
"Ini apa?" tanya Rena.
"Ini syarat dari aku, aku tidak menerima penolakan lagi. Emang kamu gak mau hubungi kakak kamu." paksa Dito memberikan secara paksa handphone pada Rena.
"Tapi ini terlalu mahal, apalagi aku tahu ini keluaran terbaru." Rena akan mengembalikan handphone di tangannya pada Dito tapi Dito langsung menahannya.
"Stop, aku gak suka kamu kayak gini. Kakak kamu emang benar melarang kamu agar tidak menerima pemberian orang sembarang. Tapi ini kasusnya beda Rena. Kamu lagi membutuhkan ini, emang kamu gak kasian sama kakak kamu yang capek capek kerja buat kamu ehh taunya malah di tipu sana ibu kamu."
Dito menatap Rena dengan serius sehingga membuat Rena takut.
"Aku tahu kamu gak enak sama aku karena aku bukan siapa siapa kamu. Kalau kamu takut itu mulai sekarang kamu jadi pacar aku." ucap Dito tegas.
Rena mendongakkan matanya menatap mata Dito untuk mencari kebohongan di mata Dito.
"Aku serius, aku memang suka sama kamu mulai awal kita bertemu. Aku pernah bilang sama kamu waktu itu, tapi dulu kamu bilang kita baru kenal. Dan sekarang kita udah kenal lumayan lama meskipun belum ada setengah bulan tapi aku mau mengikat kamu sebagai kekasihku." lanjut Dito.
"Aku, aku...." Rena bingung harus menjawab apa.
Mau menerima Rena belum ada perasaan sama Dito. Di hatinya cuma ada rasanya nyaman saat berada bersama Dito, tapi cuma itu tidak ada rasa spesial di hatinya untuk Dito saat ini.
"Aku tahu kamu masih belum ada perasaan sama aku, dan aku janji akan buat kamu jatuh cinta sama aku."
"Mau ya kamu jadi pacar aku." lanjut Dito.
"Aku gak tahu harus jawab apa, terimakasih sudah baik sama aku. Aku memang merasa nyaman saat bersama kamu. Bahkan tidak ada orang lain yang memperlakukan aku dengan baik seperti kamu selain kak Dian."
"Jadi...." ucap Dito menunggu Jawa dari Rena.
"Iya aku akan mencoba jadi pacar kamu." balas Rena.
mendengar dirinya di terima Dito langsung berhambur memeluk Rena.
"Makasih, makasih sudah mau menerima orang seperti aku. Aku janji akan buat kamu bahagia dan akan selalu ada untuk kamu apapun yang terjadi nanti." ucap Dito di pelukan Rena.
"Aku yang seharusnya mengucapkan itu ke kamu. Makasih sudah baik sama aku, makasih sudah suka sama aku. Dan maaf karena aku belum bisa membalas perasaan kamu saat ini." balas Rena.
"No, kamu tidak perlu mengucapkan itu, karena itu memang sudah menjadi tugas aku. Meskipun sampai nanti kamu tidak membalas perasaanku juga tidak apa apa, asal kamu berada di dekatku saja itu sudah membuat aku senang." balas Dito.
Mereka berpelukan beberapa menit sebelum Dito melepaskannya.
"Kamu mau pulang atau nginap di sini?" tanya Dito menatap Rena.
__ADS_1
"Aku mau pulang aja, nanti kalau aku gak pulang ibu pasti nyariin." jawab Rena.
"Ya udah ayo siap siap, aku antar kamu mumpung belum malam." ajak Dito.
Setelah bersiap sekarang mereka sudah berada dalam perjalanan menuju rumah Rena. Dito memakirkan mobilnya di tempat biasa.
"Aku antar sampai rumah kamu ya." ucap Dito berniat untuk mengantarkan Rena sampai di depan rumahnya.
"Ehh gak usah, ini sudah malam sebaiknya kamu pulang saja." tolak Rena.
