
"Silahkan kalian ke sini." suruh Richard.
Mereka berdua pun berjalan menghampiri Richard dengan tangan mereka yang masih di ikat ke belakang.
Mereka mulai berjongkok di hadapan Richard dan mulai mencium kaki Richard.
"Yang lama." perintah Richard.
"Baik tu... AAHH...." Erangan menggelegar di ruangan itu.
Bres.
Punggung mereka di sobek oleh Richard mengunakan parang yang baru saja dia ambil dari tangan Ethan.
Ethan yang melihat itu langsung memejamkan matanya, sedangkan ke empat teman mereka pun terkejut.
Bres bres bres.
Tanpa rasa kasian Richard langsung memenggal kepala mereka berdua satu persatu. Setelah memastikan mereka sudah tidak bernyawa barulah Richard menghentikan aksinya.
"Kalian berempat mau saya ginikan atau mau tetap hidup aman?" tanya Richard pada mereka berempat yang sudah ketakutan.
"Ma-mau hidup tu-an." balas mereka gagap.
"Kalau kalian mau tetap hidup, kerjakan perintah saya. Kalau kalian tidak mau silahkan tunggu giliran kalian habis ini." ucap Richard.
"Kami mau tuan."
"Bagus."
"Ethan ambilkan empat mangkuk beserta saos sambal." perintah Richard pada Ethan.
"Sekalian air yang mendidih." tambah Richard.
"Baik tuan." balas Ethan.
Ethan segera memerintahkan beberapa anak buahnya yang berada di sana untuk mengambilkan apa yang tuannya cari. Dan setelah mendapatkannya, Ethan langsung memberikannya pada Richard.
"Letakkan semua itu satu persatu si hadapan mereka. Dan lepaskan pengikat tali yang ada di tangan mereka." perintah Richard.
"Baik tuan."
Ethan di bantu oleh beberapa anak buahnya menjalankan perintah Richard. Setelah semuanya beres Richard mulai melakukan aksinya kembali.
"Kalian lihat ini." perintah Richard pada keempat orang itu untuk melihat ke arahnya.
Mereka pun langsung melihat ke arah Richard dan kedua temannya yang sudah tidak bernyawa lagi. Richard mulai menyayat tubuh mayat itu bergantian dengan sayatan yang sangat tipis hingga kulit mayat itu terkelupas.
Setelah mendapatkan satu mangkok irisan kulit serta daging dari keduanya mayat itu, yang kira kira kalau di timbang bobotnya bisa mencapai tiga kilo.
__ADS_1
Richard berdiri sambil membawa mangkuk itu dan berjalan ke arah mereka berempat.
"Bagikan secara rata pada mangkuk mereka." perintah Richard pada anak buahnya yang posisinya lebih dekat dengan Richard.
"Baik tuan." balas anak buah Richard dan langsung melaksanakan perintah Richard.
Keempat orang itu yang melihat irisan daging temannya pun rasanya ingin muntah. Daging yang masih bercampur darah itu sekarang sudah berada di mangkuk yang berada di hadapan mereka.
"Kalian sudah melihat apa yang ada di hadapan kalian bukan?" tanya Richard dan di balas anggukan oleh mereka.
"Jawab, saya tidak tuli untuk mendengarkan jawaban kalian." bentak Richard menatap mereka tajam.
"I-iya tuan." balas mereka.
"Bagus, sekarang kalian makan daging itu seperti kalian makan susi. Kalau kalian gak suka daging mentah kalian bisa memasaknya di air mendidih yang ada di hadapan kalian." perintah Richard yang membuat mata mereka semua melotot.
"Dan karena saya baik, saya juga sudah menyiapkan saos sambal untuk kalian."
"Silahkan menikmati makanan yang saya sajikan."
"Kalian harus menghabiskannya, kalau sampai tidak habis maka nasib kalian akan seperti itu." ucap Richard memerintah agar mereka menghabiskan daging teman temannya yang sudah meninggal yang tersaji di dalam mangkuk.
Mereka diam saja tak ada yang melakukan perintah Richard. Richard yang mulai geram dan haus darah pun tak ambil pusing langsung mengabaikan parang yang tadi di gunakan untuk membunuh.
