Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#61


__ADS_3

"Terus kamu mau apa hmm, mau nambah lagi? Ya ayo aku juga siap kok." balas Richard malah menggoda Diandra.


"Kamu apaan sih, mesum mulu otaknya." kesal Diandra.


"Ya biarin, namanya juga otakku." balas Richard santai.


"Udah ahh sana, aku mau mandi."


"Mandi ya mandi aja gak usah bilang bilang, ooh atau jangan-jangan kamu mau aku mandiin ya." goda Richard.


Diandra berdiri dihadapan Richard dan..


"Auww...." ringis Richard karena Diandra menginjak kakinya dengan sangat keras.


"Rasain." ucap Diandra dan segera berlari dari sana sebelum Richard menangkapnya.


"Sayang kamu berani ya sama aku, awas nanti kamu aku kasih pelajaran." teriak Richard sambil memegangi kakinya yang terasa sakit.


"Bodo." balas Diandra dengan berteriak juga.


"Awas aja kamu nanti, akan aku buat kamu gak bisa jalan selama seminggu." gumam Richard dengan seringai jahatnya.


Richard pun pergi menyiapkan dirinya, karena sehabis ini dia juga akan ikut ke rumah sakit untuk melihat hasil pemeriksaan ginjalnya dengan ginjal Rena apakah cocok atau tidak.


...**...


Mereka sudah berada di rumah sakit, dengan Diandra yang pergi ke ruangan Rena dan Richard yang pergi menemui dokter yang tadi memeriksanya.


"Permisi dok." ucap Richard setelah membuka pintu ruangan dokter itu.


"Ehh taun Richard, mari tuan silahkan masuk." balas dokter itu mempersilahkan Richard untuk masuk.


"Gimana hasilnya dok, apakah hasilnya cocok?" tanya Richard penasaran.


"Ini hasilnya tuan, tuan bisa membacanya sendiri." jawab dokter itu menyerahkan amplop yang berisi keterangan kecocokan ginjal dia dan Rena.

__ADS_1


Richard pun menerimanya dan langsung membuka isi dari amplop itu. Perlahan Richard mulai membuka kertas yang terlipat itu dan mulai membacanya dengan teliti agar tidak ada yang terlewat sedikitpun.


"Ini berarti ginjal saya dengan Rena tidak cocok dok?" tanya Richard setelah membaca isi dari kertas itu.


"Benar tuan, kecocokan ginjal anda dan nona Rena hanya 8% saja. Dan itu sangat jauh dari rata rata." jelas dokter itu.


"Kenapa bisa seperti itu dok, Rena kan adik kandung saya?" bingung Richard sekaligus tak percaya.


"Hal ini biasa terjadi, bisa jadi ginjal anda sama dengan ayah anda dan milik nona Rena sama dengan ibu anda, atau sebaliknya." jelas dokter itu.


(Btw ini semua aku ngarang ya, jadi kalau tidak masuk akal harap di maklumi aja karena ini berada dalam dunia halu 😁)


Richard pun terdiam dan berfikir harus mencari donor kemana lagi, bahkan punya dia yang statusnya sebagai saudara kandung saja tidak cocok, apalagi orang lain yang bahkan tidak ada ikatan darah sama Rena.


"Terus ini harus gimana dok, saya bingung harus mencari pendonor siapa lagi." lesu Richard.


Dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk di periksa ginjalnya tapi tak ada satupun di antara mereka yang cocok dengan punya Rena.


"Mungkin ada saudara dari tuan yang lainnya, atau saudara dari ibu atau ayah tuan?" tanya dokter itu dan Richard membalasnya dengan gelengan kepala.


"Tuan yang sabar, saya yakin pasti nanti akan ada salah satu dari orang yang ada di dunia ini yang cocok dengan nona Rena. Tuan banyak banyak berdoa saja semoga nona Rena segera mendapatkan donor ginjal yang cocok untuk dia." balas dokter itu menenangkan Richard.


"Kalau gitu saya pamit pergi dulu dok, nanti saya akan kembali lagi kalau ada yang mau memberikan ginjal mereka dengan Rena." pamit Richard.


"Baik tuan, saya dengan senang hati akan membantu tuan." balas dokter itu.


Richard pun pergi dari sana sambil tangannya membawa amplop yang berisi kertas tadi. Richard pergi dari rumah sakit menuju markas untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Richard meninggalkan Diandra di rumah sakit, karena kata Diandra dia akan menginap di sana menemani Rena. Karena dia kasian kalau Dito yang harus ada di sana terus.


Richard pun mengijinkannya saja, maka dari itu dia juga akan menginap di markas saja dari pada nanti pulang ke apartemen dan ingat dengan Diandra.


Kalau di markas kan dia bisa melupakan Diandra sejenak dengan menyibukkan dirinya dengan berbagai macam kerjaan yang ada di sana.


Sampai di sana dia melihat ada dompet yang sudah dia buat berada di atas meja kerjanya.

__ADS_1


"Oh iya aku sampai lupa, aku kan mau kasih ini ke Diandra." ucap Richard dan menggambil dompet itu.


Richard meletakkannya di tempat yang mana nanti saat dia akan pulang melihatnya jadi agar tidak tertinggal lagi di sana.


Setelah memastikan dompet itu sudah aman.


Richard pun mulai mengerjakan pekerjaannya. Bulan depan Richard akan melaunchingkan produk tas terbaru dari RH bag, jadi dia harus mulai jauh jauh hari untuk mendesainnya.


"Kayaknya launching tas anak kecil oke juga, kan selama ini RH bag belum ada produk buat anak anak." monolog Richard setelah memikirkan ide apa yang ada dia buat.


Richard pun mulai membuat sketsa terbaru dan setelah itu dia langsung membuat desainnya agar nanti cepat di produksi.


Karena yang Richard baca baca, produk anak anak itu akan laku keras, karena kebanyakan para orang tua akan berlomba-lomba dalam memberikan yang terbaik untuk anak mereka.


Jadi meskipun nanti harganya selangit mereka akan tetap membelinya. Apalagi kekuatan anak kecil itu sangat bisa mempengaruhi orang tua mereka untuk membelikan barang yang mereka inginkan dengan cara merengek.


Jadi sudah Richard pastikan kalau nanti waktu hari pertama launching akan langsung ludes.


...**...


Sekarang keadaan ibu Tika sudah hidup enak, dia sudah menjual rumah Diandra dan membelikannya rumah baru yang jauh lebih bagus.


Setelah kepergian Rena itu menjadi kesempatan ibu Tika untuk menguasai rumah Diandra. Bahkan dia juga merasa sangat senang karena Diandra mengirimkan uang yang jauh lebih banyak lagi pada dirinya setelah kepergian Rena.


Apalagi sekarang dia sudah menjadi bandar judi yang banyak memiliki anggota, hal itu semakin membuat hartanya bertambah berkali kali lipat.


"Hah, enaknya hidup ini." ucap ibu Tika merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk tidak seperti ranjangnya dulu saat di rumah Diandra.


"Coba aja kalau dari dulu aku ikut judi, pasti aku tidak akan repot repot untuk membuang tenagaku memeras Diandra." Monolog ibu Tika.


Ibu Tika seakan-akan lupa kalau dia ikut judi itu juga menggunakan uang dari Diandra. Padahal kalau bukan karena Diandra dia mungkin tidak akan bisa hidup semewah ini.


Karena uang Diandra lah dia bisa ikut judi. Dan sekarang dia malah bilang seperti itu. Mungkin kalau Diandra tahu dia akan mengomeli habis habisan di hadapan ibu Tika.


...***...

__ADS_1


__ADS_2