"Ya udah kamu hati hati ya, ingat nanti kalau sama ibu kamu di suruh bersih bersih jangan mau."
"Iya, makasih ya sudah antar aku sampai rumah. Dan makasih juga buat semuanya." ucap Rena di balas anggukan dan senyuman dari Dito.
"Aku keluar dulu ya." pamit Rena akan keluar dari mobil.
"Ehh tunggu." tahan Dito.
"Ada apa?" tanya Rena.
"Eemm... aku boleh minta ini gak?" tanya Dito menyentuh bibirnya.
"Ini di luar, nanti ada orang yang lihat."
Klek.
Dito mematikan lampu yang ada di dalam mobil dan langsung menyambar bibir Rena tanpa permisi terlebih dahulu.
Rena yang kaget pun melorotkan matanya dan terdiam kaku.
Dito yang merasa tidak ada perlawanan pun mengigit bibir Rena dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Rena yang merasa nafasnya sudah menipis pun memukul dada Dito agar melepaskan ciuman mereka.
Nafas mereka terengah-engah sambil kening mereka yang bersatu.
"Selamat malam sayang, sampai jumpa besok." ucap lirih Dito sebelum melepaskan kening mereka.
Cup.
"Terimakasih." ucap Dito setelah mencuri ciuman lagi dari Rena.
__ADS_1
Pipi Rena semakin bersemu merah dan Dito yang melihat itu pun semakin tak rela jika harus berpisah dari Rena.
"Aku keluar dulu." ucap Rena dan cepat cepat keluar dari sana karena jantungnya sudah tidak bisa di kontrol lagi.
"Hahahaha." tawa Dito yang tahu kalau Rena tengah malu.
"Lihatlah kucing kecilku kalau lari sangat menggemaskan sekali." monolog Dito yang melihat Rena berlari kecil menjauh dari mobilnya.
Setelah memastikan Rena belok ke arah rumahnya Dito pun menginjak pedal gas mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
...**...
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Diandra dan Richard masih berada di dalam ruangan milik Richard.
Richard harus lembur untuk mengerjakan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena dia tinggal tidur. Sedangkan Diandra memutuskan untuk menemani Richard di sana.
Keadaan kantor sudah sepi karena semua karyawan sudah pada pulang. Terutama Ethan, dia sudah kembali ke apartemennya yang baru dia tempati beberapa hari lalu.
Jadi mereka aman kalau mau berbuat sesuatu. Seperti contohnya sekarang Diandra yang duduk di pangkuan Richard dan Richard yang fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Kamu gak bosen ya liat angka angka gitu?" tanya Diandra yang sudah mulai bosen.
Karena memang sudah satu jam lebih dia berada di pangkuan Richard. Sebenarnya sih Diandra mau pindah dari sana karena takut kalau Richard pegel. Ehh malah sama Richard di tahan, katanya sih Richard nyaman kalau Diandra berada di pangkuannya.
"Sebenarnya bosen sih, cuma mau bagaimana lagi memang ini pekerjaan ku." jawab Richard.
"Berapa gaji kamu sehari?" tanya Diandra penasaran.
"Gaji?" Richard mengalihkan pandangannya dari berkas berkas yang ada di meja hadapannya ke arah wajah Diandra.
"Iya, gaji kamu."
"Kan aku yang memberikan gaji pada mereka, lalu siapa yang akan memberikan aku gaji?" balik tanya Richard.
Diandra diam memikirkan perkataan Richard. Benar juga ya, kan di sini Richard bos nya lalu siapakah yang harus memberikan gaji pada Richard.
"Kenapa diam hmm?" tanya Richard menarik pinggang Diandra agar semakin menempel pada tubuhnya.
Diandra yang merasa tidak nyaman pun perlahan mengerakkan pinggulnya agar tidak terlalu menempel pada badan kekar Richard.
"Ahh."
__ADS_1
...***...