
Pagi harinya, Richard yang baru saja membuka matanya langsung mencari keberadaan handphone miliknya. Dia segera mengaktifkan handphone yang dari semalam dia non aktifkan.
Kedua sudut bibir Richard tertarik saat membaca sebuah pesan dari seseorang yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
Selamat pagi sayang, nanti kalau saya ada waktu saya bakal jemput kamu buat jalan.
Isi balasan pesan Richard pada Diandra. Richard pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke kantor.
"Selamat pagi tuan." sapa Ethan yang melihat kedatangan Richard di ruang makan.
"Pagi juga." balas Richard dengan ramah.
Kening Ethan berkerut, ada apakah dengan tuannya saat ini. Bukankah semalam tuannya bersedih, lalu lihatlah sekarang kenapa malah kelihatan seperti tengah bahagia.
"Masak apa kamu pagi ini?" tanya Richard mengambil tempat duduk di hadapan Ethan.
"Saya tidak masak tuan, ini tadi saya beli di bawah." jawab Ethan dan hanya di tanggapi anggukan oleh Richard.
Mereka berdua pun sarapan dengan tenang, setelah selesai mereka langsung pergi menuju kantor.
"Ethan selesaikan tas yang aku desain semalam, nanti desainnya akan saya kirim ke email kamu." suruh Richard saat mereka dalam perjalanan menuju kantor.
"Baik tuan." balas Ethan.
"Dan untuk hiasannya nanti kamu ambil di markas, sudah saya siapkan di atas meja kerja saya."
"Baik tuan."
Tak berapa lama mereka pun sudah sampai di kantor cabang RH'G company yang berada di Indonesia. Richard langsung masuk ke dalam dan banyak karyawan kantor yang menyapanya.
"Selamat pagi tuan." sapa mereka pada Richard dan hanya di tanggapi deheman saja oleh Richard.
"Huh, untung saja tuan ganteng, coba kalau tidak sudah aku timpuk kepalanya pakai sepatu." gruntu karyawan perempuan Richard saat Richard tak membalas sapaannya.
"Kayak kamu berani saja, kalau aku sih gak masalah yang penting gaji tetap lancar." balas temannya.
"Iya juga sih."
"Pagi pagi sudah bergosip, kalian di sini di bayar untuk kerja bukan gosip." tegur Ethan dengan tegas saat melihat para karyawan tengah menggosipkan tuannya.
"Ma-maaf tuan." para karyawan pun langsung membubarkan dirinya dan melakukan pekerjaan mereka kembali.
__ADS_1
...**...
"Hoamm...." Diandra menguap sambil meregangkan otot-ototnya.
"Jam berapa sih ini, kok udah terang banget?" tanya Diandra pada dirinya sendiri.
Diandra pun melihat handphonenya untuk melihat jam.
"Ternyata emang udah siang sih." lanjutnya.
Melihat ada notifikasi masuk ke handphonenya, Diandra pun langsung membukanya.
"Hah, seriusan Richard nanti mau ngajak jalan lagi, jangan jangan nanti dia mau nembak gw lagi." girang Diandra.
"Pokoknya nanti gw harus tampil yang perfek, biar Richard makin klepek klepek sama gw." lanjutnya.
Diandra pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Diandra saat kepedean, padahal kan belum tentu nanti Richard ada waktu.
Selesai membersihkan tubuhnya Diandra pun memoles wajahnya dengan make up yang natural. Saat dia tengah memakai lipstik tiba tiba handphonenya berdering. Diandra pun langsung menggangkat nya.
'Halo Bu.' sapa Diandra saat tahu yang menelfon dirinya itu adalah ibu Tika.
'Halo nak, gimana kabar kamu di sana?' tanya ibu Tika basa basi.
'Alhamdulillah ibu baik, kalau adik kamu seperti biasa dia harus melakukan cuci darah. Malah sekarang harus satu Minggu dua kali, karena penyakit ginjal Rena makin hari semakin parah.' bohong ibu Tika.
'Astaga Rena, terus sekarang Rena di mana Bu?' tanya Diandra.
