
...Hai, makasih ya buat kalian yang sudah baca sampai sejauh ini. Dan seperti apa yang aku bilang di part sebelumnya kalau di sana sudah aku tambah part-nya menjadi lebih panjang sedikit. Jadi buat kalian yang sudah baca semalam atau tadi pagi silahkan di buka lagi ya biar gak bingung.😁🙏...
...Happy reading 🥰...
...~...
Tok tok tok.
Dito mengetuk pintu rumah Rena yang masih tertutup rapat.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka, memperlihatkan wanita cantik yang berbalut dress selutut dengan lengan pendek bunga bunga, menambah kesan cantik bagi si pemakai.
"Hai." sapa Dito tak berkedip menatap Rena yang menurutnya sangat cantik pagi ini.
"Halo, yuk masuk." balas Rena mempersilahkan Dito masuk.
Dito pun masuk mengikuti Rena dan dia langsung duduk di kursi yang kayu yang ada di sana.
"Bentar ya, aku ambil tas dulu." ucap Rena pada Dito dan di angguki oleh Dito.
Rena pun pergi ke kamarnya untuk mengambil tas sekalian ganti sepatu juga.
"Dah yuk." ajak Rena setelah kembali.
"Yuk." balas Dito berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana kamu, cucian di belakang masih banyak?" suara seseorang dari belakang mereka berdua.
Rena dan Dito pun berbalik menatap wanita yang kira kira berumur 30 tahun tengah berkacak pinggang dan menatap tajam mereka berdua.
"Rena mau cuci darah bi." jawab Rena apa adanya.
__ADS_1
"Cuci darah? Dapat uang dari mana kamu, jangan jangan kamu ambil uang saya di kamar." tuduh ibu Tika.
Ya, seseorang itu adalah ibu Tika, tadi dia tengah bersiap di dalam kamarnya untuk ke acara arisan sama teman temannya jadi dia tidak tahu ada kedatangan tamu.
"Enggak Bu, Rena tidak mengambil uang ibu. Rena mendapatkan biaya pengobatan gratis dari orang yang baik jadi Rena tetap bisa melakukan cuci darah meskipun Rena tidak punya uang." jawab Rena dengan ramah dan sopan.
"Saya gak mau tahu kamu dapat uang dari mana, yang penting kamu harus selesaikan cuci baju di belakang itu. Dan jangan lupa masak buat saya."
"Lah, gimana sih nih nenek lampir, bukannya tadi tanya ya dapat uang dari mana. Ehh setelah di jawab malah katanya tidak peduli, dasar sinting." batin Dito yang sedari tadi hanya mengamati saja.
Dito tidak akan bergerak di saat Rena masih mampu mengatasinya. Tapi nanti kalau sampai tuh nenek lampir main tangan, jangan harap Dito akan diam saja.
"Iya Bu, nanti seleksi cuci darah Rena bakal masak sama cuci bajunya. Tapi kalau sekarang Rena gak bisa karena jadwal Rena cuci darah pagi ini." balas Rena masih dengan nada yang sopan dan lembut.
"Cuci darah bisa nanti, tapi baju di belakang itu sudah menggunung. Perut saya juga sudah lapar, cepat sana kamu masakin saya dulu. Cuci darahnya nanti aja." suruh ibu Tika dengan nada yang membentak.
"Baik bu." patuh Rena.
"Dit aku gak jadi dulu ya maaf, nanti lain kali kalau ada jadwal lagi aku kabarin kamu." ucap Rena meminta maaf pada Dito.
"Di jaga ya kalau bicara sama orang tua, gak sopan kamu. Saya buru buru mau pergi arisan, jadi saya gak ada waktu buat cuci baju. Nanti yang ada kuku saya jadi jelek lagi. Udah ya kamu pulang, gak usah ikutan masalah keluarga saya." balas ibu Tika mengusir Dito.
"Saya gak akan tinggal diam kalau itu menyangkut Rena, jadi saya bilangin sama ibu jangan pernah usik hidup Rena lagi atau ibu akan berhadapan dengan saya." ancam Dito.
"Emang kamu siapa berani beraninya ancam saya, dasar anak gak tahu sopan santun."
"Ibu ada cermin kan, sana ngaca saya atau ibu yang gak punya sopan santun. Dasar nenek lampir." balas Dito.
"Kamu...." marah ibu Tika sambil menunjuk Dito karena dia di katai nenek lampir.
"Apa hah, gak terima. Dasar nenek lampir, udah jelek banyak gaya lagi." ejek Dito lagi semakin membuat suasana semakin panas.
"Udah udah, ayo kita langsung pergi aja nanti keburu kesiangan. Dan ibu maaf Rena harus tetap pergi ke rumah sakit, karena Rena tidak enak sama orang yang sudah dengan rela membantu biaya pengobatan Rena kalau Rena tidak memakainya dengan baik." ucap Rena menengahi perdebatan antara Dito dan ibu Tika.
__ADS_1
Rena langsung menyeret Dito keluar dari rumahnya sebelum nanti Dito semakin berdebat dengan ibu tirinya.
"Awas kalian." ucap ibu Tika yang melihat kepergian Dito dan Rena.
Setelah itu ibu Tika kembali lagi ke kamar untuk menyelesaikan make up miliknya yang belum selesai tadi.
"Nih kamu makan dulu, aku tahu kamu pasti belum sempat makan tadi." ucap Dito menyodorkan bubur yang tadi dia beli pada Rena setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih ya, maaf sudah merepotkan kamu." balas Rena menerima pemberian Dito dan di balas senyuman manis oleh Dito.
Setelah itu Dito pun menjalankan mobilnya dan Rena pun mulai mencicipi bubur yang Dito belikan.
...**...
"ETHAN." pangil Richard dari dalam ruangan kerjanya di kantor.
"Iya tuan." jawab Ethan berlari menghampiri ruang kerja Richard.
"Apa jadwal saya setelah ini?" tanya Richard.
"Habis ini tuan akan meeting dengan perusahaan xxx membahas masalah kerjasama yang akan tuan lakukan dengan perusahaan berlian, dan di lanjut bertemu dengan klien di restoran merah putih sambil makan siang dan setelah itu tuan tidak ada jadwal di luar lagi." jelas Ethan membacakan jadwal Richard hari ini.
"Akhirnya...." lega Richard karena dia berencana untuk healing bersama pacarnya yang baru beberapa hari jadian.
"Tapi tunggu dulu tuan, memang anda tidak ada jadwal di luar, tapi di dalam kantor pekerjaan anda masih banyak. Tuan bisa lihat berkas berkas yang ada di meja samping anda, itu semuanya belum tuan periksa dan tanda tangani." lanjut Ethan membuat semangat Richard menurun drastis.
"Dahlah sana kamu pergi, bikin mood orang anjlok aja." usir Richard pada Ethan.
"Dengan senang hati saya akan pergi tuan, kalau begitu saya permisi dulu." balas Ethan dan langsung pergi dari sana.
Ethan malah senang kalau Richard mengusir dirinya, karena dengan begitu Ethan gak harus capek capek meladeni sifat tuannya yang amburadul itu.
"Sial*n." umpat Richard.
__ADS_1
Richard pun mulai membuka beberapa berkas yang ada di meja sampingnya. Mumpung jam meeting masih jauh jadi Richard harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar nanti bisa pergi bersama bebeb yayang.
...***...