
Richard dan Diandra sudah sampai di restoran yang sudah Richard pesan. Mereka berdua masuk menuju ruang VIP.
Sampai di sana Richard langsung mempersilahkan Diandra untuk duduk dengan manisnya. Setelah itu baru dia mengambil tempat duduk di hadapan Diandra.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Richard dan sudah ada pelayan di samping mereka yang siap untuk mencatat pesanan mereka.
"Terserah kamu saja, aku makan apa aja kok." jawab Diandra. dan di angguki Richard.
"Bawa pesanan saya yang tadi ke sini." ucap Richard pada pelayan itu.
"Baik tuan." balas pelayan itu dan segera pergi untuk mengambil pesanan yang sudah Richard pesan.
"Kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Diandra sambil memandangi sekeliling ruangan yang sudah di sulap sedemikian rupa hingga membuat kesan romantis di dalam ruangan itu.
"Bukan saya sih, tapi saya yang memesan ini semua." jawab Richard tak lupa dengan senyuman manis yang hanya dia perlihatkan pada Diandra seorang.
"Kenapa, kamu gak suka ya?" lanjut Richard.
"Ehh, enggak kok, suka banget malah."
"Permisi tuan, nona ini pesanan anda silahkan di nikmati. Nanti kalau ada perlu bisa pangil kita di depan." ucap pelayan yang datang bersama beberapa pelayan yang lain juga.
Mereka menghidangkan beberapa macam makanan yang paling mahal di restoran itu. Diandra yang melihat itu pun perutnya meronta ronta ingin melahap semuanya. Beruntung sekali dia belum makan siang, jadi nanti dia bisa puas mencicipi semuanya.
"Terimakasih mbak." ucap Diandra.
"Sama sama nona, kalau begitu kami permisi dulu." beberapa pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"Ayo di makan, saya tahu pasti kamu belum makan siang kan?" suruh Richard dan di balas cengiran oleh Diandra.
"Kamu mau makan apa dulu?" tanya Richard.
"Eemmm... sepertinya aku mau steak daging dulu." jawab Diandra yang tergoda ingin menikmati steak yang sangat membuat air liurnya ingin keluar saat melihatnya.
Richard pun langsung mengambil steak daging dan memotongnya menjadi kecil kecil agar memudahkan Diandra dalam memakannya.
"Kamu makan yang ini saja biar lebih mudah." ucap Richard memberikan satu piring steak yang sudah terpotong menjadi kecil kecil kepada Diandra.
__ADS_1
"Makasih." balas Diandra menerima steak dari Richard.
Perhatian kecil yang Richard berikan ternyata bisa membuat hati Diandra diskoan. Ingin rasanya Diandra teriak karena baper, tapi apa kata Richard nanti. Yang ada di bakal malu.
Mereka pun makan satu persatu makanan yang ada di meja, hingga makanan yang jumlahnya tidak sedikit tadi hampir habis. Tapi bukan Richard pelakunya, melainkan Diandra. Richard hanya makan satu piring steak saja, sedangkan Diandra makan banyak.
Diandra yang merasa perutnya sudah kenyang pun menghentikan kegiatan makannya, karena perutnya sepertinya sudah tidak muat lagi untuk menampung banyaknya makanan yang ada di meja.
"Udah kenyang?" tanya Richard sambil tangannya menghapus sisa saos yang ada di sudut bibir Diandra.
Bukannya mengelap tangannya dengan tisu, Richard malah menjilati ujung jempolnya yang terdapat sisa-sisa saos di mulut Diandra ke mulutnya tanpa rasa jijik.
"Ehh, itu jorok loh." ucap Diandra menyodorkan tisu untuk Richard.
"Gak ada yang jorok kalau itu dari tubuh kamu, bukannya tadi kita sudah main main di mobil?" balas Richard mengingatkan Diandra tentang kejadian di dalam mobil tadi saat menuju ke sini.
