Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#85


__ADS_3

Hari pun berganti, sekarang Rena sudah di perbolehkan pulang, dan soal hubungan Richard dan Diandra masih tetap sama, Diandra tidak mau berbicara pada Richard.


"Kamu pulang ke rumah kakak ya." pinta Andrew.


"Enak aja, dia ikut aku pulang ke apartemenku." sanggah Richard tak terima.


"Lah aku kan kakaknya jadi Rena ikut aku lah." balas Andrew.


"Tapi aku Abangnya jadi dia ikut aku." balas Richard tak mau kalah.


"Udah Rena ikut aku aja pulang ke kontrakan, yuk dek pergi sama kakak aja." sela Diandra menggandeng tangan Rena keluar dari ruangan Rena.


Rena pun hanya menurut saja, dia bingung harus ikut yang mana. Sebenarnya sih Rena kepingin ikut sama Dito, cuma udah beberapa hari ini Dito tidak mengunjunginya ke rumah sakit, katanya sih pekerjaannya tidak bisa di tinggal.


Jadi ya mau tak mau Rena harus ikut di salah satu dari mereka."Loh, sayang kamu kan ikut aku pulang ke apart, jadi berarti Rena juga ikut pulang ke apartemen aku." balas Richard.


"Tidak, aku pulang ke kontrakan bukan ke apartemen kamu." balas Diandra.


"Jiahkk, kasian di tolak." ledek Andrew.


Richard tak memperdulikan Andrew, dia sibuk merayu Diandra agar mau ikut pulang bersama Richard.


"Sayang plis ya kamu ikut pulang sama aku, emang kamu tega biarin aku tidur sendirian." mohon Richard.


Diandra tak memperdulikan Richard, dia tetap berjalan memang ke depan tak menoleh ke belakang sedikitpun.


"Rasain." ledek Andrew lagi dan dia pun segera menyusul Diandra dan Rena.


"Kalian berdua tinggal di apartemen aku aja ya, biar aman." ucap Andrew pada Diandra dan Rena.


"Maaf tuan, aku sama Rena mau pulang ke kontrakan aja." tolak Diandra dengan halus.


"Rena, apa kamu gak mau tinggal sama kakak, kamu gak kasian sama kakak yang tinggal sendiri." rayu Andrew pada Rena.


"Aku ikut kemana kak Dian pergi saja kak." balas Rena.


"Tuh, Diandra kamu ikut aku aja ke apartemen, lagian nanti di apartemenku kamu akan aman dari si bucin itu. Kalau kamu tetap tinggal di kontrakan kamu, pasti dia akan lebih sering mengunjungi kamu di sana." rayu Andrew pada Diandra.


Diandra menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Richard sebentar dan setelah itu dia kembali menatap Andrew.


"Ya udah boleh aku ikut tuan Andrew saja." final Diandra.


"Yes, aku menang." senang Andrew.

__ADS_1


"Sayang kamu kok gitu sih, kamu tega biarin aku sendirian." Richard mencoba merayu Diandra.


Diandra diam tak menjawab ucapan Richard, bahkan Diandra engan menatap ke arah Richard.


"Ayo kita langsung pergi, nanti kalau siang keburu macet." ajak Andrew.


Diandra, Rena dan Andrew pun pergi meninggalkan Richard yang masih diam di sana.


"Ethan apakah kamu tahu ada berapa kamar di apartemen Andrew?" tanya Richard akad Ethan.


"Setahu saya ada tiga tuan, dan yang satunya lagi itu milik Elina." jawab Ethan.


"Hufft... beli apartemen yang dekat dengan apartemen Andrew." perintah Richard pada Ethan.


"Baik tuan." balas Ethan.


Richard langsung berjalan menuju mobilnya, dia akan mengikuti kemana mobil Andrew membawa wanitanya dan juga adiknya.


"Dasar tuan bucin." gumam Ethan dan langsung pergi menyusul Richard yang sudah masuk ke dalam mobil.