Bres.
Sekarang yang hidup hanya tersisa tiga orang saja. Karena Richard barusan membunuh satu orang lagi.
"Ba-baik tuan."
Mereka bertiga pun mulai mengambil supit dan mulai mengambil daging yang ada di hadapan mereka dengan tangan gemetar.
"Huek."
"Jangan di keluarkan, atau kalian akan mati sekarang." ancam Richard.
Mereka pun mulai menelan daging dari tubuh teman mereka. Rasanya sangat aneh, ingin rasanya mereka menangis tapi mereka takut untuk berhadapan dengan Richard lagi.
"CEPAT HABISKAN, ATAU KALIAN AKAN MATI." Ancam Richard.
Dengan buru buru mereka menghabiskan daging daging itu hingga habis tak tersisa.
"Jilat darah yang ada di mangkuk itu hingga mangkuknya bersih seperti semula." perintah Richard lagi dan langsung di laksanakan oleh mereka.
Lihatlah mereka bertiga sudah seperti drakula yang haus akan darah. Mereka menjilati darah itu hingga mangkuk itu bersih.
Ethan yang melihat semua itu pun rasanya dia akan tiga hari atau bahkan satu Minggu tidak doyan makan. Ethan sangat heran kepada tuannya ini, kenapa bisa makan dengan enak setelah melakukan aksi seperti ini. Apakah tuannya itu tidak kepikiran? pikir Ethan.
"Dasar psikopat." batin Ethan.
__ADS_1
Setelah melihat daging serta darah itu habis, Richard pun tersenyum senang.
"Kerja bagus, sepertinya kalian sudah tak bisakah hidup lagi. Karena kalau saya membiarkan kalian tetap hidup kalian akan membocorkan semua ini." ucap Richard.
"Tuan mau apa?" panik mereka bertiga saat melihat Richard mendekat sambil membawa parang.
"Menurut kalian?" balas Richard sambil menarik sebelah sudut bibirnya.
"Jangan tuan, jangan bunuh kami. Kami janji akan tutup mulut." mohon mereka.
Telinga Richard sudah tuli oleh permohonan mereka. Yang ada di pikiran Richard kali ini hanya membunuh membunuh dan membunuh. Tangan Richard sudah gatal karena selama berada di Indonesia dia tidak bisa bebas membunuh orang sembarang. Jadi mumpung ada di sini Richard akan sering sering membunuh orang agar dia merasa puas.
"Jangan tuan kami mohon." mohon mereka.
"KYAA...."
Bres bres bres.
Kepala tiga orang itu mengelinding di lantai ruangan itu.
"HAHAHAHA...." tawa kepuasan Richard menggelegar memenuhi ruangan itu.
Para anak buah yang mendengar itu pun bergidik ngeri. Mereka semakin takut untuk mencari gara gara sama Richard.
"Kalian semua bereskan mereka. Ethan ayo pergi." ucap Richard dan segera berlalu pergi dari sana di ikuti Ethan.
"Bereskan semua tanpa ada jejak." ucap Ethan mengulangi perintah tuannya.
"Baik tuan." balas mereka.
Setelah kepergian Richard dan Ethan, mereka pun langsung menjalankan perintah Richard. Mereka membereskan mayat mayat itu dan akan membuangnya ke lautan yang di penuhi hiu di bawahnya.
...**...
"Damainya hidup ini." gumam Diandra menikmati hidupnya yang damai.
"Kalau hidup gw terus terusan seperti ini, gak bakal bakal lagi deh gw capek capek nipu nipu orang lagi." lanjutnya.
"Kok Richard belum hubungi aku lagi ya setelah kemaren siang?" heran Diandra.
"Diandra pun membuka handphonenya dan memang benar belum ada notifikasi panggilan dari nomor Richard.
"Kenapa ya dia kok belum hubungi gw, masakan iya dia marah."
...***...
Seru gak sih cerita ini, kok kalian gada yang komen apa gitu 😁
komen dong biar aku tahu gimana cerita yang aku buat ini, seru gak menurut kalian???
__ADS_1