Si Penipu Pacar Tuan Psikopat

Si Penipu Pacar Tuan Psikopat
SPPTP#60


__ADS_3

Saat ini Richard tengah berada di dalam sebuah ruangan yang masih satu rumah sakit dengan Rena. Richard berencana untuk mendonorkan ginjalnya buat Rena. Jadi sekarang Richard tengah melakukan pemeriksaan terhadap ginjalnya apakah cocok dengan milik Rena atau tidak.


"Untuk hasilnya paling cepat akan keluar satu jam lagi tuan, mohon di tunggu." ucap dokter yang menangani Richard.


"Baik dok, nanti kalau hasilnya sudah keluar dokter panggil saya saja di ruangan adik saya." balas Richard.


"Baik tuan."


Setelah itu Richard pun pergi menuju ruangan Rena kembali. Richard masuk ke dalam sana tapi keadaan di dalam ruangan Rena sangat sepi tidak ada orang sama sekali.


"Kemana mereka?" gumam Richard dan menutup pintu ruangan Rena kembali setelah dirinya masuk.


"Kamu bisa jalan sendiri kan?" suara yang sangat Richard hafal, Richard pun menghampiri asal suara tersebut dan dia melihat ada Diandra yang tengah berusaha membantu Rena keluar dari kamar mandi.


"Kenapa gak pakai kursi roda aja sih, sini aku gendong." ucap Richard dan langsung menggendong Rena, sedangkan Diandra memegang infus Rena.


"Kursi rodanya gak ada di sini, tadi aku mau ambil kelamaan soalnya Rena sudah gak tahan pengen buang air kecil." balas Diandra.


Richard membaringkan Rena kembali di tempatnya, dan setelah itu dia membantu Diandra untuk membenarkan infus Rena karena darahnya naik.


"Tuh lihat darahnya sampai naik." ucap Richard menunjuk selang infus Rena.


"Ya ini emang sudah biasa, kamu aja yang baru lihat." sinis Diandra.


"Kamu kok sinis gitu sih yang, aku kan...."


"Permisi." ucap seseorang menghentikan ucapan Richard.


"Kebetulan kamu sudah datang, saya mau ajak Diandra jalan jalan dulu jadi saya minta tolong kamu buat jaga adik saya sebenar bisa kan?" tanya Richard pada Dito.


"Dengan senang hati kakak ipar, emang kakak ipar mau kemana?" balas Dito.


"Saya ada urusan sebentar."


"Dek Abang sama kak Dian pergi dulu ya, nanti malam kita ke sini lagi."lanjut Richard pamit pada Rena.


"Iya bang." balas Rena.


"Emang kita mau kemana sih?" tanya Diandra, pasalnya dia tidak tahu apa apa.


"Udah kamu ikut aja, nanti kamu juga tahu." balas Richard.


"Abang pergi dulu ya, yuk yang kita pergi." Richard menggandeng tangan Diandra.

__ADS_1


"Hati hati kak, bang." balas Rena.


Mereka berdua pun pergi menuju parkiran mobil dengan tangan Richard yang menggenggam erat tangan Rena.


"Kamu mau ajak aku kemana sih?" penasaran Diandra.


Richard diam saja tak menjawab pertanyaan Diandra, hal itu membuat Diandra kesal sendiri. Sehingga dia memilih untuk diam saja tak bertanya lagi.


Sampai di parkiran, Richard langsung membukakan pintu mobil untuk Diandra dan mempersilahkan Diandra untuk masuk. Setelah Diandra masuk, Richard berlari memutari mobil untuk masuk ke jok kemudi sampai jok yang Diandra tempati.


"Kamu mau ajak aku kemana sih?" tanya Diandra yang begitu penasaran.


"Pulang ke apartemen." jawab Richard singkat.


"Hah, mau ngapain?" heran Diandra.


"Biasalah main, punya ku udah meronta ronta dari tadi. Nih lihat." tunjuk Richard pada bagian bawahnya.


"Gilak ya, kamu mesum banget." tak habis pikir Diandra.


"Aku mesumnya cuma sama kamu yang, aku juga nafsu cuma sama punya kamu doang." balas Richard.