Ethan membawa mobil Richard dengan Richard yang duduk di sampingnya. Mereka berdua mengikuti mobil Andrew yang sudah melaju membawa Diandra dan juga Rena.


Sementara itu di dalam mobil Andrew, dia duduk di samping kemudi dengan Elina yang menyetir mobil Andrew.


"Ya kan dia kerja sama kakak, jadi ya terserah kakak dong." balas Andrew.


"Ya tapikan gak lucu kak, emang kakak mau nanti di bilang laki laki banci karena ngebiarin cewek yang bawa mobil sedangkan kakak duduk anteng di sana."


"Maaf nona, tapi memang sudah biasa saya yang bawa mobil." sahut Elina yang merasa tidak enak dengan Andrew.


"Tuh kamu denger sendirikan, lagian juga mana berani orang orang bilang seperti itu sama kakak." timpal Andrew.


"Ya sudah terserah kakak saja, tapi nanti jangan salahin Rena kalau ada orang yang bilang kalau kakak itu banci." balas Rena.


"Udah biarkan saja, kalau itu terjadi juga nanti yang malu dia bukan kita." timpal Diandra.


Andrew diam saja yang mengidahkan mereka berdua, tak berapa lama tiba tiba mobil mereka berhenti di lampu mereka.


"Cangcimen cangcimen." ucap penjual asongan yang berjualan di lampu merah.


"Mas beli." teriak Diandra membuka kaca jendela mobil bagian belakang tepat di mana dia duduk.


"Kakak mau beli apa?" tanya Rena.

__ADS_1


"Mau beli kacang atom." jawab Diandra.


"Kacangnya berapa mas?" tanya Diandra pada penjual asongan yang sudah berdiri di samping Diandra.


"Lima ribu mbak." jawab penjual asongan.


"Saya mau empat ya mas." balas Diandra dan penjual itupun langsung mengambilkan empat bungkus kacang atom pada Diandra.


"Tuan Andrew yang terhormat, saya pinjam uangnya ya, soalnya saya gak bawa uang." ucap Diandra pada Andrew tanpa rasa malu.


"Idih, udah tahu gak bawa uang masih aja beli." cibir Andrew tapi tak urung dia tetap membayar kacang milik Diandra.


"Berapa mas?" tanya Andrew pada penjual asongan yang sudah berdiri di samping Andrew.


"Dua puluh ribu mas." balas penjual asongan itu.


Andrew pun mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan langsung memberikannya pada penjual asongan itu.


"Tambahin dua mas nanti kembaliannya ambil aja." udah Andrew.


"Ini mas, terimakasih ya."


"Oh iya mas, masnya gak bisa bawa mobil ya kok ceweknya yang bawa." lanjut penjual asongan itu sambil menunjuk Elina yang tengah memperhatikan lampu mereka yang sebentar lagi akan berganti hijau.


"Kau...." tunjuk Andrew pada penjual itu yang langsung pergi dari sana karena takut Andrew akan mengambil uang kembaliannya lagi.


"Hahahaha...." tawa Diandra dan juga Rena.


"Belum juga sepuluh menit Rena bilang seperti itu, ehh udah ada yang ngatain." ucap Rena sambil menahan tawanya karena bekas operasinya terasa perih kalau buat gerak.


"Benar deh, dan apa yang kakak bilang tadi benar, yang malu pasti tuan Andrew sendiri." setuju Diandra.


"Diam kalian berdua, Elina sini tukar tempat biar saya yang bawa." ucap Andrew kesal.


"Tapi tuan...."


"Sudah cepat sebelum lampunya jadi ijo, kamu mau liat saya di ledek seperti tadi." potong Andrew.


Elina pun akhirnya keluar dari mobil dan berputar berganti tempat duduk dengan Andrew.


Tepat saat Elina baru duduk di jok mobil lampu mereka sudah berganti dengan hijau, dan Andrew pun segera melajukan mobilnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2