Pipi Diandra memerah saat mengingat kejadian mereka di dalam mobil tadi. Bagaimana bisa tadi dia begitu terlena oleh ciuman Richard. Memang sih ciumannya itu sangat menggoda, tapi kan seharusnya Diandra tadi tidak begitu saja menerimanya, harus ada penolakan sedikit. Biar Richard tak menganggapnya murahan.
"Kenapa pipinya merah hmm, malu?" tanya Richard menggoda Diandra.
Melihat itu Richard bangkit dari tempat duduknya dan berpindah ke berdiri di belakang Diandra.
"Ngapa-ngapain malu sih hmm?" bisik Richard dari belakang Diandra sambil tangannya membuka tangan Diandra yang berada dalam wajahnya.
Cup.
"Saya suka sama kamu, mau hak kamu menjadi pasangan saya?" tanya Richard dari samping Diandra setelah mencuri ciuman di pipi Diandra yang memerah seperti kepiting rebus.
Diandra memutar kepalanya menghadap Richard yang berada di belakangnya. Dia menatap Richard yang sekarang malah sudah berjongkok di hadapannya sambil memegang kedua tangannya yang berada di pangkuan Diandra.
"Saya tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi saya jujur sudah suka sama kamu sejak pandangan pertama kita di mall waktu itu. Jadi, Diandra Safaluna maukah kamu menjadi kekasih saya?" tanya Richard lagi.
Diandra terdiam, bukan karena bingung harus menjawab apa, sudah jelas jawaban Diandra nanti adalah iya. Tapi Diandra sengaja mengulur waktu ashar Richard kira dirinya tengah berfikir untuk menerimanya atau tidak.
"Gimana kamu mau kan jadi kekasih saya, saya janji nanti saya akan berusaha buat kamu bahagia." ucap Richard lagi berusaha meyakinkan Diandra.
"A-aku...." Diandra sengaja menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Plis saya mohon, kamu mau ya...." ucap Richard memohon.
Dan pada akhirnya Diandra pun menganggukkan kepalanya pertanda dia mau menjadi kekasih Richard.
"Apaan tuh artinya, jawab yang jelas dong." goda Richard sambil tersenyum.
"Iya aku mau jadi pacar kamu." balas Diandra yang membuat Richard merasa terbang jauh di angkasa.
"Masih sayang, aku janji bakal bikin kamu bahagia." ucap Richard senang sambil memeluk pinggang Diandra.
Kali ini posisi Richard masih tetap berjongkok, tadi saat dia memeluk Diandra posisi kepalanya berada di dada Diandra.
"Empuk." ucap Richard mendusel duselkan kepalanya di belahan dada Diandra.
"Dasar mesum." Diandra menjauhkan kepala Richard dari dadanya.
"Mesum sama pacar sendiri gak papa lah." balas Richard dan akan memeluk Diandra lagi tapi Diandra segera menahannya.
"Tapi ada syaratnya." ucap Diandra membuat Richard menatap Diandra penuh tanya.
"Apa?" tanya Richard penasaran.
Dia janji nanti akan melakukan syarat yang Diandra berikan sebisa mungkin agar Diandra nyaman saat bersamanya.
"Aku gak mau kamu berbicara terlalu formal lagi kalau sama aku. Apalagi kamu pangil nama kamu saya." ucap Diandra.
"Eemm... tidak sulit. Ok saya, ehh maksudnya aku akan berusaha untuk terbiasa ngomong aku kamu." balas Richard dan langsung memeluk Diandra dengan erat.
"Udah yuk pulang." ajak Diandra memegang kepala Richard agar menatap dirinya.
"Bentar, aku masih mau berduaan dulu sama kamu." balas Richard menatap Diandra dari bawah.
"Kan bisa nanti di mobil, aku sudah bosan di sini. Apalagi banyak bekas makanan kita yang belum di bersihkan."
"Akan aku suruh mereka untuk membersihkannya." balas Richard yang sudah mulai terbiasa berbicara aku kamu.
...***...
__ADS_1