Diandra tak lagi menanggapi ucapan Richard, dia sangat heran dengan Richard. Apakah dia tidak bosen main terus terusan. Apa semua laki laki seperti Richard? Entahlah Diandra tidak tahu, tapi bisa jadi iya.


"Aku langsung masukin ya yang." pinta Richard setelah sampai di dalam unit apartemennya.


"Jangan gila deh, itu sakit banget nanti." tolak Diandra.


"Aaa... sayang, ini udah keras banget." rengek Richard.


Pasalnya miliknya memang sudah mengeras sedari tadi.


"Ya udah tapi pelan pelan."


"Yes, makasih sayang." senang Richard.


Richard langsung menarik rok Diandra ke atas dan melepaskan ****** ******** dan begitupun dengan dirinya. Dan langsung saja Richard memasukkan adiknya ke sarangnya dan terjadilah apa yang biasa Richard dan Diandra lakukan.


...**...


Elina dan Andrew saat ini tengah menuggu kedatangan ibu tika di sebuah tempat yang sangat sepi dan jauh dari keramaian.


"Kamu benar dia akan ke sini, bagiamana kalau sampai dia membohongi kita?" tanya Andrew pada Elina.

__ADS_1


"Benar tuan, dia tidak mungkin berbohong karena kalau sampai hal itu terjadi saya sendiri yang akan memberikan pelajaran buat dia." jawab Elina yakin.


Mendengar itu Andrew pun diam, dia percaya dengan asistennya ini. Karena apapun yang asistennya ini lakukan pasti tidak pernah gagal sebelumnya.


"Itu dia tuan." ucap Elina menunjuk pada ibu Tika yang berjalan menghampiri mereka berdua.


"Maaf saya telat tuan, nona." ucap ibu Tika saat sampai di hadapan Elina dan Andrew.


"Hmm." balas Andrew.


"Kami sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk anda, anda bisa melihatnya nanti akan saya kirimkan alamatnya. Dan mohon untuk tandatangani surat kerjasama ini, agar suwaktu waktu jika terjadi sesuatu ada tanda serah terimanya." jelas Elina menyodorkan satu buah map kepada ibu Tika.


"Terimakasih tuan, nona karena sudah menerima tawaran saya." ucap ibu Tika senang karena kerjasama yang dia ajukan ternyata di setujui oleh mereka berdua.


"Ingat, keuntungan kita bagi dua." ucap Andrew mengingatkan ibu Tika.


"Pasti tuan, kalau begitu saya izin pamit terlebih dahulu sebelum ada yang melihat kita tuan." pamit ibu Tika.


"Hmm." balas Andrew.


Ibu Tika pun pergi dari sana dengan membawa map serta kamar yang sangat baik. Bagaimana tidak, dia bisa berkerjasama dengan pengelolaan judi ternama di Amerika, jadi sudah di pastikan nanti dia akan bisa dekat dengan Andrew dan bisa meminta minta sesuatu pada Andrew.


"Apakah kita pergi sekarang tuan?" tanya Elina.


"Iya, ayo kita pergi." balas Andrew.


Mereka berdua pun pergi menuju mobil yang Elina sembunyikan di suatu tempat yang aman agar tidak ada yang curiga.


...**...


"RICHARD...." teriak Diandra geram.


Pasalnya Richard main tadi dengan membabi-buta sehingga sekarang membuat dirinya kesusahan untuk berjalan.


"Iya sayang ada apa hmm?" balas Richard yang baru keluar dari kamar mandi dengan santai.


"Pakai tanya kenapa lagi, kamu tahukah kalau kita harus ke rumah sakit untuk menemui Rena lagi. Dan sekarang lihat itu sudah jam berapa. Pasti sekarang jam besuknya sudah habis." cerocos Diandra marah.


"Ya salah kamu sendiri kenapa malah tidur bukannya siap siap pergi ke rumah sakit." balas Richard santai.


"Itu semua gara gara kamu, coba kalau kamu gak buat aku capek pasti aku gak akan ketiduran." balas Diandra tak mau kalah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2