto Diandra beberapa tahun yang lalu.


"Apakah aku akan terus hidup seperti ini." gumam Richard sambil memijat pelipisnya.


Bruk.


"Huuwaaaa mama... Ezra jatuh." tangis anak kecil membuat Richard mengalihkan pandangannya ke anak kecil yang tergeletak di lantai pintu masuk ruangannya.


"Astaga Ezra, kamu kenapa sampai jatuh gini." panik Richard membantu Ezra untuk bangun.

__ADS_1


"Sakit Om hiks hiks." Adu anak kecil itu yang bernama Ezra.


...***...


__ADS_2