'Dia sekarang sedang istirahat. Seharusnya sekarang dia ada jadwal cuci darah, tapi karena uang kita lagi menipis maka ibu hanya menyuruh dia istirahat saja.' bohong ibu Tika lagi, padahal sekarang Rena tengah menyapu halaman rumah.
'Memang sekarang biaya cuci darahnya naik ya Bu, bukannya Diandra baru transfer uang beberapa hari yang lalu?' heran Diandra.
'Iya nak, biayanya naik, di tambah lagi sekarang obat yang di konsumsi Rena juga bertambah. Jadi pengeluaran juga bertambah.' jelas ibu Tika.
'Ya udah bu nanti Diandra transfer uangnya lagi ya, ibu harus tetap suruh Rena cuci darah soal biaya ibu gak perlu khawatir ibu bilang saja sama Diandra biar nanti Diandra transfer.'
'Kamu baik banget nak sama adik kamu, pasti di sana kamu kelelahan ya berkerja terus.'
'Ibu sudah menjadi tanggung jawab Diandra Bu, Diandra akan semangat lagi mencari pekerjaan sampingan agar Rena tetap bisa berobat.'
'Ya sudah nak, ibu matiin dulu telfonnya. Soalnya ibu mau cuci baju Rena dulu yang sudah menggunung.' pamit ibu Tika.
__ADS_1
'Iya bu, maaf sudah merepotkan ibu.'
'Enggak nak, ibu sudah mengganggap kalian seperti anak kandung ibu sendiri. Jadi kamu jangan merasa begitu ya.'
'Iya bu.'
Panggilan telefon pun berakhir. Diandra termenung sebelum mentransfer uang untuk ibu Tika. Diandra memeriksa saldo rekeningnya yang ternyata sekarang hanya tinggal liam juta saja.
"Hufft... harus cari uang kemana lagi ini." gumam Diandra.
Diandra pun langsung mentransfer uang empat juta untuk ibu Tika dan dia hanya menyisakan sedikit untuk biaya hidup dia di Jakarta.
...**...
Sementara itu, ibu Tika yang melihat notifikasi di handphonenya pun tertawa seneng.
"Dasar bodoh, gitu saja percaya." ucap ibu Tika dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Semua yang ibu Tika bilang ke Diandra itu semua hanyalah kebohongan yang dia buat. Biaya cuci darah tidak pernah naik selama ini. Dan juga obat Rena tidak ada tambahan. Apalagi soal cuci baju, bukan ibu Tika yang mencucikan baju Rena, tapi Rena lah yang mencucikan baju ibu Tika. Bahkan Rena juga yang membersihkan seluruh rumah dan memasak makanan untuk mereka makan.
Rena yang sedari tadi menguping pembicaraan ibu tirinya dan kakaknya pun menangis. Dia bingung harus bagaimana memberitahukan semuanya kepada kakaknya kalau selama ini ibu Tika sudah membohongi mereka.
"Pokoknya aku harus cari cara buat memberi tahu kakak kalau ibu tidak sebaik yang kakak kira." Gumam Rena.
Rena pun langsung beranjak pergi untuk mencuci baju sebelum nanti ibu Tika marah marah lagi kepadanya.
...**...
"Kak." pangil Dito saat melihat kakak iparnya yang akan berangkat ke rumah sakit.
"Iya Dit kenapa?" tanya dokter Fia.
"Penyakit gagal ginjal itu bahaya gak?" tanya Dito.
"Siapa ya kena gagal ginjal, kamu gak papa kan. Bilang sama kakak mana yang sakit biar kakak periksa?" heboh dokter Fia.
"Astaga kak, bukan Dito yang sakit tapi temen Dito." jengah Dito pada dokter Fia.
"Ooh temenmu, kakak kira kami yang sakit." cengir dokter Fia.
"Ada apa sih ini, pagi pagi udah ribut. Kamu juga tumben pagi pagi gini udah di sini?" tanya Doni yang baru saja turun dari lantai atas kamarnya.
__ADS_1
...***...